JEJAKFORENSIK.COM – Selama lebih dari enam dekade, eksperimen Stanley Milgram menjadi salah satu penelitian paling terkenal dalam psikologi sosial. Eksperimen tersebut sering digunakan untuk menjelaskan bagaimana orang biasa dapat melakukan tindakan yang menyakiti orang lain ketika mendapat perintah dari sosok yang dianggap memiliki otoritas.
Namun, analisis baru terhadap rekaman asli eksperimen tersebut menawarkan pemahaman yang berbeda.
Alih-alih sekadar menunjukkan bahwa manusia cenderung patuh kepada otoritas, rekaman tersebut justru memperlihatkan bagaimana tekanan yang terus-menerus dapat mengikis kemampuan seseorang untuk berhenti dan mempertanyakan apa yang sedang dilakukannya.
Temuan ini membawa kita pada pertanyaan yang jauh lebih penting: mengapa orang biasa melakukan hal keji, bahkan ketika tindakan tersebut tampaknya bertentangan dengan nilai moral mereka sendiri?
Eksperimen Milgram dan Misteri Kepatuhan
Pada 1961, psikolog Yale, Stanley Milgram, merekrut sejumlah pria biasa untuk berpartisipasi dalam sebuah penelitian yang disebut sebagai studi mengenai ingatan dan pembelajaran.
Para peserta ditempatkan sebagai “guru” dan diminta memberikan kejutan listrik kepada orang lain setiap kali jawaban dalam sebuah tes dianggap salah. Tegangan dimulai dari 15 volt dan secara bertahap meningkat hingga 450 volt. Panel tersebut bahkan memiliki peringatan seperti “Bahaya: Kejutan Berat” dan tanda “XXX”.
Namun, ada satu hal penting: orang yang menerima kejutan listrik sebenarnya adalah aktor. Sengatan tersebut palsu dan penelitian itu pada dasarnya bukanlah studi tentang ingatan.
Meski demikian, sekitar dua dari tiga peserta terus menekan sakelar hingga tingkat tertinggi. Sementara itu, aktor tersebut berteriak, memohon agar eksperimen dihentikan, bahkan mengeluhkan kondisi jantungnya sebelum akhirnya terdiam.
Milgram kemudian menyimpulkan bahwa orang biasa dapat melakukan tindakan yang mengerikan ketika diperintah oleh figur yang memiliki otoritas.
Kesimpulan tersebut kemudian sangat berpengaruh dalam cara psikologi menjelaskan Holocaust, kejahatan perang, dan berbagai bentuk kekejaman institusional.
Tetapi apakah kepatuhan benar-benar merupakan penjelasan utamanya?
Rekaman Lama Membuka Pertanyaan Baru
Peneliti David Kaposi dan David Sumeghy mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan cara yang berbeda.
Mereka mendengarkan kembali 136 rekaman asli dari sesi eksperimen Milgram yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Yale. Fokus mereka adalah mencari tahu apakah peserta benar-benar patuh karena percaya bahwa mereka sedang menjalankan eksperimen ilmiah yang sah.
Jika benar demikian, seharusnya peserta mengikuti seluruh prosedur eksperimen.
Dalam peran sebagai “guru”, peserta sebenarnya harus melakukan lima langkah: membacakan pertanyaan, mengevaluasi jawaban, menyebutkan besaran tegangan, memberikan kejutan, lalu membacakan jawaban yang benar.
Kelima langkah tersebut merupakan bagian penting dari prosedur yang membuat tindakan pemberian kejutan listrik tampak sebagai bagian dari penelitian ilmiah.
Namun, rekaman menunjukkan sesuatu yang mengejutkan.
Peserta Tidak Benar-Benar Mengikuti Prosedur
Tidak satu pun peserta yang terus memberikan kejutan sampai akhir menjalankan kelima langkah tersebut secara sempurna.
Hampir separuh tindakan pemberian kejutan melibatkan setidaknya satu pelanggaran terhadap prosedur. Rata-rata, peserta melanggar aturan dalam hampir 50 persen tindakannya.
Salah satu pelanggaran yang paling sering terjadi adalah peserta membacakan pertanyaan berikutnya ketika orang di ruangan sebelah sedang berteriak. Dalam keadaan seperti itu, korban jelas tidak mungkin mendengar pertanyaan maupun memberikan jawaban yang benar.
Namun, satu tindakan yang tidak pernah ditinggalkan adalah menekan tuas.
Temuan ini menimbulkan pertanyaan penting. Jika peserta benar-benar patuh karena menghormati sains dan percaya pada legitimasi eksperimen, mengapa mereka justru mengabaikan prosedur ilmiahnya?
