JEJAKFORENSIK.COM – Ketika seseorang merasa dunia di sekitarnya seperti mimpi, pikirannya berkabut, atau dirinya terasa tidak sepenuhnya hadir, pengalaman tersebut sering kali langsung dikaitkan dengan trauma. Padahal, disosiasi tidak selalu karena trauma.
Bagi sebagian orang, terutama penyandang autisme, ADHD, atau kombinasi keduanya yang sering disebut AuDHD, kondisi seperti pikiran melayang atau fogging out dapat muncul sebagai respons terhadap kelebihan beban sensorik.
Bayangkan berada di pusat perbelanjaan yang ramai. Lampu sangat terang, suara orang berbicara datang dari berbagai arah, musik terdengar dari pengeras suara, sementara tubuh harus terus bergerak mengikuti kerumunan. Bagi sebagian orang, kondisi seperti itu mungkin hanya terasa melelahkan. Namun bagi sistem saraf yang lebih sensitif terhadap rangsangan, situasi tersebut bisa terasa sangat berlebihan.
Dalam kondisi tertentu, tubuh dan pikiran dapat merespons dengan cara yang membuat seseorang merasa jauh dari lingkungan sekitarnya. Dunia terasa tidak nyata, pikiran menjadi berkabut, atau seseorang seperti hanya menjalani situasi tersebut secara otomatis.
Pengalaman ini tidak selalu berarti seseorang memiliki trauma tersembunyi. Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan kebutuhan sensorik dan cara sistem saraf merespons lingkungan.
Apa Itu Disosiasi?
Secara sederhana, disosiasi adalah pengalaman ketika hubungan antara kesadaran, ingatan, identitas, tubuh, atau lingkungan terasa tidak sepenuhnya menyatu.
Pengalaman disosiatif sebenarnya berada dalam sebuah spektrum. Tidak semua bentuk disosiasi merupakan kondisi serius atau gangguan kesehatan mental.
Sebagian orang mungkin pernah mengalami bentuk ringan dari disosiasi tanpa menyadarinya. Misalnya, ketika menyetir pulang dan tiba-tiba tidak terlalu mengingat detail perjalanan. Atau ketika begitu tenggelam dalam sebuah buku hingga tidak menyadari orang lain memanggil nama kita.
Disosiasi bahkan dapat menjadi pengalaman yang netral atau menyenangkan. Kita bisa begitu larut dalam musik, film, permainan, atau pekerjaan yang sangat menarik hingga perhatian terhadap lingkungan sekitar berkurang.
Namun, ada pula bentuk disosiasi yang terasa tidak nyaman. Misalnya ketika seseorang merasa tubuhnya asing, lingkungan tampak seperti mimpi, atau dirinya tidak benar-benar hadir dalam situasi yang sedang berlangsung.
Secara umum, pengalaman disosiatif dapat muncul dalam beberapa bentuk.
1. Depersonalisasi dan Derealisasi
Depersonalisasi adalah perasaan seperti terlepas dari diri sendiri atau tubuh sendiri. Seseorang mungkin merasa seperti sedang mengamati dirinya dari kejauhan.
Sementara itu, derealisasi adalah pengalaman ketika dunia di sekitar terasa tidak nyata, asing, berkabut, atau seperti sedang berada dalam mimpi.
Bagi seseorang yang mengalami fogging out, derealisasi dapat terasa seperti dunia menjadi jauh atau samar.
2. Absorpsi atau Terlalu Tenggelam dalam Sesuatu
Bentuk lain dari disosiasi adalah absorption, yaitu ketika seseorang begitu tenggelam dalam aktivitas, pikiran, buku, film, atau dunia batinnya hingga lingkungan sekitar hampir tidak disadari.
Dalam kondisi tertentu, pengalaman ini bisa sangat menyenangkan. Namun jika terjadi terlalu sering dan mengganggu kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin perlu mencari cara untuk mengelola perhatian dan waktunya.
3. Amnesia atau Celah dalam Ingatan
Bentuk disosiasi juga dapat melibatkan gangguan ingatan.
Pada tingkat ringan, seseorang mungkin tidak mengingat detail perjalanan pulang atau percakapan yang baru saja terjadi. Dalam kondisi yang lebih serius, seseorang dapat mengalami hilangnya ingatan dalam rentang waktu tertentu.
Namun penting untuk diingat, mengalami pikiran berkabut sesekali tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan disosiatif.
Mengapa Disosiasi Tidak Selalu Karena Trauma?
Pembahasan mengenai disosiasi sering kali dimulai dari bentuk yang paling ekstrem, terutama yang berkaitan dengan trauma.
