JEJAKFORENSIK.COM – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Teknologi mempercepat akses informasi, mempermudah proses belajar, hingga membuka ruang inovasi yang semakin luas. Namun di balik manfaat tersebut, muncul tantangan besar terkait etika, integritas, dan nilai kemanusiaan di lingkungan pendidikan.
Hal itu disampaikan Rektor Universitas Insan Cita Indonesia, Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin dalam acara Bincang Guru Fiesta Festival Edukasi Insan Cita bertema “Etika di Dunia Pendidikan: Saat Beragam Fenomena Berhasil Merusak Integritas Pendidik dan Peserta Didik”.
Menurut Prof. Asep Saefuddin, kemajuan AI dan teknologi digital harus dibarengi dengan penguatan nilai moral dan etika di dunia pendidikan.
“AI semakin kuat. Tapi kita melihat sesuatu, bagaimana etika. Bagaimana teknologi yang di satu sisi positif membangun inovasi sains dan teknologi, mempercepat informasi, di sisi lain juga memberikan dampak tidak baik,” ujarnya.
Ia menilai saat ini dunia sedang menghadapi darurat etika, termasuk di lingkungan pendidikan. Dalam kondisi tersebut, peran guru menjadi sangat penting untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah derasnya transformasi digital.
“Guru di saat yang sama jadi dilema untuk berlaku keras atau lunak. Nilai-nilai kemanusiaan harus diangkat di ekosistem pendidikan,” katanya.
Teknologi Mempercepat Pelanggaran Etika
Prof. Asep Saefuddin menyoroti berbagai fenomena yang terjadi di dunia pendidikan akibat penggunaan teknologi yang tidak disertai kesadaran etika.
Menurutnya, masyarakat kini semakin sering menyaksikan kekerasan, pelecehan, hingga pelanggaran privasi yang berawal dari kecanggihan teknologi digital.
“Kita banyak saksikan kekerasan, pelecehan, pelanggaran privasi di lingkungan pendidikan yang bermula dari kecanggihan teknologi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti fenomena interaksi digital tanpa batas yang memicu maraknya penggunaan kata-kata kasar dan tindakan tidak beretika di media sosial maupun ruang digital pendidikan.
“Kita sering saksikan interaksi digital tanpa batas. Orang melakukan kata-kata kasar, sudah semakin marak,” katanya.
Menurutnya, praktik mendokumentasikan siswa atau mahasiswa tanpa izin lalu menyebarkannya demi konten juga menjadi persoalan serius.
“Kadang kita banyak kejadian mendokumentasikan mahasiswa tanpa izin dan disebar. Bukan hanya mementingkan konten tapi merendahkan etika,” ujarnya.
Ia menilai batas antara guru dan siswa kini semakin kabur akibat budaya digital yang tidak sehat.“Kita makin kabur antara guru dan siswa. Ini PR kita,” katanya.
Normalisasi Kesalahan dan Budaya Viral
Prof. Asep Saefuddin menilai salah satu masalah terbesar saat ini adalah normalisasi terhadap perilaku yang sebenarnya salah dan melanggar etika. “Bagaimana normalisasi dari kesalahan seolah itu biasa saja, normal-normal saja, tak ada masalah. Tidak demikian,” ujarnya.
Ia mengatakan fenomena tersebut muncul ketika masyarakat terlalu terjebak pada budaya konten dan viralitas hingga melupakan sisi kemanusiaan.
“Ada yang terjebak kontenisasi yang sama dengan dehumanisasi, untuk kepentingan konten tapi melupakan sisi kemanusiannya,” katanya.
Menurutnya, banyak tindakan yang kini dianggap hiburan padahal melanggar etika, seperti merekam siswa tanpa persetujuan, mempermalukan teman sendiri, hingga menjadikan momen emosional sebagai tontonan.
“Misal prank berlebihan di lingkungan pendidikan, rekam tanpa izin. Itu melanggar etika dan privasi,” tegasnya.
