Nyaman Itu Menjebak: Kenapa Bertumbuh Dimulai dari Rasa Tidak Nyaman?

JEJAKFORENSIK.COM – Maggie Rowe, penulis buku Sin Bravely: A Memoir of Spiritual Disobedience dan Easy Street: A Story of Redemption from Myself, berbagi refleksi tentang satu hal yang sering kita hindari tanpa sadar: rasa tidak nyaman.

Ia membuka dengan kutipan dari Kurt Vonnegut yang terasa sederhana tapi kena:

“Terlalu lama tinggal di New York, Anda akan menjadi terlalu keras. Terlalu lama tinggal di Los Angeles, Anda akan menjadi terlalu lunak.”

Sebagai seseorang yang tinggal di Los Angeles, Maggie mengakui bahwa ia perlahan terbiasa dengan kenyamanan. Bukan karena itu tujuan hidupnya, tapi karena itu terasa paling mudah dijalani.

Ketika Kenyamanan Terlihat Seperti Kebijaksanaan

“Jika Anda bertanya kepada saya apa yang paling penting bagi saya, saya tidak akan mengatakan kenyamanan,” ujar Maggie. “Saya akan mengatakan pertumbuhan atau kebenaran, atau koneksi.”

Tapi ia juga jujur. Kalau dilihat dari kesehariannya, justru terlihat sebaliknya.

“Anda mungkin dapat menyimpulkan bahwa prinsip panduan saya adalah: hindari ketidaknyamanan yang tidak perlu dengan segala cara.”

Di sinilah masalahnya. Kenyamanan sering menyamar jadi sesuatu yang masuk akal. Ia tidak datang sebagai penghindaran, tapi sebagai alasan yang terdengar bijak:

“Ini bukan saat yang tepat.”
“Saya harus menunggu sampai saya lebih siap.”
“Tidak perlu terburu-buru.”

Padahal, hal-hal penting justru sering muncul dari arah yang bikin kita ragu. Email yang tidak jadi dikirim. Ide yang disimpan sendiri. Proyek yang ditunda karena belum merasa siap.

“Kenyamanan membuat saya aman,” kata Maggie. “Itu juga membuat saya tetap di tempat.”

Berani Muncul, Walau Belum Siap

Salah satu cara Maggie menantang dirinya adalah dengan membuat pengalaman Airbnb bersama suaminya, Jim. Mereka membahas bagaimana sebuah cerita dimulai dengan baik.

Kelihatannya sederhana, tapi di dalamnya ada keraguan besar.

“Siapa saya untuk mengajarkan apa yang membuat awal yang hebat?”

Ia sadar, posisinya bisa dipertanyakan. Bahkan mungkin dianggap terlalu percaya diri.

“Ada semacam kesombongan di dalamnya. Atau setidaknya penampilan kesombongan.”

Namun tetap ia jalani. Bukan karena sudah yakin sepenuhnya, tapi karena ingin berhenti menunggu rasa siap yang tidak pernah benar-benar datang.

Kerentanan di Ruang Publik

Hal lain yang ia lakukan adalah merekam puisi dan mengunggahnya ke media sosial. Sesuatu yang terdengar kecil, tapi ternyata terasa sangat membuka diri.

“Ada sesuatu yang sangat membuka diri tentang membaca karya sendiri dengan lantang… hanya suara Anda, kata-kata Anda, dan harapan tenang bahwa seseorang mungkin menerimanya.”

Di situ muncul lagi pertanyaan yang sama: Siapa saya untuk melakukan ini?

Jawaban yang ia pilih sederhana tapi kuat:

“Saya adalah seseorang yang berlatih untuk tidak menjawab pertanyaan itu sebelum bertindak.”

Media sosial, menurutnya, memang tempat yang aneh. Ia mendorong kita untuk terlihat, tapi juga cepat menghakimi. Wajar kalau banyak orang memilih bermain aman.

Namun bagi Maggie, inti dari semua itu justru ada di kerentanan.

Belajar Menjangkau, Walau Berisiko Diabaikan

Dalam podcast yang ia bawakan, ia mulai mengubah kebiasaan. Dari yang awalnya hanya mengundang orang-orang yang sudah dikenal, kini ia mencoba menghubungi orang-orang yang benar-benar ia kagumi.

“Rasanya seperti meminta sesuatu tanpa daya tawar.”
“Rasanya seperti mengambil risiko diabaikan.”

Tidak nyaman, jelas. Tapi di saat yang sama, terasa hidup.

“Seperti pergerakan. Seperti kemungkinan sesuatu yang baru masuk.”

Ketidaknyamanan sebagai Petunjuk

Dari semua pengalaman itu, Maggie sampai pada satu pemahaman penting.

“Saya mulai berpikir bahwa ketidaknyamanan… mungkin bukan tanda peringatan, melainkan petunjuk arah.”

Memang tidak semua rasa tidak nyaman itu benar. Ada juga yang sekadar tanda bahwa sesuatu tidak cocok. Tapi sebagian lain justru menunjukkan bahwa kita sedang melangkah keluar dari versi diri yang lama.

Hal-hal yang ia lakukan mungkin terasa canggung, bahkan sedikit memalukan.
Namun di balik itu, ada rasa yang tidak bisa digantikan: hidup.

Bertahan Sedikit Lebih Lama

Maggie tidak berusaha menjadi orang yang selalu berani atau selalu percaya diri. Ia hanya mencoba lebih peka.

“Saya mencoba menjadi orang yang dapat mengenali kapan kenyamanan diam-diam mempersempit ruang lingkup.”

Dan ketika rasa ingin mundur itu muncul, suara kecil yang bilang “jangan lakukan ini”, ia tidak langsung menuruti.

Ia memilih satu hal: bertahan sebentar.

“Saya bereksperimen dengan bertahan. Cukup lama untuk memulai.”

Kadang, itu saja sudah cukup untuk membuka jalan baru.

Referensi:

https://www.psychologytoday.com/us/blog/bodhisattva-wannabe/202604/becoming-comfortable-with-discomfort

Ilustrasi: Freepik.com

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komunitas Jejak Forensik

Pintu Masuk Dunia Psikologi Forensik Ada di Grup WA Ini. Siap Gabung?
Latest News
Categories

Jangan Diam !

Jika kamu mengalami atau melihat kasus yang berkaitan dengan kekerasan, pelecehan, perundungan, atau masalah psikologis lainnya—jangan simpan sendiri.