Toleransi: Kunci Hidup Damai dan Bebas dari Stres


JEJAKFORENSIK.COM – Sebagai penutup rangkaian acara 24 Jam Healing & Edukasi Non-Stop Bersama JAKSIFOR, webinar kali ini menghadirkan tema yang penuh makna: “Toleransi Indah dalam Perbedaan.”

Acara ini menghadirkan narasumber seorang psikolog, Ibu Krensa Widyasti, S.Psi., M.Psi., yang membagikan pandangannya tentang pentingnya membangun sikap toleransi — baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Menciptakan Lingkungan yang Menerima Tanpa Syarat

Menurut Ibu Krensa, stres dan kecemasan sering muncul bukan semata karena tekanan hidup, tetapi karena seseorang berada di lingkungan yang tidak mampu menerima dirinya apa adanya. “Jika kamu sering merasa stres atau cemas, mungkin itu tandanya kamu belum berada di lingkungan yang tepat,” ujar Ibu Krensa.

Ia menjelaskan bahwa salah satu cara untuk mengurangi tekanan psikologis adalah dengan bergabung di komunitas atau lingkungan yang menerima tanpa syarat — tempat kita bisa berkembang dan menjadi diri sendiri, seperti halnya komunitas JAKSIFOR. Dalam lingkungan yang aman dan suportif, seseorang akan merasa dihargai, dicintai, dan memiliki tempat.

Rasa Aman dan Dicintai: Pondasi Kesehatan Mental

Lebih lanjut, Ibu Krensa menyebutkan bahwa dua kebutuhan dasar manusia adalah rasa aman dan dicintai. Ketika dua hal ini terpenuhi, maka rasa percaya diri akan tumbuh secara alami. Dari rasa percaya diri itulah muncul harga diri (self-esteem) yang sehat.
“Dengan self-esteem yang baik, kita bisa menghadapi hidup tanpa mudah stres atau cemas,” jelasnya.

Menariknya, toleransi tidak hanya soal menerima perbedaan antarindividu, tetapi juga tentang menerima diri sendiri. Menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki adalah bentuk toleransi paling mendasar yang sering kali kita lupakan.

Belajar Mentoleransi Orang Lain

Selain pentingnya menoleransi diri sendiri, Ibu Krensa juga menekankan makna toleransi terhadap orang lain. Menurutnya, menghargai pilihan, perilaku, dan keyakinan orang lain berarti kita sedang melatih empati.
“Saat kamu bisa menoleransi keputusan orang lain, kamu sebenarnya sedang menjaga mereka agar tidak kehilangan semangat dan mimpinya,” ujar Ibu Krensa.

Ia menambahkan, ketika kita menghargai cara hidup dan pandangan orang lain tanpa menghakimi, kita turut menciptakan lingkungan yang damai. Orang-orang di sekitar pun akan merasa lebih percaya diri dan termotivasi untuk berkembang.

Toleransi Membangun Empati dan Kedamaian

Lebih dalam lagi, Ibu Krensa mengaitkan toleransi dengan latihan empati. Dengan mencoba memahami posisi orang lain, kita belajar untuk tidak hanya melihat dari sudut pandang pribadi.


“Empati membantu kita memahami alasan di balik tindakan seseorang. Dari situlah lahir ketenangan dan kedamaian batin,” jelasnya.

Dengan berempati dan menoleransi perbedaan, hidup terasa lebih ringan. Kita tidak mudah terganggu oleh pandangan atau tindakan orang lain, dan tidak mudah terseret konflik batin.

Menemukan Kedamaian Lewat Toleransi

Sebagai penutup, Ibu Krensa menyampaikan pesan reflektif:

“Rasa aman dan diterima adalah kunci untuk mencegah stres dan konflik batin. Dengan memahami diri sendiri dan menoleransi orang lain, kita bisa menjalani hidup dengan lebih damai.”

Ia juga mengingatkan peserta webinar untuk tidak pernah mengecilkan mimpi orang lain, serta pentingnya memilih lingkungan yang mendukung pertumbuhan pribadi. Karena, pada akhirnya, hal yang benar-benar bisa kita kendalikan hanyalah diri kita sendiri, bukan orang lain.

Webinar ini menjadi penutup yang hangat dan penuh makna dalam rangkaian kegiatan JAKSIFOR. Melalui pesan-pesan yang dibagikan oleh Ibu Krensa, peserta diajak untuk merenungkan kembali arti toleransi — bukan hanya sebagai sikap sosial, tetapi juga sebagai jalan menuju kedamaian batin dan kehidupan yang lebih sehat secara mental.***

Azza/Freepik.com

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komunitas Jejak Forensik

Pintu Masuk Dunia Psikologi Forensik Ada di Grup WA Ini. Siap Gabung?
Latest News
Categories

Jangan Diam !

Jika kamu mengalami atau melihat kasus yang berkaitan dengan kekerasan, pelecehan, perundungan, atau masalah psikologis lainnya—jangan simpan sendiri.