JEJAKFORENSIK.COM – Trauma tidak selalu terlihat dari wajah seseorang. Ada orang yang tetap tersenyum, bekerja, berprestasi, dan tampak kuat di hadapan orang lain, padahal menyimpan pengalaman menyakitkan yang belum selesai. Luka masa lalu itu dapat muncul dalam bentuk kecemasan, reaksi emosional yang berlebihan, kesulitan membangun hubungan, hingga pola perilaku yang berulang tanpa disadari.
Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia, psikolog klinis ahli forensik anak dan remaja, Dr. Lucy Lidiawati Santioso, S.Psi., S.H., M.H., mengingatkan pentingnya memahami pengaruh trauma terhadap kehidupan seseorang. Menurutnya, pengalaman masa lalu memang tidak dapat diubah, tetapi seseorang dapat belajar mengelola respons emosional agar pengalaman tersebut tidak terus mengendalikan kehidupannya.
“Trauma itu bukan hanya tentang apa yang terjadi. Trauma juga tentang apa yang tertinggal dalam diri kita,” ungkap Lucy dalam pemaparannya.
Ia menekankan bahwa tidak semua luka terlihat jelas. Ketika pengalaman menyakitkan sulit diungkapkan melalui kata-kata, dampaknya dapat muncul melalui perasaan, pikiran, sensasi tubuh, dan cara seseorang bereaksi terhadap situasi tertentu.
Karena itu, memahami trauma bukan sekadar mengingat kejadian masa lalu, melainkan mengenali bagaimana pengalaman tersebut masih memengaruhi kehidupan saat ini.
Trauma Dapat Membentuk Cara Seseorang Memandang Dunia
Salah satu dampak trauma adalah perubahan cara seseorang menilai situasi dan orang lain. Pengalaman buruk yang terjadi sekali atau berulang kali dapat membuat seseorang merasa lingkungan di sekitarnya tidak aman.
Misalnya, seseorang yang pernah dikhianati oleh pasangan mungkin mulai kesulitan mempercayai orang lain. Ia menjadi mudah curiga, takut ditinggalkan, atau menganggap hubungan baru akan berakhir dengan pengalaman menyakitkan yang sama.
Menurut Lucy, kondisi tersebut dapat berkembang melalui proses generalisasi. Pengalaman negatif yang awalnya berkaitan dengan satu orang atau satu kejadian kemudian diterapkan pada situasi lain yang sebenarnya berbeda.
Ia memberikan ilustrasi tentang seseorang yang memiliki pengalaman buruk dengan mantan pasangan. Ketika melihat benda yang mengingatkannya pada pengalaman tersebut, ia dapat merasakan ketakutan meskipun situasi yang dihadapinya sekarang tidak berbahaya.
“Generalisasi itu ketika peristiwa yang awalnya kecil kemudian dibuat semakin besar. Padahal, inti masalahnya mungkin hanya satu pengalaman,” jelasnya.
Dalam ilustrasi lain, seseorang yang pernah mengalami pengkhianatan mungkin sampai menyimpulkan bahwa semua laki-laki tidak dapat dipercaya. Padahal, pengalaman dengan satu atau beberapa orang tidak cukup untuk membuktikan bahwa setiap orang akan berperilaku sama.
Pola seperti ini dapat membuat seseorang terus-menerus merasa terancam, bahkan ketika ia berhadapan dengan orang yang berbeda.
Karena itu, penting untuk belajar membedakan pengalaman masa lalu dari kenyataan yang sedang dihadapi. Pengalaman buruk memang perlu diakui, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya dasar untuk menilai semua orang dan setiap hubungan baru.
Distorsi, Penyangkalan, dan Generalisasi: Cara Trauma Memengaruhi Persepsi
Dalam pemaparannya, Lucy menjelaskan tiga pola yang dapat digunakan untuk memahami bagaimana seseorang merespons pengalaman menyakitkan, yaitu distorsi, kecenderungan menyangkal atau menekan pengalaman, serta generalisasi.
