Dampak Orang Tua Berbohong pada Anak: Bisa Picu Anak Tidak Jujur dan Agresif

JEJAKFORENSIK.COM – Dalam keseharian, banyak orang tua mungkin pernah mengatakan hal yang tidak sepenuhnya benar kepada anak. Entah itu untuk membuat anak menurut, menenangkan, atau sekadar mempermudah situasi. Dalam dunia penelitian, kebiasaan ini dikenal sebagai parenting by lying atau pengasuhan dengan kebohongan, yaitu ketika orang dewasa sengaja menyampaikan informasi yang tidak benar untuk memengaruhi perilaku anak.

Menurut penelitian Peipei Setoh dan rekan-rekannya, praktik ini ternyata cukup umum. Banyak orang tua melakukannya, bahkan tanpa sadar. Tapi pertanyaan pentingnya adalah: apakah ini aman? Atau justru membawa dampak jangka panjang?

Sejumlah bukti mulai menunjukkan bahwa kebiasaan ini bukan sekadar hal sepele. Anak-anak yang sering dibohongi cenderung belajar melakukan hal yang sama. Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka juga berisiko menunjukkan perilaku agresif dan kesulitan dalam bersosialisasi.

Ketika Kebohongan Menjadi Contoh

Untuk memahami dampaknya, peneliti mencoba melihat langsung bagaimana anak bereaksi terhadap kebohongan orang dewasa. Salah satu eksperimen dilakukan oleh Chelsea Hays dan Leslie Carver.

Dalam eksperimen tersebut, seorang dewasa mengajak anak ke ruangan lain dengan janji ada permen. Tapi ternyata tidak ada apa-apa di sana. Orang dewasa itu kemudian mengakui bahwa ia berbohong, dengan alasan ingin mengajak anak bermain.

Reaksi anak cukup bisa ditebak. Mereka kecewa, tapi tetap bersikap sopan dan mau melanjutkan interaksi.

Di tahap berikutnya, anak diajak bermain tebak-tebakan. Lalu, saat orang dewasa meninggalkan ruangan, anak diminta tidak mengintip mainan yang disembunyikan. Diam-diam, perilaku anak direkam.

Ketika orang dewasa kembali dan bertanya apakah anak mengintip, di situlah muncul momen penting. Anak harus memilih: jujur atau berbohong.

Hasilnya menarik. Anak usia 3–4 tahun cenderung tetap jujur, dan tidak terlalu terpengaruh oleh kebohongan sebelumnya. Namun, anak usia 5 tahun ke atas menunjukkan pola berbeda. Mereka lebih sering melanggar aturan (mengintip) dan lebih sering berbohong setelah sebelumnya dibohongi.

Ini memberi gambaran sederhana: anak belajar dari pengalaman. Ketika mereka melihat orang dewasa berbohong, mereka mulai menganggap itu sebagai pilihan yang bisa dilakukan.

Kenapa Anak Kecil Berbeda?

Anak usia dini kemungkinan belum sepenuhnya memahami konsep kebohongan. Secara kognitif, mereka masih berkembang. Selain itu, mereka juga cenderung lebih mudah memaafkan.

Namun seiring bertambahnya usia, anak mulai memahami niat di balik tindakan orang lain. Mereka mulai berpikir, menilai, dan menyesuaikan perilaku. Di titik ini, contoh dari orang tua menjadi sangat berpengaruh.

Bentuk Kebohongan yang Sering Terjadi

Dalam kehidupan sehari-hari, kebohongan orang tua tidak selalu terlihat besar. Justru sering muncul dalam bentuk yang terasa “biasa”, seperti:

  • Ancaman yang tidak nyata, misalnya menakut-nakuti dengan polisi
  • Janji yang tidak benar-benar akan ditepati
  • Pujian berlebihan yang tidak tulus
  • Cerita fiktif yang sebenarnya tidak diyakini orang tua

Kebohongan seperti ini sering disebut sebagai kebohongan instrumental, karena digunakan untuk mencapai tujuan tertentu, seperti membuat anak patuh atau tenang.

Survei menunjukkan bahwa praktik ini sangat umum. Di beberapa negara, sebagian besar orang tua mengaku pernah melakukannya.

