Depresi Tak Hanya Memengaruhi Otak yang Mengatur Pikiran: Studi Ungkap Perubahan pada Sistem Motorik dan Visual

JEJAKFORENSIK.COM – Depresi selama ini sering dipahami sebagai gangguan yang terutama memengaruhi suasana hati, pikiran, ingatan, dan kemampuan seseorang mengatur emosi. Karena itu, pembahasan mengenai depresi dan otak umumnya berfokus pada sejumlah wilayah yang berkaitan dengan fungsi-fungsi tersebut, seperti hipokampus, korteks prefrontal, korteks cingulate anterior, serta default mode network.

Namun, studi berskala besar yang diterbitkan di Nature Mental Health pada 2026 menunjukkan gambaran yang lebih luas. Penelitian yang melibatkan 23.417 partisipan tersebut menemukan perubahan struktur otak yang tidak hanya berada pada wilayah yang selama ini sering dikaitkan dengan proses berpikir dan emosi, tetapi juga pada area yang berhubungan dengan gerakan, sensasi tubuh, dan penglihatan.

Temuan ini memberikan perspektif baru bahwa depresi mungkin bukan hanya gangguan pada “otak untuk berpikir”, tetapi juga berkaitan dengan cara tubuh bergerak dan merasakan dunia di sekitarnya.

Studi 23.417 Orang Mengubah Cara Kita Melihat Depresi dan Otak

Penelitian yang dipimpin Kassandra Hamilton dan timnya menggunakan data dari enam kumpulan data populasi besar dengan total 23.417 pemindaian otak. Jumlah partisipan yang sangat besar menjadi salah satu kekuatan utama penelitian ini.

Dalam penelitian pencitraan otak, studi dengan jumlah partisipan kecil dapat menghasilkan temuan yang sulit direplikasi. Semakin besar jumlah sampel, semakin besar pula peluang peneliti membedakan temuan yang benar-benar konsisten dari variasi atau “noise” dalam data.

Beberapa hasil penelitian ini sebenarnya masih sesuai dengan pemahaman sebelumnya. Orang dengan depresi menunjukkan perubahan pada sejumlah area korteks frontal, anterior cingulate, dan insula. Wilayah tersebut berkaitan dengan pengaturan suasana hati, pemrosesan emosi, serta kesadaran terhadap diri sendiri.

Namun, penelitian ini juga menghasilkan dua temuan yang cukup mengejutkan.

Pertama, tidak ditemukan perubahan signifikan yang konsisten pada sejumlah area subkortikal, termasuk hipokampus. Padahal, penyusutan hipokampus pada depresi selama bertahun-tahun sering dianggap sebagai salah satu temuan penting dalam penelitian neuroimaging.

Kedua, perubahan yang cukup jelas justru terlihat pada area somatomotor dan visual. Kedua sistem tersebut tidak biasanya menjadi pusat perhatian ketika orang membahas perubahan otak akibat depresi.

Depresi Ternyata Berkaitan dengan Area Motorik dan Visual

Area somatomotor berkaitan dengan gerakan serta pemrosesan informasi mengenai tubuh, sedangkan sistem visual berperan dalam mengolah informasi yang diterima melalui penglihatan.

Lalu, mengapa perubahan pada area tersebut penting?

Depresi tidak hanya hadir dalam bentuk kesedihan atau kehilangan minat. Banyak orang yang mengalaminya juga merasakan perubahan fisik. Tubuh dapat terasa berat, gerakan menjadi lebih lambat, dan aktivitas sederhana seperti bangun dari tempat tidur terasa membutuhkan usaha yang jauh lebih besar.

Dunia di sekitar seseorang yang mengalami depresi juga terkadang terasa berbeda. Lingkungan dapat tampak lebih datar, kurang menarik, atau kehilangan intensitas yang sebelumnya terasa biasa.

Selama ini, pengalaman tersebut sering dianggap sebagai konsekuensi dari suasana hati yang rendah. Seseorang tidak bergerak karena kehilangan motivasi, misalnya, atau tidak tertarik pada lingkungan karena sedang merasa sedih.

Temuan terbaru ini membuka kemungkinan bahwa hubungan tersebut lebih kompleks.

Jika area motorik dan visual memang memiliki keterkaitan langsung dengan depresi, pengalaman fisik dan sensorik tersebut mungkin bukan sekadar akibat dari perubahan suasana hati. Bisa saja perubahan tersebut memiliki hubungan biologis yang berjalan bersamaan dengan perubahan emosi, pikiran, dan ingatan.

