Teruslah Mencoba: Mengapa Kegagalan Diperlukan untuk Mencapai Kesuksesan

JEJAKFORENSIK.COM – Banyak orang hanya melihat puncak gunung es dari  kesuksesan seseorang. Kita melihat 10 buku yang terbit, ratusan artikel ilmiah, penghargaan, dan jabatan bergengsi.

Yang jarang terlihat adalah bagian di bawah permukaan: tumpukan surat penolakan, lamaran yang tak berbalas, dan kegagalan personal yang tak terhitung.

Fakta ini sejalan dengan penelitian terbaru dalam psikologi. Kegagalan dan kesuksesan ternyata bukan dua kutub yang berlawanan, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama. Keduanya berjalan beriringan.

Realita di Balik Layar Kesuksesan

Dalam dunia akademik, kisah kegagalan adalah hal yang sangat umum, namun jarang diceritakan. Seorang profesor yang telah menerbitkan puluhan karya ilmiah pun mengakui perjalanannya penuh penolakan.

Misalnya, dari semua program doktoral (Ph.D.) yang dilamar, kurang dari setengah yang menerima. Bahkan bisa jauh lebih sedikit. Untuk setiap satu artikel jurnal yang berhasil lolos publikasi, hampir selalu ada setidaknya satu penolakan dari jurnal lain. Hal yang sama terjadi pada buku. Untuk setiap buku yang terbit, ada banyak email penolakan bernada: “Mohon maaf, ide Anda belum sesuai dengan visi penerbit kami.”

Pada awal karier, melamar lebih dari 100 posisi pekerjaan akademik adalah hal biasa, dan mayoritas bahkan tidak membalas sama sekali. Ini belum termasuk kegagalan dalam kehidupan pribadi selama puluhan tahun.

Lalu apa yang membedakan mereka yang akhirnya berhasil? Jawabannya adalah ketangguhan atau resiliensi. Kemampuan untuk terus mencoba ketika percobaan pertama, kedua, bahkan kesepuluh belum berhasil.

Ketangguhan dalam Kacamata Psikologi Evolusioner

Mengapa manusia mampu bangkit setelah gagal? Psikologi evolusioner memberikan penjelasan yang sangat menarik.

Psikolog evolusioner ternama, David Buss (2024), menganalogikan adaptasi psikologis seperti kapalan di tangan atau kaki. Kapasitas untuk membentuk kapalan memang sudah ada dalam diri kita sejak lahir, terlepas dari apakah kapalan itu akan muncul atau tidak. Mekanisme itu baru akan aktif jika ada pemicunya.

Jika Anda baru pertama kali lari maraton, kulit kaki Anda akan membentuk kapalan. Jika Anda baru belajar bermain tenis, telapak tangan Anda akan menebal. Kapalan itu awalnya terasa tidak nyaman, namun pada akhirnya justru melindungi kulit Anda dari kerusakan yang lebih parah di masa depan.

Begitu pula dengan ketangguhan psikologis. Hal ini diperkuat oleh Greg Lukianoff dan Jonathan Haidt (2018) dalam bukunya The Coddling of the American Mind. Mereka berpendapat bahwa terlalu melindungi seseorang dari pengalaman sulit memang memberikan rasa aman dalam jangka pendek, tetapi justru menciptakan masalah besar dalam jangka panjang.

Anak yang tidak pernah dibiarkan menghadapi kesulitan, konflik, atau kegagalan kecil, cenderung tumbuh menjadi orang dewasa dengan tingkat resiliensi yang rendah. Otot mentalnya tidak pernah terlatih.

Berangkat dari gagasan ini, dalam buku Positive Evolutionary Psychology (Geher & Wedberg, 2022), kami mengajukan tesis yang terdengar ironis namun logis: semakin banyak kegagalan yang dialami seseorang, semakin besar pula peluangnya untuk meraih keberhasilan. Hipotesis ini berakar pada pemahaman bahwa ketangguhan kita berevolusi untuk menghadapi, bukan menghindari, kesulitan.