Dampak Jangka Panjang: Tidak Sekadar Meniru

Karena sulit melakukan eksperimen jangka panjang pada anak, peneliti menggunakan pendekatan lain, yaitu melihat hubungan antara pengalaman masa kecil dan perilaku saat dewasa.

Penelitian oleh Rachel Santos menemukan bahwa anak yang tumbuh dengan orang tua yang sering berbohong cenderung lebih sering berbohong juga ketika dewasa, bahkan kepada orang tua mereka sendiri.

Selain itu, mereka juga lebih berisiko mengalami masalah penyesuaian diri, seperti:

  • Perilaku agresif
  • Kesulitan mengelola emosi
  • Kecenderungan antisosial

Memang, hubungan ini bersifat korelasi, bukan sebab-akibat langsung. Tapi pola yang muncul cukup konsisten di berbagai studi.

Kenapa Kebohongan Bisa “Menular”?

Secara sederhana, anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua yang mereka percaya saja tidak jujur, maka standar kejujuran menjadi kabur.

Dalam perspektif teori permainan, situasi ini mirip dengan konsep Dilema Tahanan. Dalam kondisi ini, seseorang harus memutuskan apakah akan percaya atau melindungi diri sendiri.

Anak juga berada di posisi serupa. Mereka harus memilih: percaya pada orang tua, atau mulai bersikap defensif.

Jika kepercayaan sering dilanggar, anak bisa mengambil jalan aman, yaitu tidak lagi sepenuhnya jujur atau terbuka. Bahkan, mereka bisa “membalas” dengan cara yang sama.

Namun, manusia tidak selalu bereaksi ekstrem. Kita cenderung melihat pola jangka panjang. Jika orang tua secara umum jujur dan bisa dipercaya, satu-dua kesalahan biasanya masih bisa dimaklumi.

Risiko Lain yang Sering Terlewat

Peneliti juga menduga bahwa kebiasaan berbohong bisa membuat orang tua melewatkan kesempatan penting: berdialog dengan anak.

Alih-alih menjelaskan, berdiskusi, atau melatih anak memahami konsekuensi, kebohongan menjadi jalan pintas. Akibatnya, anak kehilangan kesempatan belajar keterampilan penting seperti:

  • Mengelola emosi
  • Bernegosiasi
  • Memecahkan masalah

Dalam jangka panjang, kekurangan keterampilan ini bisa berkontribusi pada perilaku bermasalah.

Dampak pada Hubungan Orang Tua dan Anak

Selain memengaruhi perilaku, kebohongan juga bisa merusak hubungan. Studi lain menunjukkan bahwa orang dewasa yang mengingat sering dibohongi saat kecil cenderung merasa kurang puas dengan hubungan mereka dengan orang tua.

Kepercayaan yang rusak tidak selalu terlihat langsung. Tapi seiring waktu, bisa menciptakan jarak emosional.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Tidak berarti orang tua harus selalu sempurna. Hampir semua orang pernah melakukan kesalahan. Yang penting adalah kesadaran dan perbaikan.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:

  • Mengurangi kebohongan, sekecil apa pun
  • Lebih jujur dalam menjelaskan situasi kepada anak
  • Menggunakan pendekatan komunikasi, bukan manipulasi
  • Memberi contoh nyata tentang kejujuran

Anak belajar bukan dari apa yang kita katakan, tapi dari apa yang kita lakukan.

Membangun anak yang jujur sebenarnya tidak rumit, tapi memang butuh konsistensi. Kebohongan kecil yang dianggap sepele bisa berdampak besar jika dilakukan berulang.

Jika ingin anak tumbuh dengan nilai kejujuran, orang tua perlu menjadi contoh pertama. Pasalnya, hubungan yang sehat dan kuat selalu berangkat dari satu hal: saling percaya.

Referensi: https://parentingscience.com/what-happens-when-adults-lie-to-children/

Hilman/Freepik.com

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komunitas Jejak Forensik

Pintu Masuk Dunia Psikologi Forensik Ada di Grup WA Ini. Siap Gabung?
Latest News
Categories

Jangan Diam !

Jika kamu mengalami atau melihat kasus yang berkaitan dengan kekerasan, pelecehan, perundungan, atau masalah psikologis lainnya—jangan simpan sendiri.