Artinya, mungkin ada mekanisme lain yang membuat mereka terus melanjutkan.
Ketika Otoritas Berubah Menjadi Tekanan
Kaposi dan Sumeghy menemukan bahwa eksperimentator sebenarnya melakukan dua hal sekaligus.
Ketika peserta mulai ragu, eksperimentator menggunakan serangkaian pernyataan yang semakin tegas.
Pertama, peserta diberi tahu, “Silakan lanjutkan.”
Jika masih ragu, muncul pernyataan berikutnya: “Eksperimen ini mengharuskan Anda untuk melanjutkan.”
Kemudian: “Sangatlah penting bagi Anda untuk melanjutkan.”
Dan pada akhirnya: “Anda tidak punya pilihan lain, Anda harus terus melanjutkannya.”
Dengan kata lain, setiap kemungkinan untuk berhenti secara perlahan ditutup.
Namun, terdapat sisi lain yang sama pentingnya.
Ketika peserta mulai menyimpang dari prosedur, eksperimentator tidak selalu mengoreksi mereka. Ia tidak menghentikan eksperimen atau mengembalikan mereka pada protokol. Ia justru terus mendorong mereka untuk maju.
Kombinasi tekanan dan keheningan tersebut menciptakan situasi yang oleh peneliti disebut sebagai pergeseran dari kekerasan yang awalnya dianggap sah menjadi kekerasan yang kehilangan legitimasi.
Ini Bukan Sekadar Kepatuhan, tetapi Paksaan
Dalam kondisi tersebut, peserta tidak lagi sekadar menjalankan sebuah eksperimen ilmiah.
Tujuan awal perlahan menghilang. Prosedur tidak lagi dijalankan sebagaimana mestinya. Yang tersisa adalah seseorang yang sedang disakiti dan figur berjas laboratorium yang terus mengatakan bahwa peserta harus melanjutkan.
Karena itu, peneliti mengajukan interpretasi yang berbeda: yang terjadi bukan semata-mata kepatuhan, melainkan paksaan psikologis.
Paksaan tersebut tidak harus berbentuk kekerasan fisik. Seseorang dapat merasa tidak mempunyai pilihan ketika tekanan terus diberikan terhadap satu tindakan, sementara berbagai alasan untuk berhenti secara perlahan menghilang.
Inilah salah satu pelajaran penting dari eksperimen Milgram yang mungkin selama ini kurang mendapat perhatian.
Orang yang Menolak Justru Lebih Patuh pada Prosedur
Ada ironi lain yang ditemukan dalam penelitian tersebut.
Selama bertahun-tahun, peserta yang menolak melanjutkan eksperimen sering kali dipandang hanya sebagai catatan kecil dalam sejarah penelitian Milgram.
Namun, ketika rekaman dianalisis kembali, mereka justru menunjukkan pola yang menarik.
Peserta yang berhenti ternyata lebih konsisten mengikuti prosedur dibandingkan peserta yang terus melanjutkan hingga tingkat tertinggi. Rata-rata, mereka melanggar aturan dalam sekitar 30 persen rangkaian tindakan, sementara kelompok yang terus patuh melanggarnya hampir 50 persen.
Dengan kata lain, mereka yang berhenti mungkin justru lebih mampu mempertahankan tujuan awal eksperimen.
Ketika prosedur mulai tidak masuk akal, mereka memiliki standar untuk menilai situasi dan bertanya: Apakah yang sedang terjadi ini masih sesuai dengan tujuan awal?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pembatas penting terhadap kepatuhan.
Mengapa Orang yang Baik Bisa Terjebak?
Penjelasan ini menjadi semakin menarik ketika melihat karakter peserta.
Penelitian Bègue dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa sifat yang berkaitan dengan kepatuhan antara lain agreeableness, yaitu kecenderungan untuk kooperatif, serta conscientiousness, yaitu kecenderungan untuk cermat dan bertanggung jawab.
Dengan kata lain, peserta yang paling patuh bukanlah orang yang secara otomatis dapat dianggap kejam atau tidak berperasaan.
Sebaliknya, mereka mungkin adalah orang-orang yang ingin menjadi peserta yang baik, mengikuti aturan, bekerja sama, dan tidak mengecewakan figur otoritas.
Sementara itu, mereka yang menolak menunjukkan kemampuan untuk mempertanyakan apakah tindakan yang diminta masih dapat dibenarkan.
Mereka mampu membaca perubahan situasi dan menyadari adanya jarak antara tujuan awal dengan apa yang kemudian diminta dari mereka.
