Saat Anak Melanggar Hukum: Bagaimana Psikologi Forensik Menilai Mental dan Masa Depan Mereka

JEJAKFORENSIK.COM – Psikologi forensik punya peran yang cukup krusial dalam sistem peradilan anak, terutama untuk memahami kondisi mental, perkembangan cara berpikir, serta perilaku anak yang terlibat tindak pidana.

Kajian ini melihat bagaimana psikologi forensik bertemu dengan isu kenakalan remaja, dengan fokus pada proses penilaian dan evaluasi psikologis terhadap pelaku usia muda. Kenakalan remaja sendiri biasanya tidak berdiri sendiri, tapi dipengaruhi banyak hal, mulai dari gangguan mental, belum matangnya kemampuan berpikir, sampai faktor lingkungan. Hal ini membuat penanganannya tidak bisa disamakan dengan orang dewasa.

Dalam praktiknya, psikolog forensik menggunakan berbagai alat dan pendekatan untuk menilai kondisi mental, mengidentifikasi gangguan perkembangan, serta memperkirakan kemungkinan anak mengulangi perbuatannya.

Dengan memahami bagaimana otak dan cara berpikir remaja berkembang, pendekatan yang diambil cenderung lebih menekankan pemulihan dibanding hukuman. Bentuk intervensinya bisa berupa terapi kognitif-perilaku maupun pendekatan berbasis keluarga.

Tulisan ini membahas teori-teori utama, metode diagnosis, aspek etika, serta pengaruh evaluasi psikologis terhadap kebijakan peradilan anak. Intinya, penanganan kenakalan remaja perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan mereka.

Psikologi forensik adalah cabang ilmu yang menggabungkan prinsip psikologi ke dalam sistem hukum, terutama untuk memahami perilaku kriminal, proses hukum, dan upaya rehabilitasi. Salah satu fokus pentingnya adalah kenakalan remaja, yaitu tindakan melanggar hukum yang dilakukan oleh individu di bawah usia 18 tahun.

Dalam konteks ini, psikologi forensik membantu menggali kondisi mental dan emosional pelaku muda, perkembangan cara berpikir mereka, serta faktor yang memicu perilaku tersebut. Tujuannya bukan sekadar menghukum, tapi juga mencari solusi pemulihan yang tepat.

Pemahaman tentang kenakalan remaja terus berkembang. Dulu, anak yang melakukan kejahatan sering diperlakukan seperti orang dewasa. Namun sejak awal abad ke-20, mulai muncul sistem peradilan khusus anak yang mengakui bahwa mereka masih dalam tahap perkembangan. Psikologi forensik ikut berperan dengan memberikan gambaran tentang kemampuan anak dalam memahami tindakannya serta peluang mereka untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Kesehatan Mental pada Pelaku Anak

Banyak anak yang terlibat kasus hukum ternyata juga memiliki masalah kesehatan mental. Penelitian menunjukkan sekitar 50–70% remaja dalam tahanan mengalami setidaknya satu gangguan yang bisa didiagnosis, seperti depresi, kecemasan, gangguan perilaku, atau gangguan menentang.

Pengalaman buruk di masa kecil, seperti kekerasan atau pengabaian, sering jadi pemicu penting. Trauma ini bisa memengaruhi perkembangan emosi dan cara berpikir, yang kemudian berkontribusi pada perilaku menyimpang.

Psikolog forensik juga menilai apakah seorang anak cukup mampu untuk menjalani proses hukum. Yang dilihat bukan hanya kecerdasan, tapi juga pemahaman tentang proses pengadilan dan kemampuan membela diri. Karena banyak remaja belum matang secara perkembangan, pendekatan hukum yang digunakan biasanya disesuaikan dengan usia mereka.

Perkembangan Kognitif dan Kenakalan

Teori dari Piaget dan Kohlberg membantu menjelaskan bagaimana remaja belajar mengambil keputusan dan memahami moral. Tidak semua anak berkembang dengan kecepatan yang sama, sehingga sebagian masih cenderung impulsif dan berisiko.

Ilmu saraf menunjukkan bahwa bagian otak yang mengatur kontrol diri dan pengambilan keputusan belum matang sepenuhnya sampai usia sekitar 20-an. Ini menjelaskan kenapa remaja lebih mudah mengambil keputusan yang kurang tepat.

Gangguan seperti conduct disorder (CD) dan oppositional defiant disorder (ODD) cukup sering ditemukan. Anak dengan kondisi ini biasanya menunjukkan pola perilaku yang menentang aturan atau otoritas.

Lingkungan keluarga, kondisi ekonomi, serta pergaulan sangat berpengaruh. Kurangnya pengawasan, adanya kekerasan di rumah, atau pengaruh teman bisa meningkatkan risiko anak terlibat kejahatan.

Psikolog forensik memakai berbagai instrumen untuk membantu analisis.

Skrining Mental

Contohnya MAYSI-2 untuk mendeteksi masalah kesehatan mental pada remaja.

Penilaian Risiko

Alat seperti SAVRY atau RSTI digunakan untuk memperkirakan kemungkinan anak mengulangi tindakannya, sehingga bisa ditentukan apakah perlu penahanan atau program pembinaan.

Intervensi dan Rehabilitasi

Pendekatan yang diutamakan adalah rehabilitasi, bukan hukuman. Karena masih dalam masa perkembangan, anak punya peluang besar untuk berubah jika ditangani dengan tepat.

Terapi Kognitif-Perilaku

CBT membantu anak mengenali pola pikir yang salah dan mengubah perilaku negatif menjadi lebih adaptif.

Pendekatan Keluarga

Program seperti terapi keluarga menekankan perbaikan hubungan dan lingkungan rumah, karena faktor ini sangat berpengaruh terhadap perilaku anak.

Aspek Etika dan Hukum

Bekerja dengan anak butuh perhatian khusus terkait izin dan kerahasiaan, apalagi jika melibatkan orang tua atau wali.

Psikolog forensik juga ikut mendorong perubahan kebijakan, seperti mengurangi penahanan dan meningkatkan akses layanan kesehatan mental bagi anak.

Psikologi forensik membantu melihat kasus kenakalan remaja secara lebih utuh. Bukan hanya soal pelanggaran hukum, tapi juga kondisi mental, perkembangan otak, dan lingkungan yang membentuk perilaku tersebut. Dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan sesuai tahap perkembangan, peluang anak untuk pulih dan tidak mengulangi kesalahan jadi jauh lebih besar.

Referensi:

https://www.ijlra.com/details/the-role-of-forensic-psychology-in-understanding-and-assessing-the-mental-health-cognitive-development-and-behavior-of-juvenile-offenders-by-samina-iqbal-surti

Hilman/Freepik.com

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komunitas Jejak Forensik

Pintu Masuk Dunia Psikologi Forensik Ada di Grup WA Ini. Siap Gabung?
Latest News
Categories

Jangan Diam !

Jika kamu mengalami atau melihat kasus yang berkaitan dengan kekerasan, pelecehan, perundungan, atau masalah psikologis lainnya—jangan simpan sendiri.