JEJAKFORENSIK.COM – Selama puluhan tahun, kita sering mendengar bahwa salah satu kunci hidup bahagia adalah memiliki harga diri yang tinggi. Ketika merasa tidak percaya diri, kita dianjurkan untuk meyakinkan diri bahwa kita hebat. Ketika mengalami kegagalan, kita diminta mengulang afirmasi positif dan membayangkan keberhasilan yang ingin dicapai.
Pesannya terdengar sederhana: jika ingin merasa lebih baik, ubahlah cara Anda memandang diri sendiri. Namun, ada persoalan yang sering luput. Manusia tidak selalu konsisten.
Seseorang bisa sangat percaya diri dalam pekerjaan, tetapi merasa ragu ketika berada dalam hubungan sosial. Kita bisa bersikap murah hati kepada orang lain pada satu kesempatan, lalu menjadi egois atau tidak sabar pada kesempatan berikutnya. Hari ini kita merasa menarik dan berharga, tetapi besok kritik kecil saja bisa membuat kita mempertanyakan diri sendiri.
Karena itu, mungkin persoalannya bukan bagaimana membuat diri selalu merasa hebat. Bisa jadi, yang lebih penting adalah belajar menerima diri sendiri sebagai manusia yang kompleks dan tidak sempurna.
Ketika Mengejar Harga Diri Justru Melelahkan
Konsep self-esteem atau harga diri pada dasarnya berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai dan merasakan dirinya sendiri. Memiliki pandangan positif terhadap diri tentu bukan sesuatu yang buruk.
Masalah muncul ketika kita merasa harus terus mempertahankan citra tertentu agar tetap merasa berharga.
Misalnya, seseorang membangun identitas sebagai “orang baik”. Ketika suatu hari ia kehilangan kesabaran atau bersikap egois, muncul konflik dalam dirinya.
“Kalau saya orang baik, mengapa saya melakukan hal seperti itu?”
Konflik semacam ini dapat membuat kita berusaha mencari pembenaran. Kita mungkin mencoba meyakinkan diri bahwa tindakan tersebut sebenarnya tidak mencerminkan diri kita. Atau sebaliknya, satu kesalahan bisa membuat kita memberikan label negatif kepada seluruh diri sendiri.
Padahal, kedua kesimpulan tersebut sama-sama terlalu sederhana.
Satu tindakan tidak selalu menggambarkan keseluruhan diri seseorang.
Upaya untuk mempertahankan identitas yang terlalu kaku justru dapat membuat kehidupan emosional menjadi melelahkan. Kita terus-menerus memeriksa apakah perilaku kita sesuai dengan gambaran ideal yang telah kita bangun.
Alih-alih hidup, kita seperti terus mengawasi diri sendiri.
Mengapa Penerimaan Diri Bisa Menjadi Pendekatan yang Lebih Sehat?
Penerimaan diri menawarkan pertanyaan yang berbeda.
Jika harga diri bertanya, “Seberapa baik saya menilai diri sendiri?”, penerimaan diri bertanya, “Bisakah saya menerima diri saya sebagaimana adanya?”
Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya cukup besar.
Penerimaan diri tidak berarti menganggap semua perilaku kita benar atau berhenti berusaha menjadi lebih baik. Sebaliknya, penerimaan diri memungkinkan kita melihat kelebihan dan kekurangan tanpa harus mengubah salah satunya menjadi identitas permanen.
Kita dapat mengatakan:”Saya melakukan kesalahan.”
Tanpa harus menyimpulkan: “Saya adalah orang gagal.”
Kita juga bisa mengatakan: “Saya sedang kesulitan merasa percaya diri.”
Tanpa mengatakan: “Saya adalah orang yang tidak percaya diri.”
Bahasa yang kita gunakan untuk menggambarkan diri sendiri ternyata penting. Ketika perilaku tertentu dijadikan identitas permanen, perubahan menjadi lebih sulit. Sebaliknya, ketika kita melihat perilaku sebagai sesuatu yang dapat berubah, kita memiliki ruang untuk belajar.
Manusia Tidak Selalu Sama dalam Setiap Situasi
Salah satu alasan penerimaan diri penting adalah karena manusia sangat dipengaruhi oleh konteks.
Perilaku kita tidak muncul dari ruang kosong. Cara kita bertindak dapat dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar kita, pengalaman masa lalu, kondisi emosional, lingkungan, tekanan yang sedang dihadapi, serta berbagai keadaan lain.
Itulah sebabnya seseorang dapat menunjukkan sisi yang berbeda dalam situasi berbeda.