Pada pola pertama, distorsi, gambaran mengenai suatu peristiwa dapat menjadi kabur atau berubah dalam ingatan seseorang. Ia mungkin berusaha menjauhkan diri dari pengalaman yang menyakitkan, tetapi dampak emosionalnya masih terasa.
Pada pola kedua, seseorang berusaha menganggap pengalaman tersebut tidak ada atau tidak lagi penting. Ia mungkin mengatakan bahwa kejadian itu sudah berlalu dan tidak perlu dibicarakan lagi. Namun, menurut Lucy, perilakunya masih dapat memperlihatkan bahwa pengalaman tersebut meninggalkan pengaruh.
Pola ketiga adalah generalisasi, yaitu ketika pengalaman tertentu memengaruhi cara seseorang menilai kejadian lain yang memiliki kemiripan.
Ketiga pola tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Respons setiap orang terhadap pengalaman traumatis dapat berbeda, dan istilah yang digunakan dalam pemaparan ini tidak dengan sendirinya merupakan diagnosis psikologis.
Lucy menekankan bahwa menghindari ingatan atau berpura-pura tidak terpengaruh tidak selalu membuat dampak emosional menghilang.“Yang bisa kita pelajari adalah bagaimana merespons emosi yang terhubung dengan trauma itu,” ujarnya.
Dengan kata lain, pemulihan tidak harus berarti menghapus seluruh ingatan. Yang lebih penting adalah mengurangi pengaruh pengalaman tersebut terhadap perasaan, keputusan, dan kehidupan sehari-hari.
Otak Belajar dari Pengalaman, tetapi Dapat Membentuk Respons Baru
Lucy menjelaskan bahwa otak memiliki mekanisme untuk mendeteksi ancaman dan mempersiapkan tubuh menghadapi situasi yang dianggap berbahaya. Salah satu bagian yang berperan dalam pemrosesan ancaman adalah amigdala, sedangkan hipokampus berperan penting dalam pembentukan dan pengambilan kembali ingatan serta konteks pengalaman.
Ketika seseorang menghadapi sesuatu yang mengingatkannya pada pengalaman buruk, tubuh dapat bereaksi secara otomatis. Jantung berdebar, otot menegang, napas berubah, atau muncul keinginan untuk menjauh dari situasi tersebut.
Respons ini tidak selalu muncul setelah seseorang sempat mempertimbangkan apakah situasi yang dihadapinya benar-benar berbahaya. Dalam kondisi tertentu, tubuh bereaksi lebih dahulu karena mengenali sesuatu yang diasosiasikan dengan ancaman sebelumnya.
Sebagai contoh, seseorang yang memiliki ketakutan terhadap kucing mungkin langsung menjauh ketika melihat hewan tersebut. Jika ia terus menghindar, kesempatan untuk memperoleh pengalaman baru yang lebih aman menjadi terbatas.
Sebaliknya, pengalaman baru yang aman dan dilakukan secara bertahap dapat membantu seseorang mempelajari respons yang berbeda. Dalam contoh Lucy, seseorang yang takut terhadap kucing dapat belajar berada di dekat hewan itu dengan pendampingan dan kondisi yang sesuai.
Seiring waktu, ia mungkin mulai memahami bahwa tidak semua kucing berbahaya dan bahwa ia dapat berada di dekatnya tanpa mengalami kejadian buruk.
Contoh tersebut menggambarkan prinsip penting dalam proses belajar: pengalaman baru dapat membantu mengubah cara seseorang menilai situasi. Namun, menghadapi pemicu trauma tidak harus dilakukan secara paksa atau sendirian. Pada orang yang mengalami trauma berat, proses ini sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan dilakukan dengan dukungan profesional.
Ingatan Trauma Tidak Hanya Berupa Gambaran Masa Lalu
Menurut Lucy, pengalaman menyakitkan dapat muncul melalui beberapa bentuk ingatan dan respons.
Pertama, ada ingatan eksplisit, yaitu ingatan sadar mengenai peristiwa yang pernah terjadi. Seseorang mungkin masih dapat mengingat tempat, orang, atau kejadian tertentu yang membuatnya terluka.
Kedua, ada respons emosional dan perilaku yang dapat muncul tanpa seseorang secara sadar mengingat seluruh detail peristiwa. Seseorang bisa merasa takut, tidak nyaman, atau ingin menghindar ketika menghadapi situasi yang mengingatkannya pada pengalaman sebelumnya.
Ketiga, ada respons yang berkaitan dengan rangsangan sensorik, seperti suara, bau, gambar, atau sensasi tubuh. Rangsangan tertentu dapat mengingatkan seseorang pada pengalaman masa lalu dan memicu reaksi emosional.
Misalnya, suara keras dapat membuat seseorang merasa sangat takut karena mengingatkannya pada pengalaman ketika dahulu sering dimarahi. Ada pula orang yang merasa tidak nyaman terhadap sentuhan tertentu karena pernah mengalami kekerasan fisik.
Lucy juga membahas bagaimana pengalaman emosional dapat berkaitan dengan sensasi tubuh. Seseorang yang mengalami kecemasan dapat merasakan jantung berdebar, dada sesak, pusing, atau keluhan fisik lainnya.
Namun, gejala fisik tidak boleh langsung dianggap sebagai akibat trauma. Keluhan seperti nyeri dada, pusing, atau gangguan pencernaan dapat memiliki beragam penyebab dan tetap perlu diperiksa tenaga kesehatan. Jika pemeriksaan medis belum menemukan penyebab yang jelas atau keluhan berkaitan dengan kecemasan, dukungan psikologis dapat menjadi bagian dari penanganan.
Dalam pemaparannya, Lucy turut menceritakan pengalaman mendampingi seseorang yang ingin berhenti merokok. Ia menggambarkan penggunaan asosiasi sensorik untuk mengubah hubungan antara pengalaman merokok dan perasaan nyaman yang dirasakan orang tersebut.
Kisah itu merupakan ilustrasi pendekatan yang digunakannya. Namun, satu pengalaman individual tidak dapat menjadi bukti bahwa teknik serupa pasti efektif untuk semua orang atau dapat menggantikan metode berhenti merokok yang telah teruji.
Ketika Trauma Membentuk Pola Hubungan yang Berulang
Salah satu bagian penting dalam pemaparan Lucy adalah kemungkinan trauma memengaruhi pilihan dan pola hubungan seseorang.
Ia menceritakan seorang perempuan yang tumbuh dalam keluarga dengan kekerasan dalam rumah tangga. Ayahnya melakukan kekerasan terhadap ibu dan memiliki perilaku perselingkuhan. Setelah dewasa, perempuan tersebut menikah, mengalami kekerasan dalam rumah tangga, lalu bercerai. Dalam pernikahan berikutnya, ia kembali menghadapi pola kekerasan yang serupa.
Ketika Lucy menanyakan pertimbangannya saat memilih pasangan, perempuan itu menjawab bahwa ia selalu berusaha mencari laki-laki yang tidak memiliki sifat seperti ayahnya.
Bagi Lucy, kisah tersebut menunjukkan bahwa keinginan menghindari pengalaman masa lalu belum tentu cukup untuk membuat seseorang terbebas dari pengaruhnya.
Pengalaman masa kecil dapat membentuk harapan, batasan, dan cara seseorang memahami kedekatan. Tanpa disadari, seseorang mungkin kembali menghadapi pola hubungan yang terasa familiar, meskipun pola tersebut menyakitkan.
Meski demikian, pengalaman masa kecil tidak menentukan bahwa seseorang pasti mengulangi kekerasan ketika dewasa. Banyak faktor memengaruhi pilihan pasangan dan dinamika hubungan. Riwayat trauma dapat menjadi salah satu hal yang perlu dipahami, bukan alasan untuk menyalahkan korban atau menganggap mereka bertanggung jawab atas kekerasan yang dilakukan orang lain.
Lucy menyarankan agar seseorang mengenali luka masa lalu sebelum membangun hubungan yang lebih serius. Tujuannya bukan menunggu sampai hidup benar-benar bebas dari semua masalah, melainkan memahami pola emosional, mengembangkan batasan yang sehat, dan belajar membangun hubungan yang aman.
Jangan Sampai Trauma Menjadi Identitas Diri
Lucy juga menyoroti kecenderungan sebagian orang untuk selalu terlihat kuat, tidak ingin dianggap lemah, atau merasa harus membuktikan diri kepada orang lain.
Ia menghubungkan kecenderungan tersebut dengan pengalamannya sendiri ketika mengalami perlakuan abusif pada masa kecil. Ia berusaha terlihat kuat dan menunjukkan bahwa dirinya mampu bekerja serta menghadapi kehidupan, meskipun tetap mengalami kesedihan.
Pengalaman itu, menurutnya, membuat ia memahami bagaimana seseorang dapat mengembangkan cara tertentu untuk bertahan hidup setelah mengalami kejadian menyakitkan.
Keinginan menjadi mandiri dan dapat diandalkan bukanlah sesuatu yang salah. Namun, masalah dapat muncul ketika seseorang merasa tidak boleh menunjukkan kesedihan, meminta pertolongan, atau mengakui bahwa dirinya sedang kesulitan.
Upaya membuktikan diri juga dapat menjadi melelahkan apabila seluruh kehidupan hanya diarahkan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Karena itu, penting untuk membedakan kekuatan yang tumbuh dari pemulihan dengan perilaku bertahan hidup yang terus dipertahankan karena takut terlihat lemah.
Seseorang tidak harus menyangkal luka untuk membuktikan bahwa dirinya kuat. Mengakui rasa sakit, mencari bantuan, dan membangun batasan yang sehat juga merupakan bentuk keberanian.
Fight, Flight, dan Freeze: Mengenali Respons Ketika Merasa Terancam
Ketika menghadapi ancaman atau tekanan, seseorang dapat menunjukkan respons yang sering dikenal sebagai fight, flight, dan freeze.
Fight menggambarkan kecenderungan melawan atau menghadapi ancaman. Flight berarti menjauh atau melarikan diri dari situasi yang dirasakan berbahaya. Sementara itu, freeze menggambarkan keadaan ketika seseorang merasa membeku, sulit bergerak, atau kesulitan memberikan respons.
Respons tersebut merupakan bagian dari cara manusia bereaksi terhadap ancaman. Namun, respons yang dahulu membantu seseorang bertahan dalam situasi berbahaya belum tentu sesuai untuk semua keadaan pada masa kini.
Misalnya, seseorang yang terbiasa menghindari konflik mungkin selalu menjauh ketika ada perbedaan pendapat. Sementara itu, orang lain dapat bereaksi dengan kemarahan yang berlebihan karena merasa harus melindungi dirinya.
Lucy mengingatkan bahwa pola respons otomatis perlu dikenali agar seseorang memiliki kesempatan untuk memilih respons yang lebih sesuai dengan keadaan.
Di sinilah fungsi eksekutif, termasuk kemampuan mengatur perilaku, mempertimbangkan pilihan, dan menyesuaikan strategi, menjadi penting. Fleksibilitas kognitif membantu seseorang menyadari bahwa ketika satu cara tidak berhasil, masih ada kemungkinan untuk mencoba cara lain yang lebih adaptif.
Memutus Pola Trauma dengan Batasan yang Sehat
Bagaimana jika seseorang masih hidup di lingkungan yang toksik atau terus menghadapi perilaku yang memicu luka masa lalu?
Lucy mengajak peserta untuk mempertimbangkan pilihan respons, termasuk menetapkan batasan yang sehat, mengambil jarak, atau mencari cara menghadapi situasi dengan lebih aman.
Ia mengingatkan bahwa seseorang tidak harus mengikuti emosi orang lain. Dalam pesannya kepada generasi Z, Lucy mengatakan bahwa ketika orang tua marah dan anak langsung ikut terbawa kemarahan, konflik dapat berkembang menjadi lingkaran reaksi yang terus berulang.
