JEJAKFORENSIK.COM – Kehilangan orang yang dicintai dapat meninggalkan kesedihan yang sangat dalam. Namun, bagi sebagian orang, proses berduka menjadi jauh lebih sulit ketika kenangan mengenai peristiwa traumatis terus muncul bersama gambaran mengerikan, ketakutan, atau gejolak emosi yang kuat.
Dalam kondisi seperti itu, seseorang mungkin bukan hanya sedang berduka karena kehilangan. Ia juga harus berhadapan dengan ingatan traumatis yang seolah terus membawa dirinya kembali ke peristiwa tersebut.
Padahal, proses berduka membutuhkan ruang untuk mengenang, menerima kehilangan, dan perlahan membangun kembali kehidupan. Ketika trauma terus memicu respons emosional yang intens, proses tersebut dapat menjadi lebih sulit.
Mengapa Ingatan Traumatis Bisa Menghambat Proses Berduka?
Kisah filsuf Lani Watson dalam bukunya The Hidden Power of Questions in a World That Wants Answers menggambarkan bagaimana pengalaman traumatis akibat kehilangan seseorang dapat bertahan sangat lama.
Dalam pengalamannya, Watson menjalani terapi setelah kehilangan seorang sahabat ketika masih berada di akhir masa remaja. Salah satu pertanyaan yang diajukan terapisnya adalah tentang sesuatu yang belum dapat ia lakukan sekarang tetapi ingin mampu dilakukan di masa depan.
Pertanyaan sederhana tersebut kemudian membuatnya memikirkan perubahan yang ingin dicapai melalui terapi.
Salah satu jawabannya adalah keinginannya untuk dapat memajang foto sahabatnya di dekat tempat tidur dan merasa nyaman ketika melihatnya.
Jawaban itu menunjukkan sesuatu yang penting dalam proses berduka. Terkadang, persoalannya bukan karena seseorang tidak ingin mengenang orang yang telah meninggal. Justru sebaliknya, kenangan tersebut masih terlalu menyakitkan untuk dihadapi dengan tenang.
Karena itu, pemulihan tidak selalu berarti melupakan orang yang telah pergi. Pemulihan dapat berarti mampu mengenang tanpa terus dikuasai oleh gejolak trauma.
Mengenal Teknik Rewind untuk Menangani Ingatan Traumatis
Salah satu pendekatan yang dibahas dalam sumber adalah teknik rewind atau teknik memutar ulang ingatan.
Dalam pendekatan human givens, teknik ini digunakan untuk membantu menetralkan respons emosional yang sangat intens terhadap pengalaman traumatis. Tujuannya bukan menghapus fakta bahwa suatu peristiwa pernah terjadi, melainkan membantu mengubah cara pengalaman tersebut tersimpan secara emosional.
Menurut sumber, teknik ini dilakukan ketika klien berada dalam kondisi relaksasi mendalam. Pendekatan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi risiko retraumatisasi selama proses berlangsung.
Jika berhasil, pengalaman traumatis tetap dapat dikenang sebagai sebuah peristiwa yang menyedihkan atau tragis, tetapi tidak lagi disertai beban emosional yang sama kuatnya.
Perbedaan ini penting.
Seseorang tidak harus berhenti merasa sedih terhadap kehilangan. Kesedihan merupakan bagian alami dari proses berduka. Yang ingin dikurangi adalah gejolak emosional traumatis yang membuat seseorang terus-menerus terguncang ketika berhadapan dengan ingatan tersebut.
Namun, sumber juga menekankan bahwa teknik rewind bukan metode yang berdiri sendiri. Dalam pelatihan human givens, teknik tersebut ditempatkan sebagai salah satu bagian dari proses pemulihan yang lebih luas.
Ketika Trauma Membuat Seseorang Tidak Mampu Berduka dengan Tenang
Bayangkan seseorang kehilangan pasangan dalam kecelakaan lalu lintas yang mengerikan. Mereka bahkan telah merencanakan pernikahan dalam waktu dekat.
Setelah lebih dari satu tahun berlalu, orang tersebut masih mengalami kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari dan sulit merasakan kebahagiaan.
Dalam contoh yang disampaikan sumber, teknik rewind digunakan untuk membantu menetralkan emosi intens yang masih melekat pada kematian pasangan sekaligus mengurangi pemicu yang terus membangkitkan respons emosional tersebut.
Setelah gangguan traumatis itu lebih terkendali, proses berduka dapat mulai berlangsung dengan lebih tenang.
Perubahan ini tidak berarti kehilangan menjadi tidak menyakitkan.
Sebaliknya, seseorang akhirnya dapat menghadapi dua kehilangan sekaligus: kehilangan orang yang dicintai dan kehilangan masa depan yang sebelumnya telah direncanakan bersama.
Berdamai dengan Kehilangan Bukan Berarti Melupakan
Salah satu bagian penting dalam proses berduka adalah menemukan cara baru untuk mempertahankan hubungan emosional dengan orang yang telah meninggal.
Setiap orang dapat memiliki cara yang berbeda.
Dalam contoh tersebut, seseorang memilih menyalakan lilin secara rutin sambil mengenang kebersamaan dengan pasangannya. Orang lain mungkin memilih memajang foto, menyimpan benda kenangan, menulis surat, atau memiliki ritual pribadi lainnya.
Tidak ada satu cara yang harus digunakan semua orang.
Yang penting adalah menemukan bentuk mengenang yang memungkinkan seseorang tetap menghargai hubungan masa lalu sekaligus memberikan ruang untuk menjalani kehidupan saat ini.
Dengan cara tersebut, mengenang tidak selalu menjadi sumber penderitaan. Kenangan dapat menjadi bagian dari kehidupan tanpa terus menarik seseorang kembali ke kondisi emosional yang melumpuhkan.
Peran Guided Imagery dalam Membayangkan Kehidupan Setelah Kehilangan
Setelah respons traumatis mulai lebih terkendali, sumber menggambarkan penggunaan guided imagery atau imajinasi terbimbing.
Pendekatan ini dapat digunakan untuk membantu seseorang membayangkan langkah-langkah kehidupannya ke depan.
Dalam kondisi terapi yang aman, seseorang dapat membayangkan bagaimana dirinya ingin menjalani kehidupan, tetap menyimpan tempat bagi orang yang telah meninggal di dalam hatinya, serta membayangkan kemungkinan untuk merasakan kebahagiaan kembali.
Bagi orang yang mengalami kehilangan berat, membayangkan kebahagiaan terkadang justru dapat memunculkan rasa bersalah.
Muncul pertanyaan seperti, “Bagaimana saya bisa bahagia sementara orang yang saya cintai sudah tidak ada?”
Karena itu, proses membayangkan masa depan menjadi bagian yang penting. Seseorang dapat belajar bahwa membuka kembali kehidupan tidak sama dengan mengkhianati kenangan terhadap orang yang telah pergi.
Kehidupan baru dapat tetap membawa tempat bagi kenangan lama.
Trauma Masa Kecil Membutuhkan Proses yang Lebih Panjang
Penanganan ingatan traumatis juga menjadi penting bagi orang yang mengalami kekerasan atau pengalaman traumatis sejak masa kanak-kanak.
Menetralkan respons emosional terhadap pengalaman traumatis bukan berarti seluruh persoalan otomatis selesai.
Masih mungkin terdapat rasa takut dan marah yang telah mengakar, hilangnya kepercayaan kepada orang lain, kesulitan mengelola emosi, maupun berbagai pola hubungan yang terbentuk akibat pengalaman masa lalu.
Karena itu, pemulihan membutuhkan proses lanjutan.
Dalam konteks sumber, teknik rewind dipandang sebagai titik awal yang dapat membantu seseorang ketika ingatan traumatis menjadi penghalang untuk memulai proses tersebut.
Namun, tahap berikutnya tetap penting: seseorang perlu belajar memahami emosinya, membangun kembali rasa aman, mengembangkan hubungan yang lebih sehat, serta memenuhi kebutuhan psikologisnya secara lebih efektif.
Pertanyaan yang Tepat Dapat Membuka Jalan Pemulihan
Kisah Watson juga menunjukkan bahwa pertanyaan yang tepat dapat membantu seseorang melihat tujuan terapi dari sudut pandang yang berbeda.
Pertanyaan seperti, “Apa yang ingin dapat Anda lakukan di masa depan yang sekarang belum mampu Anda lakukan?” menggeser perhatian dari semata-mata membicarakan luka masa lalu menuju kemungkinan perubahan.
Bukan berarti pengalaman traumatis harus diabaikan.
Sebaliknya, seseorang dapat mengakui apa yang terjadi sambil perlahan menentukan kehidupan seperti apa yang ingin dibangun setelahnya.
Dalam proses pemulihan, pertanyaan yang tepat dapat membantu seseorang menemukan harapan, tujuan, dan langkah konkret yang sebelumnya sulit terlihat.
Cara mengatasi ingatan traumatis tidak selalu berarti menghapus kenangan tentang peristiwa menyakitkan. Dalam proses berduka, tujuan yang lebih realistis adalah membantu seseorang dapat mengingat tanpa terus-menerus dikuasai oleh respons traumatis yang melumpuhkan.
Teknik rewind, relaksasi mendalam, dan guided imagery merupakan pendekatan yang dibahas dalam sumber sebagai bagian dari proses tersebut. Namun, tidak ada satu metode yang cocok untuk semua orang, dan penanganan trauma tidak berhenti setelah respons emosional terhadap sebuah ingatan berkurang.
Pada akhirnya, pemulihan memungkinkan seseorang melakukan sesuatu yang sebelumnya terasa mustahil: tetap mencintai dan mengenang orang yang telah pergi, sekaligus perlahan memberikan izin kepada dirinya sendiri untuk menjalani kehidupan kembali.
Berduka bukan berarti harus melupakan.
Bergerak maju juga bukan berarti meninggalkan orang yang pernah begitu berarti.
Keduanya dapat berjalan bersama.
Referensi:
Hilman Hilmansyah/Freepik.com