Akibatnya, ketika seseorang mengalami pikiran berkabut, merasa jauh dari kenyataan, atau tidak sepenuhnya hadir, mereka mungkin langsung berpikir bahwa ada sesuatu yang salah atau bahwa dirinya memiliki trauma yang belum disadari.
Padahal, pengalaman manusia jauh lebih kompleks.
Disosiasi tidak selalu karena trauma. Dalam beberapa situasi, kondisi tersebut dapat muncul sebagai respons tubuh terhadap lingkungan yang terlalu intens atau membebani.
Hal ini menjadi penting untuk dipahami terutama pada penyandang autisme dan ADHD.
Sistem saraf setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda dalam memproses informasi dari lingkungan. Suara, cahaya, sentuhan, keramaian, bau, atau berbagai stimulus yang datang secara bersamaan dapat terasa jauh lebih intens bagi sebagian orang.
Ketika jumlah rangsangan melampaui kemampuan tubuh untuk memprosesnya, sistem saraf dapat memberikan respons yang berbeda.
Salah satunya adalah meltdown.
Respons lainnya adalah shutdown.
Shutdown Autisme dan Kelebihan Beban Sensorik
Pada penyandang autisme, terlalu banyak rangsangan sensorik dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai sensory overload atau kelebihan beban sensorik.
Ketika hal ini terjadi, respons tubuh dapat mengarah ke dua kondisi yang berbeda.
Meltdown: Ketika Sistem Tubuh Bereaksi Secara Intens
Meltdown dapat terjadi ketika tubuh mengalami tekanan sensorik yang sangat besar.
Seseorang mungkin tampak sangat gelisah, menangis, marah, panik, atau mengalami respons emosional yang sulit dikendalikan.
Dalam kondisi ini, sistem tubuh seperti berada dalam keadaan kewaspadaan tinggi.
Shutdown: Ketika Sistem Seperti Menutup Diri
Berbeda dengan meltdown, shutdown autisme sering kali terlihat lebih tenang dari luar.
Padahal, di dalam diri seseorang, sistem saraf mungkin sedang berusaha mengatasi tekanan yang terlalu besar.
Kemampuan berbicara dapat berkurang. Tubuh terasa lambat. Pikiran menjadi kosong atau berkabut. Seseorang mungkin ingin menarik diri dari lingkungan atau merasa sulit merespons orang lain.
Banyak penyandang autisme menggambarkan pengalaman shutdown seperti:
- merasa membeku
- menarik diri ke dalam diri sendiri
- seperti komputer yang mengalami crash
- berada dalam mimpi
- tidak sepenuhnya hadir
- sulit berpikir atau berbicara
Pengalaman tersebut memiliki kemiripan dengan beberapa bentuk disosiasi, terutama derealisasi atau perasaan seperti dunia menjadi tidak nyata.
Namun, istilah shutdown dan disosiasi berkembang dari dua bidang yang berbeda.
Shutdown lebih banyak dibahas dalam pengalaman komunitas autistik dan penelitian mengenai neurodivergensi. Sementara disosiasi lebih sering dibahas dalam konteks trauma dan kesehatan mental.
Akibatnya, hubungan antara keduanya masih sering kurang dipahami.
Fogging Out pada Autisme dan ADHD
Istilah fogging out dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa pikirannya berkabut, sulit fokus, atau seperti tidak sepenuhnya hadir.
Pada penyandang autisme dan ADHD, pengalaman ini dapat berkaitan dengan kelebihan beban sensorik.
Bayangkan seseorang berada dalam pesta ulang tahun.
Musik terdengar keras. Banyak orang berbicara. Anak-anak berlari. Lampu terang. Ada berbagai aroma makanan. Orang-orang datang silih berganti dan mengajak berbicara.
Secara sosial, seseorang mungkin ingin menikmati acara tersebut. Namun tubuhnya mungkin menerima terlalu banyak informasi dalam waktu bersamaan.
Akhirnya, pikiran mulai terasa jauh.
Seseorang mungkin duduk diam dan tampak tidak tertarik. Padahal sebenarnya, ia sedang berusaha keras untuk tetap berada di situ.
Inilah salah satu hal yang sering disalahpahami.
Orang lain mungkin menganggap seseorang sedang bersikap dingin, tidak peduli, atau sengaja menarik diri. Padahal, tubuhnya mungkin sedang menghadapi kondisi overload sensorik.
Bahkan, situasi yang secara emosional sangat penting justru dapat menjadi kondisi yang paling berat.
Acara keluarga, hari raya, pesta ulang tahun, atau pertemuan sosial besar bisa menjadi momen yang ingin dinikmati seseorang, tetapi pada saat yang sama justru memicu shutdown atau kabut mental.