Dengan kata lain, gejala fisik depresi mungkin memiliki dasar saraf yang lebih penting daripada yang selama ini diasumsikan.

Mengapa Tubuh Terasa Berat Saat Mengalami Depresi?

Salah satu pengalaman yang cukup umum dalam depresi adalah munculnya rasa berat pada tubuh atau perlambatan gerakan. Dalam istilah klinis, perlambatan aktivitas fisik dan mental dapat menjadi bagian dari gambaran depresi.

Namun, temuan mengenai sistem somatomotor memberikan pertanyaan baru: apakah pengalaman tubuh tersebut sekadar merupakan hasil dari perubahan suasana hati, atau apakah perubahan pada sistem motorik otak ikut berperan dalam munculnya gejala tersebut?

Penelitian lanjutan diperlukan untuk menjawabnya.

Kassandra Hamilton, salah satu peneliti utama studi tersebut, disebut tengah merencanakan penelitian lebih lanjut untuk melihat apakah area visual dan motorik dapat berkaitan dengan gejala depresi tertentu, bukan hanya tingkat keparahan depresi secara keseluruhan.

Jika hubungan tersebut terbukti, pemahaman tentang depresi dapat menjadi semakin spesifik. Depresi mungkin tidak selalu memiliki pola perubahan otak yang sama pada setiap orang.

Temuan Ini Juga Menantang Teori “Disconnect” pada Depresi

Temuan lain yang menarik berkaitan dengan konektivitas fungsional otak.

Salah satu gagasan yang cukup berpengaruh dalam penelitian depresi adalah bahwa kondisi tersebut dapat melibatkan gangguan komunikasi atau konektivitas di antara jaringan-jaringan otak tertentu. Salah satunya adalah default mode network, jaringan yang aktif ketika pikiran tidak sedang berfokus pada tugas eksternal.

Model tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan bahwa depresi sebagian merupakan bentuk “sindrom pemutusan hubungan”, ketika komunikasi antara jaringan otak tertentu menjadi kurang terkoordinasi.

Namun, studi terhadap 23.417 partisipan tidak menemukan perbedaan konektivitas fungsional yang signifikan dan konsisten antara orang dengan depresi dan mereka yang tidak mengalami depresi.

Hasil ini tidak berarti bahwa konektivitas otak sama sekali tidak memiliki hubungan dengan depresi. Namun, temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan konektivitas mungkin tidak merupakan ciri universal yang dapat ditemukan pada semua orang dengan depresi.

Hal ini penting karena penelitian sebelumnya sering kali dilakukan dengan jumlah partisipan yang jauh lebih kecil.

Depresi Bukan Hanya Masalah Pikiran dan Perasaan

Salah satu pesan penting dari penelitian ini adalah perlunya melihat depresi secara lebih menyeluruh.

Ketika seseorang mengalami depresi, perubahan yang terjadi tidak selalu terbatas pada cara mereka berpikir atau merasakan emosi. Kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan cara tubuh bergerak, merasakan sensasi, dan memproses informasi visual.

Perspektif ini membantu menjelaskan mengapa depresi dapat terasa begitu menyeluruh.

Seseorang mungkin mengetahui secara rasional bahwa ia perlu bangun dari tempat tidur, bekerja, mandi, berolahraga, atau bertemu orang lain. Namun, pengetahuan tersebut tidak otomatis membuat tubuh terasa siap melakukannya.

Dalam kondisi depresi, masalahnya bukan sekadar “kurang kemauan”. Pengalaman seseorang dapat melibatkan kombinasi perubahan emosional, kognitif, fisik, dan sensorik.

Apa Arti Temuan Ini bagi Pemahaman tentang Depresi?

Studi ini belum memberikan jawaban mengenai bagaimana perubahan struktur otak tersebut menyebabkan depresi. Hubungan yang ditemukan dalam penelitian pencitraan otak tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat.

Namun, hasilnya memberikan arah baru bagi penelitian.

Selama bertahun-tahun, banyak perhatian diberikan kepada area otak yang berkaitan dengan pikiran, emosi, dan ingatan. Temuan terbaru menunjukkan bahwa peneliti juga perlu memperhatikan sistem yang berkaitan dengan pengalaman tubuh dan persepsi sensorik.

Pendekatan tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa gejala depresi sangat beragam.

Dua orang dapat sama-sama mengalami depresi, tetapi gejala yang paling dominan bisa berbeda. Seseorang mungkin lebih banyak mengalami gangguan tidur dan kelelahan, sementara orang lain lebih mengalami kesulitan berkonsentrasi, kehilangan minat, perlambatan gerakan, atau perubahan dalam cara merasakan lingkungan.

