JEJAKFORENSIK.COM – Kehilangan orang yang dicintai merupakan salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam hidup. Tidak ada cara yang benar atau salah untuk berduka karena setiap orang memiliki perjalanan emosinya sendiri. Namun, di balik rasa kehilangan yang mendalam, penelitian psikologi menunjukkan bahwa sebagian orang justru mampu menemukan makna baru, membangun ketahanan, bahkan berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat.
Proses ini dikenal sebagai pertumbuhan pascatrauma (post-traumatic growth atau PTG), yaitu perubahan positif yang muncul setelah seseorang berhasil melewati pengalaman hidup yang sangat berat. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa cara seseorang menghadapi duka atau strategi koping memiliki peran besar dalam menentukan apakah ia hanya bertahan, atau justru mampu bangkit dan berkembang.
Apa Itu Pertumbuhan Pascatrauma?
Pertumbuhan pascatrauma adalah perubahan positif yang terjadi setelah seseorang menghadapi peristiwa yang mengguncang hidupnya, seperti kehilangan pasangan, anak, anggota keluarga, atau orang terdekat.
Perubahan tersebut tidak berarti seseorang melupakan rasa sedih atau berhenti berduka. Sebaliknya, proses ini menggambarkan bagaimana seseorang perlahan membangun cara pandang baru terhadap kehidupan, menemukan tujuan yang lebih bermakna, memperkuat keyakinan, serta membentuk identitas yang lebih matang setelah melewati masa sulit.
Menurut penelitian Marta Pereira dan rekan-rekannya (2026), pertumbuhan ini terjadi melalui proses berpikir yang mendalam, pencarian makna hidup, dan cara seseorang menafsirkan pengalaman traumatis yang dialaminya.
Cara Menghadapi Duka Sangat Menentukan Proses Pemulihan
Tidak semua orang merespons kehilangan dengan cara yang sama. Ada yang memilih menghadapi kenyataan secara perlahan, sementara yang lain berusaha menghindari rasa sakit yang muncul.
Penelitian menunjukkan bahwa strategi koping atau cara seseorang mengatasi tekanan psikologis memiliki pengaruh besar terhadap proses pemulihan. Secara umum, terdapat dua pendekatan yang dinilai paling membantu.
1. Koping yang Berfokus pada Masalah
Strategi ini mendorong seseorang mengambil langkah nyata untuk menghadapi perubahan yang terjadi setelah kehilangan.
Misalnya, mulai mengatur kembali rutinitas harian, menyelesaikan berbagai urusan yang tertunda, mencari informasi yang dibutuhkan, atau meminta bantuan ketika merasa kewalahan.
Pendekatan ini membantu seseorang kembali memperoleh rasa kendali atas kehidupannya.
2. Koping yang Berfokus pada Emosi
Selain menyelesaikan persoalan praktis, seseorang juga perlu memberi ruang bagi emosinya.
Strategi ini dilakukan dengan menerima kesedihan, mengekspresikan perasaan, berbicara kepada orang yang dipercaya, menulis jurnal, atau mencoba melihat pengalaman tersebut dari sudut pandang yang lebih luas.
Mengelola emosi secara sehat membantu seseorang memproses kehilangan tanpa terus terjebak di dalamnya.
Menghindari Emosi Justru Menghambat Pemulihan
Tidak sedikit orang yang berusaha mengatasi kesedihan dengan berpura-pura kuat, menyibukkan diri tanpa henti, atau menekan seluruh emosinya.
Sekilas cara ini mungkin membuat rasa sakit terasa lebih ringan. Namun dalam jangka panjang, penelitian menunjukkan bahwa strategi menghindari emosi justru dapat memperlambat proses penyembuhan.
Ketika emosi terus ditekan, seseorang tidak benar-benar memproses pengalaman traumatis yang dialaminya. Akibatnya, rasa kehilangan dapat terus muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kecemasan, kemarahan, hingga kesedihan berkepanjangan.
Sebaliknya, menghadapi dan menerima emosi secara bertahap memberikan kesempatan bagi pikiran untuk memahami pengalaman tersebut sehingga proses penyembuhan dapat berjalan lebih sehat.
Semakin Berat Kehilangan, Semakin Besar Peluang Bertumbuh
Salah satu temuan menarik dalam penelitian Pereira melibatkan 889 orang dewasa yang pernah kehilangan orang tercinta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mengalami kehilangan paling berat, terutama kehilangan pasangan hidup atau anak, justru memiliki peluang lebih besar mengalami pertumbuhan pascatrauma. Kondisi ini terjadi ketika mereka mampu menggunakan strategi koping yang adaptif, baik yang berfokus pada penyelesaian masalah maupun pengelolaan emosi.
Temuan ini tidak berarti kehilangan yang lebih besar selalu menghasilkan pertumbuhan yang lebih tinggi. Namun, penelitian menunjukkan bahwa pengalaman yang sangat berat dapat menjadi titik balik ketika seseorang mampu menemukan makna baru dari penderitaannya.
Perempuan Cenderung Lebih Mudah Mengalami Pertumbuhan Pascatrauma
Penelitian juga menemukan adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam menghadapi duka.
Perempuan cenderung menunjukkan tingkat pertumbuhan pascatrauma yang lebih tinggi. Salah satu penyebabnya adalah mereka lebih sering melakukan refleksi atau perenungan secara sadar terhadap pengalaman yang dialami.
Melalui proses tersebut, perempuan lebih mudah membangun kembali keyakinan hidup yang sempat terguncang serta mengelola emosinya dengan lebih baik.
Namun, bukan berarti laki-laki tidak dapat mengalami pertumbuhan yang sama. Setiap individu memiliki cara dan waktu yang berbeda dalam memproses kehilangan.
Dukungan Sosial Membantu Proses Bangkit
Pemulihan dari kehilangan bukanlah perjalanan yang harus dijalani sendirian.
Kehadiran keluarga, sahabat, pasangan, komunitas keagamaan, maupun lingkungan yang suportif dapat memberikan rasa aman ketika seseorang sedang berusaha bangkit.
Mereka tidak harus selalu memberikan solusi. Terkadang, kehadiran yang tulus, kesediaan mendengarkan, dan memberikan ruang untuk bercerita sudah menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti.
Apabila kesedihan terasa sangat berat atau berlangsung terlalu lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan psikolog atau profesional kesehatan mental juga merupakan langkah yang bijaksana.
Penerimaan Adalah Awal dari Pertumbuhan
Duka memang tidak dapat dihindari. Kehilangan seseorang yang dicintai hampir selalu meninggalkan luka yang mendalam.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa proses penyembuhan tidak bergantung pada seberapa cepat seseorang melupakan rasa sedih, melainkan pada bagaimana ia belajar menghadapi, memahami, dan menerima pengalaman tersebut.
Mengambil langkah nyata untuk menata kembali kehidupan, memberi ruang bagi emosi untuk diproses, serta menghindari kebiasaan menekan perasaan merupakan bagian penting dari perjalanan menuju pertumbuhan.
Pada akhirnya, kehilangan mungkin mengubah hidup seseorang untuk selamanya. Tetapi dengan strategi koping yang tepat, dukungan dari orang-orang terdekat, dan kesediaan menerima proses yang tidak selalu mudah, duka dapat menjadi awal lahirnya pribadi yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih menghargai makna kehidupan.
Referensi:
Hilman Hilmansyah/pixabay