Mengapa Memahami Penyebab Disosiasi Sangat Penting?
Cara mengatasi disosiasi dapat berbeda tergantung penyebabnya.
Jika seseorang mengalami disosiasi yang berkaitan dengan trauma, pendekatan yang dibutuhkan tentu berbeda dengan kondisi yang dipicu oleh kelebihan beban sensorik.
Karena itu, tidak semua pengalaman disosiasi dapat ditangani dengan cara yang sama.
Misalnya, seseorang mungkin mencoba berbagai teknik grounding untuk kembali fokus pada lingkungan. Teknik tersebut bisa membantu dalam beberapa kondisi.
Namun jika masalah utamanya adalah lingkungan yang terlalu bising dan penuh stimulus, meminta seseorang untuk lebih memperhatikan lingkungan justru belum tentu menyelesaikan masalah.
Yang mungkin dibutuhkan adalah mengurangi stimulus.
Memahami sumber masalah dapat membantu seseorang memilih strategi yang lebih tepat.
Cara Mengatasi Disosiasi yang Dipicu Kelebihan Sensorik
Jika fogging out atau kabut mental muncul ketika lingkungan terasa terlalu intens, langkah pertama adalah mencoba mengenali pemicunya.
Beberapa orang mungkin lebih sensitif terhadap suara. Orang lain lebih mudah kewalahan oleh cahaya, keramaian, atau terlalu banyak interaksi sosial.
Berikut beberapa strategi yang dapat membantu.
1. Kurangi Stimulus yang Tidak Perlu
Jika ruangan terlalu ramai atau bising, cobalah mengambil jeda.
Keluar sebentar dari ruangan dapat memberi kesempatan bagi sistem saraf untuk menurunkan tingkat tekanan.
Tidak semua orang harus bertahan dalam situasi yang membuat tubuh kewalahan.
2. Gunakan Stimulus yang Lebih Dapat Diprediksi
Sebagian orang merasa lebih terbantu ketika memiliki stimulus yang dapat mereka kendalikan.
Misalnya:
- menggunakan headphone
- mendengarkan musik tertentu
- berjalan-jalan sebentar
- mondar-mandir
- duduk di tempat yang lebih tenang
Bagi sebagian penyandang neurodivergen, aktivitas yang berulang dan dapat diprediksi justru membantu tubuh kembali merasa stabil.
3. Memiliki Rencana untuk Beristirahat atau Pergi
Terkadang, mengetahui bahwa kita memiliki pilihan untuk pergi sudah cukup membantu mengurangi tekanan.
Jika menghadiri acara sosial yang ramai, memiliki rencana sederhana seperti mengetahui lokasi tempat yang lebih tenang atau kapan bisa pulang dapat memberikan rasa aman.
4. Perhatikan Pola Tubuh dan Pikiran
Alih-alih langsung melawan kabut mental, cobalah bertanya kepada diri sendiri:
“Apa yang sedang terjadi?”
Apakah kondisi ini terasa menyenangkan, netral, atau tidak nyaman?
Apakah saya sedang lelah?
Apakah lingkungan terlalu ramai?
Apakah saya belum makan atau kurang tidur?
Apakah saya sedang menyerap terlalu banyak informasi?
Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu seseorang memahami apa yang sedang dibutuhkan tubuhnya.
Ketika Disosiasi Berkaitan dengan Trauma
Meski disosiasi tidak selalu karena trauma, trauma tetap dapat menjadi salah satu faktor penting dalam pengalaman disosiatif.
Jika seseorang merasa mengalami disosiasi yang sering, intens, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai pengalaman traumatis yang belum terselesaikan, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
Pendekatan yang memahami trauma dapat membantu seseorang mengenali hubungan antara pengalaman masa lalu, respons tubuh, dan kondisi yang dialami saat ini.
Namun, penting untuk tidak langsung menganggap setiap pengalaman kabut mental sebagai bukti adanya trauma tersembunyi.
Memahami konteks adalah bagian penting dalam memahami kondisi seseorang.
Belajar Mendengarkan Apa yang Disampaikan Tubuh
Kabut mental sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dilawan.
Padahal, dalam beberapa situasi, kondisi tersebut dapat menjadi informasi.
Tubuh mungkin sedang memberi sinyal bahwa lingkungan terlalu ramai. Mungkin kita sedang lelah. Mungkin terlalu banyak tuntutan yang harus diproses sekaligus.
Di waktu lain, seseorang mungkin hanya sedang sangat tenggelam dalam sebuah buku atau proyek yang menarik.
Tidak semua bentuk “tidak hadir sepenuhnya” memiliki arti yang sama.