“Kalau mama marah-marah terus kamu ikut marah, berarti kamu sedang membeli drama mereka,” demikian pesan Lucy yang ditujukan kepada anak-anak muda.
Pesan tersebut bukan berarti seseorang bertanggung jawab atas perilaku kasar yang dilakukan orang lain. Orang yang mengalami kekerasan tidak bersalah atas tindakan pelaku. Intinya, seseorang dapat belajar mengenali responsnya sendiri sekaligus mengambil langkah untuk melindungi keselamatan dan kesejahteraan dirinya.
Menetapkan batasan juga tidak selalu berarti harus memutus hubungan. Dalam situasi tertentu, komunikasi yang jelas dan kesepakatan bersama dapat membantu. Namun, jika terdapat kekerasan, ancaman, atau risiko keselamatan, mengambil jarak dan mencari pertolongan bisa menjadi langkah yang diperlukan.
Tidak ada satu pilihan yang cocok untuk semua situasi. Keputusan perlu mempertimbangkan keamanan, kondisi emosional, serta dukungan yang tersedia.
Trauma Bukan Takdir yang Harus Diwariskan
Lucy menegaskan bahwa trauma bukan karma buruk yang harus dibayar seseorang sepanjang hidupnya. Pengalaman traumatis juga bukan penentu mutlak masa depan.
Seseorang yang tumbuh dalam keluarga penuh konflik tidak harus mengulangi pola yang sama. Ia dapat belajar mengenali perilaku yang tidak sehat, mencari bantuan, dan membangun cara berhubungan yang berbeda.
Pengalaman keluarga memang dapat memengaruhi pola pengasuhan dan hubungan antargenerasi. Anak yang tumbuh menyaksikan kekerasan mungkin mempelajari pola komunikasi atau penyelesaian konflik yang tidak sehat. Namun, pengaruh tersebut bukan takdir yang tidak dapat diubah.
Lucy mengajak peserta untuk mengambil kembali kendali atas kehidupan mereka. “Ambil kembali hidupmu. Hidupmu adalah tanggung jawabmu,” pesannya.
Tanggung jawab dalam konteks ini bukan berarti menyalahkan diri atas trauma yang dialami. Sebaliknya, pesan tersebut mengajak seseorang mengenali bagian kehidupan yang masih dapat dipengaruhi, termasuk mencari pertolongan, membangun batasan, dan belajar memberikan respons yang lebih sehat.
Tiga Langkah Pemulihan: Recognize, Regulate, dan Reconnect
Dalam bagian akhir pemaparannya, Lucy menjelaskan tiga langkah yang dapat membantu seseorang memahami dan mengelola dampak trauma, yaitu recognize, regulate, dan reconnect.
1. Recognize: mengenali pengalaman dan respons diri
Langkah pertama adalah menyadari bahwa pengalaman masa lalu mungkin masih memengaruhi kehidupan saat ini. Seseorang dapat mulai memperhatikan pemicu emosi, pola hubungan yang berulang, atau reaksi otomatis yang sulit dipahami.
Misalnya, seseorang menyadari bahwa dirinya mudah marah ketika menerima kritik, atau merasa sangat takut ketika orang lain tidak segera membalas pesan. Mengenali pola tersebut dapat menjadi awal untuk memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
2. Regulate: belajar mengatur respons emosional
Setelah mengenali pola, langkah berikutnya adalah mempelajari cara mengelola emosi dan menenangkan diri. Hal ini dapat dilakukan melalui latihan pernapasan, membangun rutinitas yang mendukung rasa aman, mengembangkan keterampilan mengatasi stres, atau mencari bantuan profesional.
Tujuannya bukan menghilangkan semua emosi negatif. Rasa takut, sedih, dan marah tetap merupakan bagian dari pengalaman manusia. Yang perlu dikembangkan adalah kemampuan merespons emosi tanpa harus selalu mengikuti dorongan pertama.
3. Reconnect: membangun kembali hubungan yang aman
Langkah ketiga adalah membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri dan orang lain. Seseorang dapat belajar mempercayai orang secara bertahap, menyampaikan kebutuhan dengan jelas, dan membangun hubungan yang menghormati batasan.