Orang yang biasanya sabar mungkin menjadi mudah marah ketika kelelahan. Seseorang yang dikenal sangat percaya diri mungkin merasa gugup ketika menghadapi situasi yang benar-benar baru. Orang yang biasanya murah hati mungkin suatu hari memilih memprioritaskan dirinya sendiri.
Perbedaan tersebut tidak selalu berarti seseorang palsu atau tidak memiliki karakter.
Itu bisa menjadi bagian dari kompleksitas manusia.
Daripada bertanya, “Mana diri saya yang sebenarnya?”, kita dapat mengajukan pertanyaan yang lebih berguna:
“Apa yang sedang memengaruhi saya dalam situasi ini?”
Pertanyaan tersebut membuat kita lebih mampu memahami diri tanpa buru-buru menghakimi.
Konsep Diri Adalah Cerita yang Bisa Berubah
Kita semua memiliki konsep diri, yaitu gambaran atau cerita yang kita bangun mengenai siapa diri kita.
Cerita tersebut biasanya terdiri dari berbagai label:
“Saya orang yang pemalu.”
“Saya orang yang pintar.”
“Saya orang yang pekerja keras.”
“Saya orang yang tidak berani mengambil risiko.”
Label dapat membantu kita memahami diri, tetapi menjadi masalah ketika dianggap sebagai kebenaran yang tidak dapat berubah.
Padahal, manusia berkembang.
Orang yang dulu takut berbicara di depan umum bisa menjadi pembicara yang baik. Seseorang yang pernah gagal dalam bisnis dapat belajar dan menjadi lebih matang dalam mengambil keputusan. Orang yang sebelumnya sulit mengendalikan emosi juga dapat belajar mengenali dan mengelolanya dengan lebih baik.
Karena itu, konsep diri yang sehat tidak harus menghapus kelemahan. Justru, ia memberi ruang untuk mengakui kelemahan tanpa menjadikannya sebagai identitas permanen.
Penerimaan Diri Bukan Berarti Menyerah
Ada kesalahpahaman bahwa menerima diri berarti berhenti berkembang.
Padahal, keduanya bisa berjalan bersama.
Anda dapat menerima bahwa saat ini Anda belum memiliki kemampuan tertentu sekaligus berusaha meningkatkannya. Anda dapat menerima bahwa Anda pernah membuat kesalahan sambil bertanggung jawab memperbaikinya.
Penerimaan diri mengatakan:
“Ini adalah kondisi saya sekarang.”
Bukan:
“Ini akan menjadi kondisi saya selamanya.”
Perbedaan tersebut penting karena perubahan yang sehat biasanya membutuhkan kemampuan untuk melihat kenyataan terlebih dahulu.
Sulit memperbaiki sesuatu yang terus kita sangkal.
Dari Harga Diri Menuju Welas Asih kepada Diri Sendiri
Penerimaan diri juga membuka ruang bagi self-compassion atau welas asih terhadap diri sendiri.
Kita sering jauh lebih keras kepada diri sendiri dibandingkan kepada orang yang kita sayangi.
Ketika seorang teman melakukan kesalahan, kita mungkin berkata:
“Semua orang bisa salah. Yang penting kamu belajar.”
Namun, ketika kita sendiri melakukan kesalahan, kalimat yang muncul bisa jauh lebih kejam:
“Saya memang bodoh.”
Penerimaan diri membantu mengubah pola tersebut.
Bukan dengan membebaskan diri dari tanggung jawab, tetapi dengan memberikan ruang untuk memahami bahwa kesalahan merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Kita tetap dapat mengevaluasi tindakan, meminta maaf, memperbaiki kerusakan, dan belajar. Namun, semua itu tidak harus disertai kebencian kepada diri sendiri.
Nilai Hidup Lebih Penting daripada Membuktikan Diri
Jika tujuan utama hidup adalah merasa hebat, kita akan mudah tergantung pada penilaian.
Pujian membuat kita merasa berharga. Kritik membuat kita merasa runtuh. Keberhasilan meningkatkan rasa percaya diri, sedangkan kegagalan seolah menghapus nilai diri.
Pendekatan yang lebih stabil adalah menjadikan nilai hidup sebagai pedoman.
Alih-alih bertanya:”Bagaimana caranya agar saya terlihat hebat?”
Kita dapat bertanya: “Orang seperti apa yang ingin saya menjadi?”
Jika kejujuran adalah nilai penting, kita berusaha jujur meskipun tidak selalu menguntungkan. Jika kepedulian penting bagi kita, kita berusaha membantu orang lain meskipun tidak selalu mendapatkan pujian.
Dengan demikian, rasa berharga tidak semata-mata berasal dari penilaian terhadap diri sendiri, tetapi juga dari cara kita menjalani hidup.
Dari “Saya Hebat” Menjadi “Saya Manusia”
Perubahan cara pandang ini mungkin terdengar sederhana.
Dulu kita mungkin berusaha mengatakan: “Saya hebat.”
Kini kita dapat mengatakan: “Saya manusia.”
Artinya, saya memiliki kekuatan sekaligus kelemahan. Saya bisa percaya diri sekaligus merasa ragu. Saya bisa melakukan sesuatu dengan sangat baik dan pada kesempatan lain membuat kesalahan.
Saya tidak harus selalu konsisten untuk tetap memiliki nilai.
Pandangan tersebut justru memberikan ruang untuk tumbuh.
Kita tidak perlu menghabiskan energi untuk membuktikan bahwa diri kita selalu baik, pintar, menarik, kuat, atau sukses. Kita dapat menggunakan energi tersebut untuk menjalani hidup sesuai dengan nilai yang benar-benar kita anggap penting.
Bagaimana Cara Melatih Penerimaan Diri?
Penerimaan diri dapat dimulai dari hal sederhana.
Pertama, bedakan perilaku dari identitas. Ganti “Saya gagal” menjadi “Saya mengalami kegagalan”. Ganti “Saya pemarah” menjadi “Saya sedang kesulitan mengelola kemarahan.”
Kedua, perhatikan situasi yang memengaruhi perilaku Anda. Tanyakan apa yang terjadi sebelum Anda bertindak dan kebutuhan apa yang mungkin sedang muncul.
Ketiga, akui kelebihan tanpa menjadikannya sebagai syarat untuk merasa berharga. Anda boleh bangga terhadap kemampuan tertentu tanpa harus membuktikan bahwa Anda lebih baik daripada orang lain.
Keempat, perlakukan diri sendiri dengan tingkat kebaikan yang sama seperti ketika Anda berbicara kepada orang yang Anda sayangi.
Terakhir, gunakan nilai hidup sebagai kompas. Fokuslah pada tindakan yang ingin Anda lakukan, bukan semata-mata pada citra diri yang ingin Anda pertahankan.
Kesimpulan: Anda Tidak Harus Selalu Merasa Hebat untuk Merasa Berharga
Selama bertahun-tahun, kita mungkin terlalu sibuk membangun harga diri sampai lupa bahwa manusia tidak dirancang untuk selalu merasa hebat.
Kita berubah, mengalami kegagalan, belajar, beradaptasi, dan terkadang bertindak tidak sesuai dengan nilai yang kita yakini.
Itu bukan berarti kita tidak memiliki nilai.
Penerimaan diri mengajarkan bahwa kita dapat melihat diri secara lebih utuh. Kita bisa mengakui kekuatan tanpa menjadi sombong, mengakui kelemahan tanpa membenci diri sendiri, serta menerima kesalahan tanpa membiarkannya menentukan seluruh identitas.
Pada akhirnya, tujuan hidup bukanlah terus-menerus meyakinkan diri bahwa kita luar biasa.
Mungkin tujuan yang lebih realistis adalah menerima satu kenyataan sederhana:
Saya manusia. Saya tidak sempurna. Saya bisa salah. Saya bisa berubah. Dan saya tetap berharga.
FAQ
Apa yang dimaksud dengan penerimaan diri?
Penerimaan diri adalah kemampuan untuk menerima diri secara utuh, termasuk kelebihan, kekurangan, kesalahan, emosi, dan pergumulan hidup, tanpa menjadikan kelemahan sebagai identitas permanen.
Apa perbedaan harga diri dan penerimaan diri?
Harga diri berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai dan merasakan nilai dirinya, sedangkan penerimaan diri lebih menekankan kemampuan menerima diri sebagaimana adanya, termasuk sisi positif dan negatif.
Apakah penerimaan diri berarti berhenti memperbaiki diri?
Tidak. Penerimaan diri bukan berarti pasrah. Seseorang tetap dapat belajar, memperbaiki kesalahan, dan mengembangkan kemampuan sambil menerima kondisi dirinya saat ini.
Mengapa konsep diri penting bagi kesehatan emosional?
Konsep diri memengaruhi cara seseorang memahami pengalaman dan perilakunya. Konsep diri yang fleksibel memungkinkan seseorang mengakui kesalahan tanpa menjadikan kegagalan sebagai identitas dirinya.
Bagaimana cara mulai belajar menerima diri sendiri?
Mulailah dengan membedakan perilaku dari identitas, memahami konteks yang memengaruhi tindakan, mengurangi kritik diri yang berlebihan, dan berusaha menjalani hidup berdasarkan nilai yang dianggap penting.
Referensi:
Hilman Hilmansyah/Pixabay