Penelitian masa depan yang mampu menghubungkan perubahan otak tertentu dengan gejala spesifik dapat membantu membangun pemahaman yang lebih rinci mengenai variasi tersebut.

Depresi Memengaruhi “Otak Tubuh” dan “Otak Pikiran”

Selama ini, ada kecenderungan untuk membayangkan depresi sebagai masalah yang terjadi terutama di “bagian atas” otak, yaitu wilayah yang berkaitan dengan pikiran, emosi, dan pengambilan keputusan.

Studi baru ini memberikan koreksi terhadap gambaran tersebut.

Depresi dan otak tampaknya memiliki hubungan yang lebih luas. Selain wilayah yang mengatur emosi dan proses berpikir, sistem motorik dan visual juga dapat menjadi bagian dari gambaran biologis depresi.

Tentu, penelitian ini bukan berarti semua orang dengan depresi akan memiliki perubahan otak yang sama. Juga bukan berarti hasil pemindaian otak dapat digunakan untuk mendiagnosis depresi secara individual.

Namun, temuan tersebut memperkuat pemahaman bahwa depresi merupakan kondisi yang kompleks dan dapat memengaruhi pengalaman seseorang secara menyeluruh.

Pada akhirnya, depresi mungkin lebih tepat dipahami bukan sekadar sebagai gangguan suasana hati, tetapi sebagai kondisi yang dapat melibatkan hubungan erat antara pikiran, otak, tubuh, dan cara seseorang mengalami dunia.

FAQ: Depresi dan Perubahan Otak

Apakah depresi dapat menyebabkan perubahan pada otak?

Penelitian neuroimaging menunjukkan adanya perbedaan struktur dan fungsi otak yang berkaitan dengan depresi. Studi besar pada 23.417 partisipan menemukan perubahan pada sejumlah area kortikal, termasuk wilayah somatomotor dan visual. Namun, hubungan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa depresi secara langsung menyebabkan perubahan tersebut.

Bagian otak mana yang terpengaruh oleh depresi?

Depresi telah dikaitkan dengan sejumlah area otak yang berkaitan dengan emosi dan kognisi, seperti korteks frontal, anterior cingulate, dan insula. Studi terbaru juga menemukan perubahan pada area somatomotor dan visual.

Apakah hipokampus selalu menyusut pada orang dengan depresi?

Tidak selalu. Meskipun penelitian sebelumnya sering mengaitkan depresi dengan volume hipokampus yang lebih kecil, studi berskala besar ini tidak menemukan perubahan subkortikal, termasuk pada hipokampus, yang cukup konsisten untuk menjadi korelasi yang dapat diandalkan.

Mengapa depresi membuat tubuh terasa berat?

Rasa berat pada tubuh dan perlambatan gerakan merupakan pengalaman yang dapat muncul dalam depresi. Studi terbaru menimbulkan kemungkinan bahwa pengalaman tersebut memiliki hubungan dengan sistem somatomotor otak, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan mekanismenya.

Apakah depresi hanya memengaruhi pikiran dan emosi?

Tidak. Depresi dapat berkaitan dengan perubahan pengalaman fisik, seperti energi rendah dan gerakan yang melambat. Studi terbaru juga menunjukkan kemungkinan keterlibatan area otak yang berkaitan dengan gerakan dan pemrosesan visual.

Apakah hasil pemindaian otak dapat digunakan untuk mendiagnosis depresi?

Belum. Temuan neuroimaging pada tingkat kelompok tidak berarti bahwa pemindaian otak dapat digunakan secara langsung untuk menentukan apakah seseorang mengalami depresi. Diagnosis tetap membutuhkan penilaian klinis yang menyeluruh.

Apa temuan paling mengejutkan dari studi 23.417 partisipan?

Dua temuan yang menonjol adalah tidak ditemukannya perubahan subkortikal yang signifikan dan konsisten, termasuk pada hipokampus, serta ditemukannya perubahan pada area somatomotor dan visual yang selama ini relatif kurang mendapat perhatian dalam penelitian depresi.

Referensi:

https://www.psychologytoday.com/us/blog/cell-on-the-self/202608/depression-doesnt-just-affect-the-thinking-brain

Hilman Hilmansyah/Pixabay

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komunitas Jejak Forensik

Pintu Masuk Dunia Psikologi Forensik Ada di Grup WA Ini. Siap Gabung?
Latest News
Categories

Jangan Diam !

Jika kamu mengalami atau melihat kasus yang berkaitan dengan kekerasan, pelecehan, perundungan, atau masalah psikologis lainnya—jangan simpan sendiri.