Proses ini juga mencakup upaya memahami pengalaman masa lalu tanpa menjadikannya satu-satunya dasar untuk menentukan masa depan.
Lucy turut menggunakan ungkapan delete uncreated untuk menyampaikan pesan agar seseorang melepaskan pengaruh emosional yang tidak lagi membantu dan tidak terus-menerus menciptakan kembali konflik yang sama. Ungkapan itu tidak berarti menghapus ingatan atau menyangkal apa yang pernah terjadi, melainkan berusaha agar pengalaman tersebut tidak terus mengendalikan kehidupan saat ini.
Pemulihan tidak selalu berlangsung lurus. Ada kalanya emosi lama muncul kembali, terutama ketika seseorang menghadapi tekanan atau situasi yang mengingatkannya pada pengalaman terdahulu. Hal itu tidak otomatis berarti proses pemulihan gagal.
Jika trauma mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan, tidur, atau menimbulkan gejala yang berat, bantuan psikolog atau psikiater dapat membantu menentukan pendekatan penanganan yang sesuai. Apabila muncul pikiran untuk menyakiti diri atau mengakhiri hidup, penting untuk segera mencari dukungan dari orang tepercaya dan tenaga kesehatan profesional.
Mempersiapkan Hubungan yang Sehat Dimulai dari Kesadaran Diri
Dalam sesi tanya jawab, Lucy juga membahas pentingnya memahami pengalaman masa lalu sebelum membangun rumah tangga. Ia menyoroti bahwa pasangan dapat memiliki latar belakang, kebiasaan, dan harapan yang berbeda.
Satu orang mungkin lebih suka menghabiskan waktu di rumah, sedangkan pasangannya senang melakukan aktivitas di luar. Perbedaan tersebut tidak selalu menjadi masalah jika keduanya bersedia berkomunikasi dan mencari jalan tengah.
Menurut Lucy, pasangan perlu membicarakan harapan sejak awal, termasuk tujuan membangun rumah tangga, pembagian tanggung jawab, dan cara menghadapi konflik.
Ia mengibaratkan pernikahan seperti sepasang sandal: sisi kanan dan kiri berbeda, tetapi keduanya dibutuhkan untuk melangkah bersama.
“Komunikasi itu sangat penting. Apa harapanmu ketika membangun rumah tangga? Itulah yang menjadi dasar untuk menjalani kehidupan bersama,” pesannya.
Harapan terhadap pasangan juga perlu realistis. Menikah dengan keyakinan bahwa seseorang pasti berubah setelah pernikahan dapat menimbulkan masalah apabila tidak disertai komunikasi, komitmen, dan tindakan nyata.
Namun, memahami trauma bukan syarat untuk menjadi manusia yang sempurna sebelum menikah. Yang penting adalah kesediaan mengenali pola yang tidak sehat, bertanggung jawab atas perilaku sendiri, dan mencari dukungan ketika dibutuhkan.
Masa Lalu Memiliki Suara, tetapi Bukan Penentu Akhir
Trauma dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya, merespons orang lain, dan mengambil keputusan. Jika tidak dikenali, pola tersebut dapat terus terbawa ke dalam hubungan, pekerjaan, serta kehidupan sehari-hari.
Namun, pengalaman masa lalu bukan keseluruhan identitas seseorang. Pengalaman tersebut juga tidak secara otomatis menentukan bagaimana kehidupannya akan berjalan.
Otak memiliki kemampuan untuk belajar dari pengalaman baru. Dengan lingkungan yang lebih aman, dukungan yang tepat, dan keterampilan mengelola emosi, seseorang dapat mengembangkan respons yang lebih adaptif.
Lucy menutup pemaparannya dengan pesan bahwa kita tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi, tetapi dapat belajar mengubah bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi kehidupan hari ini dan masa depan.
Masa lalu mungkin masih memiliki suara. Namun, suara itu bukan keputusan akhir tentang siapa diri kita dan akan menjadi apa kita nantinya.
Hilman Hilmansyah/Freepik.com



