Memahami Cara Kerja Pikiran Kriminal: Mengapa Seseorang Bisa Melakukan Kejahatan?

JEJAKFORENSIK.COM – Kasus pembunuhan, perampokan, penipuan hingga kejahatan berantai selalu memunculkan satu pertanyaan yang sama di benak banyak orang: mengapa seseorang bisa melakukan kejahatan? Pertanyaan inilah yang menjadi fokus utama psikologi forensik, cabang ilmu psikologi yang mempelajari hubungan antara perilaku manusia dan sistem hukum.

Melalui penelitian selama bertahun-tahun, para psikolog forensik berusaha memahami faktor-faktor yang mendorong seseorang melakukan tindakan kriminal. Mereka juga mencoba mengidentifikasi pola perilaku pelaku, menilai kondisi psikologisnya, hingga membantu proses penyelidikan melalui analisis perilaku.

Menariknya, mempelajari pikiran kriminal bukan hanya bertujuan menangkap pelaku, tetapi juga membantu mencegah kejahatan di masa depan.

Mengapa Seseorang Memilih Melakukan Kejahatan?

Tidak ada satu penyebab tunggal yang membuat seseorang menjadi pelaku kriminal. Sebagian orang terdorong oleh emosi yang sangat kuat, seperti kemarahan, dendam, rasa takut, atau merasa berhak mendapatkan sesuatu dengan cara apa pun.

Pada kasus lain, penyalahgunaan narkoba atau alkohol membuat seseorang kehilangan kemampuan berpikir jernih sehingga lebih mudah bertindak impulsif dan melanggar hukum.

Gangguan mental tertentu juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang kenyataan. Meski demikian, penting dipahami bahwa sebagian besar orang dengan gangguan mental tidak pernah melakukan tindak kriminal. Dalam banyak kasus, kejahatan justru dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, seperti pengalaman masa kecil yang penuh kekerasan, pengabaian, trauma, lingkungan sosial yang buruk, hingga minimnya kemampuan mengendalikan emosi.

Pada pelaku kejahatan berulang atau pembunuh berantai, para peneliti sering menemukan karakteristik seperti rendahnya empati, keinginan membalas dendam, kebutuhan untuk menguasai orang lain, atau gangguan kepribadian tertentu. Namun, setiap kasus tetap memiliki latar belakang yang berbeda sehingga tidak bisa disamaratakan.

Bagaimana Psikolog Membuat Profil Pelaku Kejahatan?

Dalam dunia investigasi kriminal, psikolog forensik terkadang membantu penyidik melalui profil kriminal. Tujuannya bukan untuk menunjuk seseorang sebagai pelaku, melainkan mempersempit kemungkinan siapa yang paling sesuai dengan karakteristik pelaku berdasarkan bukti yang tersedia.

Penyusunan profil dilakukan dengan menggabungkan berbagai informasi, seperti:

  • kondisi tempat kejadian perkara (TKP)
  • pola tindakan pelaku
  • barang bukti yang ditinggalkan
  • keterangan korban maupun saksi
  • riwayat kejahatan serupa
  • pengetahuan tentang perilaku manusia dan psikopatologi.

Dari berbagai petunjuk tersebut, psikolog dapat memperkirakan karakter pelaku, kebiasaannya, kemungkinan motif, hingga pola yang mungkin akan diulang. Informasi ini kemudian membantu aparat penegak hukum menyusun strategi penyelidikan yang lebih efektif.

Benarkah Gangguan Mental Menyebabkan Kejahatan?

Topik ini sering menimbulkan kesalahpahaman. Faktanya, sebagian besar penderita gangguan mental tidak melakukan tindakan kriminal dan justru lebih sering menjadi korban kekerasan dibanding pelakunya.

Meski demikian, data menunjukkan cukup banyak penghuni lembaga pemasyarakatan memiliki gangguan mental yang belum mendapatkan penanganan memadai. Dalam kondisi tertentu, gangguan yang tidak diobati dapat memperburuk kemampuan seseorang mengendalikan perilaku atau membuatnya hidup dalam situasi yang meningkatkan risiko melakukan pelanggaran hukum.

Karena itu, banyak ahli menilai bahwa layanan kesehatan jiwa yang mudah diakses dapat menjadi salah satu langkah penting untuk menekan angka kejahatan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Mengapa Banyak Orang Tertarik dengan Kisah Kejahatan?

Fenomena populernya film dokumenter kriminal, podcast true crime, serial investigasi, hingga buku tentang pembunuh berantai menunjukkan bahwa manusia memang memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap kejahatan.

Secara psikologis, ketertarikan tersebut muncul karena otak berusaha memahami sesuatu yang dianggap ekstrem, langka, dan mengancam. Sama seperti sulit mengalihkan pandangan dari sebuah kecelakaan di jalan, kisah kriminal memicu rasa ingin tahu untuk mencari jawaban atas pertanyaan, “Mengapa ini bisa terjadi?”

Pembunuh berantai, misalnya, sering menjadi perhatian karena korbannya dipilih secara acak sehingga menimbulkan rasa tidak aman. Dengan mempelajari pola perilaku mereka, sebagian orang merasa memiliki pemahaman yang dapat membantu mereka lebih waspada dan mengurangi risiko menjadi korban.

Psikologi Forensik Bukan Hanya Tentang Pelaku Kejahatan

Banyak orang mengira seluruh pekerjaan psikolog forensik hanya berkaitan dengan mengejar penjahat. Padahal ruang lingkup profesi ini jauh lebih luas.

Selain menganalisis perilaku kriminal, psikolog forensik juga terlibat dalam penilaian kondisi psikologis tersangka, korban, maupun saksi, memberikan pendapat ahli di pengadilan, membantu proses rehabilitasi narapidana, hingga menyusun program pencegahan kekerasan dan kejahatan.

Dengan kata lain, tujuan utama psikologi forensik bukan sekadar memahami pelaku, tetapi juga mencari cara agar kejahatan dapat dicegah dan masyarakat menjadi lebih aman.

Memahami Bukan Berarti Membenarkan

Mempelajari pikiran kriminal bukan berarti mencari pembenaran atas tindakan pelaku. Sebaliknya, memahami faktor psikologis di balik sebuah kejahatan membantu para ahli mengembangkan strategi pencegahan yang lebih efektif.

Semakin baik kita memahami bagaimana emosi, trauma, lingkungan, kepribadian, dan kondisi mental memengaruhi perilaku seseorang, semakin besar peluang untuk mengenali faktor risiko sejak dini. Pendekatan inilah yang menjadi salah satu kunci dalam membangun sistem hukum yang tidak hanya menghukum, tetapi juga mampu mencegah munculnya kejahatan di masa depan.

Referensi:

https://www.psychologytoday.com/us/basics/forensic-psychology#understanding-the-criminal-mind

Hilman Hilmansyah/Freepik.com

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komunitas Jejak Forensik

Pintu Masuk Dunia Psikologi Forensik Ada di Grup WA Ini. Siap Gabung?
Latest News
Categories

Jangan Diam !

Jika kamu mengalami atau melihat kasus yang berkaitan dengan kekerasan, pelecehan, perundungan, atau masalah psikologis lainnya—jangan simpan sendiri.