Karena itu, belajar mengenali perbedaan antara satu pengalaman dan pengalaman lainnya bisa menjadi langkah yang sangat membantu.
Tidak ada seorang pun yang akan langsung menjadi ahli dalam membaca kondisi tubuhnya sendiri.
Namun, kita bisa mulai dengan memperhatikan pola.
Kapan kabut mental muncul?
Apa yang terjadi sebelumnya?
Bagaimana kondisi tubuh?
Apa yang membantu?
Apa yang justru membuat keadaan semakin berat?
Seiring waktu, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu kita memahami hubungan antara tubuh, lingkungan, emosi, dan perhatian.
Disosiasi Bukan Selalu Tanda Ada yang Salah
Memahami bahwa disosiasi tidak selalu karena trauma dapat membantu kita melihat pengalaman manusia dengan cara yang lebih luas.
Disosiasi berada dalam spektrum yang luas. Ada bentuk ringan yang umum terjadi, ada pengalaman absorpsi yang netral atau menyenangkan, dan ada pula kondisi yang tidak nyaman serta membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Bagi penyandang autisme dan ADHD, pikiran berkabut atau fogging out mungkin berkaitan dengan sistem saraf yang sedang menghadapi terlalu banyak stimulus.
Karena itu, penting untuk tidak terburu-buru memberikan satu penjelasan untuk semua pengalaman.
Kadang tubuh sedang meminta kita berhenti sejenak.
Kadang lingkungan terlalu ramai.
Kadang kita membutuhkan lebih sedikit stimulus.
Dan terkadang, kita hanya sedang sangat tenggelam dalam sesuatu yang menarik perhatian.
Kuncinya adalah belajar memahami konteks.
Alih-alih terus bertanya, “Ada apa yang salah dengan saya?”, mungkin pertanyaan yang lebih membantu adalah, “Apa yang sedang tubuh dan pikiran saya coba sampaikan?”
Bagi banyak orang, terutama penyandang autisme dan ADHD, perubahan cara memandang pengalaman tersebut dapat menjadi awal untuk memahami diri sendiri dengan lebih baik.
FAQ
Apa itu disosiasi?
Disosiasi adalah pengalaman ketika hubungan antara kesadaran, ingatan, identitas, tubuh, atau lingkungan terasa tidak sepenuhnya menyatu. Kondisinya dapat berupa pikiran berkabut, merasa dunia tidak nyata, tenggelam dalam aktivitas, hingga gangguan ingatan.
Apakah disosiasi selalu disebabkan oleh trauma?
Tidak. Disosiasi tidak selalu karena trauma. Pada beberapa orang, terutama penyandang autisme dan ADHD, pengalaman seperti fogging out dapat muncul akibat kelebihan beban sensorik, stres, kelelahan, atau kondisi perhatian yang sangat terserap pada suatu aktivitas.
Apa yang dimaksud dengan fogging out?
Fogging out adalah kondisi ketika pikiran terasa berkabut, sulit fokus, atau seseorang merasa tidak sepenuhnya hadir dalam situasi yang sedang dialami. Pengalaman ini dapat muncul karena berbagai faktor, termasuk overload sensorik.
Apa hubungan shutdown autisme dengan disosiasi?
Shutdown autisme dapat memiliki pengalaman yang mirip dengan disosiasi, seperti merasa jauh dari lingkungan, sulit berbicara, tubuh melambat, dan pikiran berkabut. Namun keduanya berasal dari konsep yang berbeda dan hubungan antara keduanya masih membutuhkan pemahaman serta penelitian lebih lanjut.
Apa yang menyebabkan overload sensorik pada autisme dan ADHD?
Overload sensorik dapat terjadi ketika jumlah suara, cahaya, sentuhan, keramaian, atau informasi lain melebihi kemampuan sistem saraf untuk memprosesnya. Kondisi tersebut dapat memicu meltdown atau shutdown.
Bagaimana cara mengatasi disosiasi akibat overload sensorik?
Beberapa langkah yang dapat membantu adalah mengurangi stimulus, keluar dari lingkungan yang ramai, menggunakan headphone, mendengarkan musik yang menenangkan, berjalan sebentar, atau memiliki rencana untuk beristirahat dari situasi yang terlalu intens.
Kapan harus mencari bantuan profesional?
Seseorang sebaiknya mempertimbangkan bantuan profesional jika pengalaman disosiasi terjadi sering, semakin intens, mengganggu pekerjaan atau kehidupan sehari-hari, menyebabkan hilangnya ingatan, atau berkaitan dengan pengalaman traumatis yang membutuhkan penanganan.
Referensi:



