JEJAKFORENSIK.COM – Bullying di kalangan remaja bukan isu sepele. Di balik perilaku agresif atau diamnya korban, ada proses biologis yang bekerja di otak yang mempengaruhi cara mereka merespons lingkungan.
Hal ini diungkapkan oleh Lucy Lidiawati Santioso, S.Psi., M.H., seorang psikolog klinis forensik, dalam Web Talk “Neurosains dan Bullying: Memahami Pola Pikir Remaja” yang digelar oleh Komunitas Jejak Psikologi Forensik (Jaksifor) pada Selasa (1/10).
Ia menjelaskan bahwa memahami cara kerja otak remaja dapat membantu kita melihat akar masalah bullying dan dampaknya yang sering kali tak terlihat.
Perkembangan Otak: Mengapa Remaja Rentan
Lucy memaparkan bahwa perkembangan otak manusia dimulai sejak dalam kandungan. Namun, tidak semua bagian otak matang pada waktu yang sama. Salah satu bagian penting, korteks prefrontal, baru mencapai perkembangan optimal di usia sekitar 25 tahun.
“Pada anak-anak dan remaja, korteks prefrontal ini belum matang. Bagian otak ini bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan pengendalian emosi. Karena belum berkembang sempurna, keputusan dan reaksi mereka sering kali dipengaruhi oleh amigdala, yaitu pusat emosi yang responsif terhadap ancaman dan imbalan,” jelas Lucy.
Ketidakseimbangan ini membuat remaja lebih mudah tersulut emosi, sulit menahan impuls, dan belum mampu sepenuhnya mengatur sikap ketika menghadapi tekanan sosial.
Saat Bullying Mengaktifkan ‘Alarm Bahaya’ Otak
Amigdala berfungsi seperti alarm bahaya. Ketika seseorang merasa terancam, bagian ini akan mengirim sinyal ke batang otak untuk bereaksi cepat: melawan, kabur, atau membeku.
“Banyak korban bullying yang akhirnya tidak bisa melawan atau bahkan tidak mampu bicara. Itu bukan karena mereka lemah, tetapi karena sistem sarafnya memerintahkan untuk diam sebagai cara bertahan hidup,” kata Lucy.
Ia menambahkan bahwa trauma berulang dapat membuat jalur komunikasi di otak terganggu. Informasi yang seharusnya diproses oleh pusat berpikir malah terperangkap di area emosi, sehingga korban sulit mengungkapkan perasaan atau menceritakan pengalamannya.
Sistem Reward Otak: Mengapa Pelaku Merasa Puas
Fenomena lain yang menarik adalah mengapa pelaku bullying merasa puas setelah menyakiti orang lain. Lucy menjelaskan bahwa hal ini terkait dengan sistem reward otak, yaitu mekanisme yang mengeluarkan hormon dopamin saat seseorang menerima penghargaan atau pengakuan sosial.
“Ketika pelaku mendapat sorakan atau tepuk tangan dari teman, dopamin meningkat. Otak merekam momen itu sebagai sesuatu yang menyenangkan, meskipun tindakan yang dilakukan negatif. Ini membuat perilaku agresif bisa diulang,” tutur Lucy.
Ia menambahkan, jika perilaku ini terus berulang dan mendapat ‘penghargaan sosial’, otak pelaku semakin terbiasa menurunkan kontrol diri. Akibatnya, empati menurun dan dorongan agresif semakin menguat.
Luka yang Tak Terlihat: Dampak Jangka Panjang pada Korban
Bullying tidak hanya meninggalkan luka psikologis, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan otak korban. Lucy mengungkapkan bahwa ejekan atau penolakan sosial dianggap sebagai ancaman nyata oleh otak, yang memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin.
“Jika stres ini terjadi terus-menerus, kadar kortisol menjadi kronis dan memengaruhi bagian otak yang mengatur memori serta pengendalian emosi. Itulah mengapa korban sering kali menjadi mudah cemas, sulit tidur, sulit berkonsentrasi, bahkan mengalami depresi,” jelasnya.
Selain itu, trauma yang terus diulang dapat mengubah cara otak memproses informasi. Korban merasa tidak berdaya, kehilangan rasa percaya diri, hingga mengalami penurunan kemampuan kognitif.
Peran Lingkungan: Keluarga dan Sekolah
Menurut Lucy, faktor lingkungan seperti pola asuh di rumah dan budaya sekolah memiliki pengaruh besar. Anak yang tumbuh di lingkungan penuh konflik atau mengalami kekerasan domestik lebih rentan menjadi pelaku maupun korban bullying.
“Kadang pelaku juga sebenarnya korban di rumah. Mereka menganggap kekerasan adalah hal yang normal karena terbiasa melihatnya,” kata Lucy.
Budaya sekolah yang tidak ramah atau sistem senioritas yang tidak sehat juga dapat memperparah masalah ini. Korban yang tidak mendapat dukungan akan merasa sendirian dan semakin terpuruk.
Harapan dari Neuroplastisitas: Otak yang Bisa Pulih
Meski dampak bullying terlihat mengerikan, Lucy menegaskan bahwa otak manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk pulih, yang dikenal dengan istilah neuroplastisitas.
“Otak kita bisa membentuk sambungan baru dan memperkuat jalur yang sehat jika dilatih dan berada di lingkungan yang mendukung. Itu sebabnya penting bagi korban trauma untuk mendapatkan terapi, dukungan keluarga, dan lingkungan yang aman,” ungkapnya.
Lucy menambahkan, aktivitas sederhana seperti membaca, berolahraga, hingga belajar keterampilan baru dapat membantu otak terus berkembang dan mengurangi efek buruk trauma.
Menutup Luka, Menumbuhkan Empati
Bullying adalah masalah kompleks yang tidak hanya melibatkan korban dan pelaku, tetapi juga keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Memahami cara kerja otak membantu kita melihat bahwa perilaku agresif maupun pasif bukanlah semata soal karakter, tetapi juga hasil dari proses biologis dan lingkungan yang saling berinteraksi.
“Yang penting kita tidak berhenti berusaha. Otak manusia itu luar biasa, bisa pulih dan belajar menjadi lebih baik. Yang dibutuhkan adalah dukungan, edukasi, dan lingkungan yang aman,” pungkas Lucy dengan optimistis.
Artikel ini menjadi pengingat bahwa untuk memutus rantai bullying, kita tidak hanya perlu menegakkan aturan tetapi juga memahami sains di balik perilaku remaja, serta menyediakan ruang aman bagi setiap anak untuk tumbuh dan berkembang dengan sehat.
Diskusi ini menjadi salah satu rangkaian menuju Festival Aksi Anak Damai: “Damai Itu Aku”, yang menyoroti pentingnya lingkungan aman bagi tumbuh kembang remaja.
Komunitas Jejak Psikologi Forensik (Jaksifor) adalah komunitas praktisi dan akademisi yang fokus pada isu-isu psikologi forensik di Indonesia. Web Talk ini merupakan bagian dari rangkaian menuju Festival Aksi Anak Damai 2025 dengan tema “Damai Itu Aku”, yang mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan mental anak dan remaja.***