Ia juga mengkritik budaya viral yang kini dianggap lebih penting dibandingkan kualitas maupun kecerdasan.
“Dengan isu viralitas, yang penting viral, tidak perlu pintar yang penting viral. Viral sudah jadi konten yang diinginkan atas kreativitas. Akhirnya empati hilang,” ujarnya.
Menurutnya, negara tidak boleh hanya mengejar rating konten dan pemanfaatan teknologi semata, tetapi harus tetap menjaga nilai-nilai luhur budaya dan kemanusiaan.
Dampak bagi Guru dan Siswa
Prof. Asep Saefuddin menjelaskan, salah satu dampak yang perlu diwaspadai adalah menurunnya wibawa guru di tengah derasnya perkembangan teknologi digital.
“Guru sebenarnya digugu dan ditiru. Sebaiknya memang guru membawakan model yang layak digugu dan ditiru,” katanya.
Namun menurutnya, perkembangan teknologi yang begitu cepat bisa membuat posisi dan kewibawaan guru semakin menurun jika tidak diantisipasi dengan baik.
Selain itu, tekanan sosial dan psikologis juga meningkat baik pada guru maupun siswa.
“Banyak yang tertekan, sakit hati, menangis, murung. Batas-batas demikian harus diperhatikan,” ujarnya.
Ia menilai siswa juga mulai kehilangan rasa hormat terhadap guru karena merasa semua informasi bisa diperoleh melalui teknologi.
“Ada guru, kita belajar teknologi, inovasi, ilmu segala hal. Jadi kalau kita pintar jangan merasa sudah tak perlu guru. Memang teknologi bisa membuat konten tapi tetap guru harus kita hormati,” katanya.
Menurutnya, siswa juga mulai bergantung pada validasi sosial di dunia digital yang dapat berdampak buruk terhadap perkembangan karakter mereka.
“Ke depan bagaimana negara asing makin tinggi teknologi, kita jadi konsumen teknologi. Kita menjadi dijajah teknologi dan etikanya turun,” ujarnya.
Pentingnya Literasi Digital dan Etika
Prof. Asep Saefuddin menekankan pentingnya membangun budaya digital yang sehat dan bertanggung jawab di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, dunia pendidikan tidak boleh hanya mencetak konten kreator, tetapi juga harus membangun generasi yang memiliki nilai, integritas, dan etika.
“Perlu dipikirkan bagaimana menjaga kreasi, bukan hanya konten kreator, harus mempunyai nilai-nilai dalam pengajaran, budaya luhur, mengarah generasi baru, teladan untuk etika dan integrasi,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kesadaran terhadap manfaat dan mudarat teknologi digital.
“Kita sadar teknologi digital tapi sadar manfaat dan mudaratnya apa,” ujarnya.
Sebagai pendidik, menurutnya ada batas profesionalisme yang harus dijaga dalam penggunaan teknologi digital.
AI Tidak Bisa Dihindari, Tapi Harus Digunakan dengan Etika
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Asep Saefuddin juga menegaskan bahwa AI merupakan bagian dari masa depan pendidikan yang tidak bisa dihindari.
“AI tak bisa dihindari. Orang tanpa AI ketinggalan. Semua orang bisa bekerja sama dengan AI. Tapi jangan lupa, AI itu juga alat,” katanya.
Karena itu, pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai integritas dan etika digital.
Ia mengatakan Universitas Insan Cita Indonesia berupaya membangun budaya digital yang sehat dan bertanggung jawab melalui penguatan etika digital dalam proses pembelajaran.
“Kami ajarkan beretika, membangun budaya digital yang sehat, bertanggung jawab dan berintegritas dalam seluruh aktivitas,” ujarnya.
Menurutnya, etika harus menjadi dasar kehidupan sekaligus pegangan dalam penggunaan teknologi digital.