Pelajaran Penting tentang Kepatuhan terhadap Otoritas
Temuan ini memberikan pelajaran yang relevan jauh melampaui laboratorium psikologi.
Dalam kehidupan sehari-hari, tekanan tidak selalu muncul dalam bentuk perintah keras. Seseorang mungkin terus didorong melakukan sesuatu sambil dibuat merasa bahwa berhenti bukanlah pilihan.
Situasi semacam ini dapat terjadi dalam organisasi, hubungan sosial, kelompok tertutup, maupun lingkungan yang sangat hierarkis.
Orang yang berada di dalamnya mungkin tidak merasa sedang dipaksa. Mereka justru merasa sedang menjalankan kewajiban, memenuhi harapan, atau sekadar menjadi anggota kelompok yang baik.
Padahal, ketika tujuan awal sudah berubah dan seseorang tetap didorong untuk melanjutkan tindakan yang merugikan, tanda bahayanya mulai muncul.
Penalaran Moral sebagai Benteng
Jika ada satu pelajaran utama dari analisis baru terhadap eksperimen Milgram, mungkin jawabannya bukan bahwa manusia harus memiliki tekad yang lebih kuat untuk melawan tekanan.
Perlindungan yang lebih penting adalah kebiasaan melakukan penalaran moral.
Artinya, seseorang perlu mempertahankan kemampuan untuk membandingkan tindakan yang sedang dilakukan dengan tujuan dan nilai yang sejak awal disepakati.
Ketika permintaan berubah menjadi sesuatu yang berbeda, kita perlu mampu mengenalinya.
Milgram awalnya ingin memahami bagaimana otoritas menghasilkan kepatuhan. Namun, rekaman yang dianalisis kembali menunjukkan sesuatu yang lebih kompleks: otoritas dapat menciptakan kepatuhan melalui kombinasi tekanan yang terus-menerus dan keheningan terhadap hal-hal yang seharusnya membuat seseorang berhenti.
Pada akhirnya, protokol bukan sekadar sesuatu yang membuat tindakan terlihat sah.
Protokol juga dapat menjadi alasan bagi seseorang untuk berhenti ketika apa yang terjadi sudah tidak lagi sesuai dengan tujuan awal.
Dan mungkin, itulah salah satu pelajaran paling penting dari eksperimen Milgram: kemampuan mengatakan “berhenti” tidak selalu lahir dari keberanian luar biasa. Kadang-kadang, ia dimulai dari kebiasaan sederhana untuk bertanya, “Apakah yang saya lakukan ini masih masuk akal dan masih dapat dibenarkan?”
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan eksperimen Milgram?
Eksperimen Milgram adalah penelitian psikologi sosial yang menguji sejauh mana seseorang bersedia mengikuti instruksi figur otoritas, termasuk ketika instruksi tersebut tampak menyebabkan penderitaan kepada orang lain.
2. Mengapa orang biasa melakukan hal keji dalam eksperimen Milgram?
Analisis baru menunjukkan bahwa tekanan terus-menerus dari figur otoritas mungkin berperan penting. Peserta tidak sekadar mengikuti perintah, tetapi dapat mengalami situasi yang semakin membatasi pilihan untuk berhenti.
3. Apakah peserta eksperimen Milgram benar-benar memberikan kejutan listrik?
Tidak. Orang yang menerima “kejutan listrik” adalah aktor dan sengatan tersebut sebenarnya palsu. Peserta yang berperan sebagai “guru” tidak mengetahui hal tersebut.
4. Apa temuan baru dari rekaman eksperimen Milgram?
Analisis terhadap 136 rekaman asli menunjukkan bahwa peserta yang terus memberikan kejutan sering kali justru tidak mengikuti seluruh prosedur eksperimen. Mereka melanggar aturan dalam sebagian besar rangkaian tindakan, sementara tekanan untuk terus melanjutkan tetap diberikan.
5. Mengapa sebagian peserta menolak melanjutkan eksperimen?
Peserta yang menolak cenderung lebih mampu mempertanyakan apakah tindakan mereka masih sesuai dengan tujuan awal eksperimen. Mereka juga menunjukkan kecenderungan mengikuti prosedur secara lebih konsisten sebelum akhirnya berhenti.
6. Apa pelajaran eksperimen Milgram bagi kehidupan sehari-hari?
Salah satu pelajaran pentingnya adalah perlunya mempertahankan penalaran moral ketika menghadapi tekanan. Jika tujuan awal telah berubah tetapi seseorang tetap didorong untuk melanjutkan tindakan yang merugikan, situasi tersebut perlu dipertanyakan.
Referensi:
Hilman Hilmansyah/freepik.com