Apa Kata Riset? Studi Tentang Jumlah Kegagalan dan Keberhasilan

Untuk menguji tesis tersebut, tim peneliti yang dipimpin oleh Maya Kardas (Kardas dkk., 2025) melakukan sebuah studi terbaru.

Penelitian ini melibatkan hampir 200 orang dewasa. Pertanyaan risetnya sederhana namun mendalam:

  1. Apakah jumlah kegagalan besar yang dirasakan seseorang berkorelasi dengan jumlah keberhasilan besar yang ia rasakan?
  2. Apakah dampak emosional dari keberhasilan berkaitan dengan dampak emosional dari kegagalan?

Para partisipan diminta untuk menuliskan sebanyak mungkin keberhasilan paling berarti dalam hidup mereka dan menilai seberapa besar dampak keberhasilan tersebut bagi hidup mereka. Prosedur yang sama juga dilakukan untuk kegagalan.

Hasilnya sangat jelas dan konsisten.

Hipotesis bahwa “kegagalan merupakan prediktor keberhasilan” terbukti benar. Orang-orang yang melaporkan banyak keberhasilan dalam hidup, juga melaporkan banyak kegagalan. Sebaliknya, mereka yang melaporkan sedikit keberhasilan juga cenderung melaporkan sedikit kegagalan.

Pola yang sama juga ditemukan pada dimensi dampak. Individu yang merasakan keberhasilan memberikan dampak yang sangat besar dalam hidupnya, juga cenderung merasakan bahwa kegagalan memberikan dampak besar bagi mereka. Artinya, orang yang hidupnya “penuh warna” akan merasakan intensitas yang tinggi pada kedua sisi, baik sukses maupun gagal.

Studi ini menegaskan bahwa orang-orang sukses bukanlah orang yang tidak pernah gagal. Mereka adalah orang yang paling sering gagal, namun terus belajar dan mencoba lagi.

Berhenti Takut Gagal, Mulai Berani Mencoba

Sejak kecil kita sering mendengar nasihat: “Kegagalan adalah guru terbaik.” Nasihat itu sering dianggap klise. Namun, kini sains memberikan bukti empiris yang kuat untuk mendukungnya.

Melalui perspektif evolusioner, penelitian Kardas dkk. (2025) menunjukkan bahwa keberhasilan dan kegagalan memang saling terkait secara intrinsik. Ketangguhan psikologis kita memang dirancang oleh evolusi untuk tumbuh melalui gesekan, bukan melalui kenyamanan.

Jadi, lain kali Anda mengalami kegagalan, sekecil apapun itu – salah presentasi di kantor, gagal mendapat promosi, membuat pasangan kesal, terkena tilang, kehilangan kunci, memecahkan telur di dapur, salah bicara hingga menyinggung teman, tidak lulus ujian, atau bahkan seharian memakai baju terbalik tanpa sadar – ingatlah satu hal.

Kegagalan tersebut bukan tanda bahwa Anda tidak mampu. Justru itu adalah bukti bahwa Anda sedang bergerak, mencoba, dan sedang dalam proses membangun “kapalan psikologis” yang akan melindungi dan menguatkan Anda di masa depan.

Jangan terlalu keras menyalahkan diri sendiri. Semua orang pernah berbuat salah. Bangkit kembali. Ungkapan klise seperti “jatuh tujuh kali, bangun delapan kali” ternyata memiliki akar kebenaran yang sangat dalam tentang kondisi manusia. Dalam hidup, untuk bisa meraih keberhasilan yang besar, Anda memang harus berani menanggung kegagalan yang besar pula.

Referensi:

https://www.psychologytoday.com/us/blog/darwins-subterranean-world/202610/try-try-again-why-failure-is-necessary-for-success

Hilman Hilmansyah/Freepik.com

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komunitas Jejak Forensik

Pintu Masuk Dunia Psikologi Forensik Ada di Grup WA Ini. Siap Gabung?
Latest News
Categories

Jangan Diam !

Jika kamu mengalami atau melihat kasus yang berkaitan dengan kekerasan, pelecehan, perundungan, atau masalah psikologis lainnya—jangan simpan sendiri.