Kampus Harus Menjadi Ruang Aman dan Sumber Kebaikan
Prof. Asep Saefuddin menjelaskan bahwa UICI ingin menjadi kampus yang inklusif, aman, dan saling menghormati. “Kami ingin menjadi kampus inklusif, saling menghormati,” katanya.
Ia menegaskan penggunaan teknologi digital di lingkungan kampus juga memiliki batasan dan aturan yang harus dipatuhi.
“Penggunaan teknologi digital ada ketentuannya. Tak diperbolehkan hal-hal di luar pendidikan, misalnya bertanya dengan tidak sopan, menyebarkan informasi hoaks,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya disiplin diri dalam proses pembelajaran digital.
“Dalam proses pembelajaran digital, disiplin diri penting. Itu yang akan menjadikan seseorang maju. Self-discipline dengan etika,” katanya.
Menurutnya, kampus digital memang menghadirkan tantangan lebih kompleks karena interaksi tatap muka menjadi lebih sedikit. Karena itu, kreativitas dosen dan mahasiswa harus terus dibangun melalui berbagai forum dan kegiatan mahasiswa.
“Mahaisswa harus menjadi bagian yang memberikan konten positif, buat mahasiswa dan audience di luar UICI,” ujarnya.
Kebebasan Berpendapat Harus Tetap Beretika
Prof. Asep Saefuddin menilai mahasiswa tidak boleh takut menyampaikan pendapat dan kritik. Namun kritik juga harus disampaikan dengan etika dan tanpa ego.
“Beda pendapat itu boleh dan harus. Tapi ketika menyampaikan jangan ego,” katanya.
Ia menilai salah satu persoalan yang sering muncul adalah sikap merasa paling pintar sehingga kehilangan rasa hormat kepada orang lain.
“Penyakit kita, merasa pintar, ego. Buang ego atau perkecil ego. Kita menghormati orang lain,” ujarnya.
Menurutnya, saling menghormati akan melahirkan energi positif dalam lingkungan pendidikan.
“Kebaikan akan menarik kebaikan. Maka kampus harus menjadi sumber kebaikan. Dosen harus menjadi sumber kebaikan bukan hanya sumber ilmu,” katanya.
Ia menegaskan bahwa sumber ilmu saat ini sangat mudah ditemukan, tetapi nilai kebaikan dan etika tetap harus menjadi prioritas utama.
“Etika harus diutamakan. Hormati orang lain. Kebebasan pribadi menghormati kebebasan orang lain. Jadi kalimat pun harus baik,” ujarnya.
Teknologi Harus Digunakan untuk Kebenaran
Dalam refleksinya, Prof. Asep Saefuddin juga membagikan pengalaman saat menempuh pendidikan di Prancis.
“Waktu saya kuliah di Prancis, profesor mengatakan kuliah statistika adalah ilmu mencari kebenaran,” katanya.
Menurutnya, ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadi berbahaya jika digunakan tanpa moral dan tujuan yang benar.
“Pergunakan teknologi digital untuk mencari kebenaran, untuk kebaikan. Kebaikan akan menarik kebaikan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pendidikan yang maju bukan hanya soal kekuatan teknologi, tetapi juga kemampuan menjaga etika, peradaban, serta nilai kemanusiaan.
“Pendidikan yang maju tentunya bukan hanya kekuatan teknologi, tetapi juga tentang menjaga etika dan peradaban,” katanya.
Menurutnya, kekuatan soft skill, hard skill, teknologi, AI, hingga big data harus diarahkan untuk menciptakan kebaikan, keadilan, dan kemajuan bangsa.
“Teruslah berjuang agar Indonesia bangkit. Kita menjadi bagian perubahan zaman melalui sains, teknologi, AI, big data dan lain-lain. Tapi kita harus mempunyai moral dan etika yang tinggi,” tutup Prof. Asep Saefuddin.***
Hilman/Freepik.com



