Kebiasaan yang Meruntuhkan Motivasi, Kata Psikolog: Terlalu Mencari Validasi dari Orang Lain

JEJAKFORENSIK.COM – Banyak orang mengira motivasi hilang karena kegagalan besar, tekanan pekerjaan, atau kelelahan. Padahal, menurut psikolog, penyebabnya sering kali jauh lebih sederhana dan terjadi tanpa disadari setiap hari.

Kebiasaan terus-menerus mencari persetujuan atau validasi dari orang lain ternyata dapat mengikis motivasi dari dalam diri. Lama-kelamaan seseorang menjadi sulit mengambil keputusan, kehilangan semangat, dan merasa tidak yakin pada kemampuan sendiri meski sebenarnya memiliki potensi yang besar.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa motivasi yang kuat tidak lahir dari pujian atau pengakuan orang lain, melainkan dari keyakinan bahwa tindakan yang dilakukan benar-benar berasal dari pilihan diri sendiri.

Mengapa Validasi Orang Lain Bisa Menghambat Motivasi?

Mencari masukan dari orang lain bukanlah hal yang salah. Berkonsultasi sebelum mengambil keputusan, meminta saran, atau mempertimbangkan pendapat orang lain merupakan bagian dari hubungan sosial yang sehat.

Masalah muncul ketika persetujuan orang lain menjadi syarat utama sebelum bertindak.

Misalnya, seseorang baru berani mengemukakan ide setelah melihat reaksi orang lain. Ada pula yang selalu meminta izin atau persetujuan dalam setiap keputusan kecil. Bahkan, tidak sedikit yang merasa gelisah setelah mengunggah sesuatu di media sosial karena terus menunggu jumlah “like” atau komentar sebagai ukuran keberhasilan.

Jika pola ini terus berulang, seseorang perlahan kehilangan kemampuan untuk mempercayai penilaiannya sendiri.

Motivasi Sejati Berasal dari Dalam Diri

Dalam psikologi, kondisi ini dijelaskan melalui Self-Determination Theory atau teori penentuan diri, salah satu teori motivasi yang telah didukung oleh banyak penelitian selama puluhan tahun.

Teori ini menjelaskan bahwa motivasi yang bertahan lama dibangun oleh tiga kebutuhan psikologis utama, yaitu:

  • merasa mampu melakukan sesuatu (kompetensi),
  • merasa memiliki hubungan yang baik dengan orang lain (keterhubungan),
  • serta memiliki kebebasan memilih dan merasa bahwa keputusan berasal dari diri sendiri (otonomi).

Di antara ketiga unsur tersebut, otonomi memegang peran yang sangat penting.

Ketika seseorang terus bergantung pada persetujuan orang lain, rasa memiliki terhadap setiap keputusan mulai menghilang. Ia tidak lagi bertindak karena memang menginginkannya, tetapi karena ingin diterima, dipuji, atau menghindari penolakan.

Akibatnya, motivasi menjadi rapuh dan mudah hilang.

Kebiasaan Ini Sulit Disadari

Yang membuat kebiasaan mencari validasi begitu berbahaya adalah karena sering kali terlihat sebagai sesuatu yang positif.

Orang yang selalu meminta pendapat sebelum mengambil keputusan biasanya dianggap berhati-hati. Mereka yang menunggu situasi yang “aman” sebelum berbicara sering dinilai bijaksana. Sikap seperti ini bahkan sering diapresiasi di lingkungan kerja maupun keluarga.

Namun sebenarnya ada perbedaan besar antara mencari masukan dan bergantung pada persetujuan.

Seseorang yang sehat secara psikologis tetap mendengarkan saran dari orang lain, tetapi keputusan akhirnya berasal dari dirinya sendiri.

Sebaliknya, orang yang bergantung pada validasi akan sulit bergerak sebelum mengetahui bagaimana reaksi lingkungan terhadap pilihannya.

Ketika Motivasi Digantikan oleh Rasa Takut

Penelitian dalam psikologi organisasi menemukan bahwa banyak orang bekerja bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena takut mengecewakan orang lain, merasa bersalah, atau khawatir dinilai buruk.

Motivasi seperti ini memang bisa menghasilkan semangat sesaat. Namun dalam jangka panjang, energi tersebut cepat habis karena didorong oleh tekanan, bukan keinginan pribadi.

Akibatnya, seseorang mudah mengalami kelelahan emosional, kehilangan minat terhadap pekerjaannya, bahkan merasa kosong meski tetap terlihat produktif.

Apa yang Terjadi di Otak?

Penelitian di bidang ilmu saraf menunjukkan bahwa sistem penghargaan di otak dapat berubah sesuai kebiasaan.

Normalnya, otak akan memberikan rasa puas ketika seseorang berhasil menyelesaikan tugas, belajar hal baru, atau mencapai tujuan pribadi.

Namun jika seseorang terlalu sering bergantung pada pujian, pengakuan, atau respons dari orang lain, sistem penghargaan tersebut perlahan bergeser.

Otak mulai menganggap bahwa penghargaan sejati bukan berasal dari usaha yang dilakukan, melainkan dari reaksi lingkungan.

Akibatnya, kepuasan terhadap pencapaian pribadi semakin berkurang. Seseorang baru merasa berhasil jika ada orang lain yang mengakuinya.

Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?

Kebiasaan mencari validasi biasanya tidak muncul begitu saja.

Sebagian orang tumbuh dalam lingkungan yang memberikan kasih sayang hanya ketika mereka berprestasi. Ada pula yang terbiasa mendapat penghargaan jika memenuhi harapan keluarga, pasangan, atau lingkungan kerja.

Sebagian lainnya pernah mengalami penolakan sehingga menjadi sangat berhati-hati agar tidak kembali dikritik.

Karena itu, pola ini bukan berarti seseorang lemah. Justru sering kali merupakan hasil dari pengalaman hidup yang membentuk cara mereka memandang diri sendiri.

Cara Mengembalikan Motivasi dari Dalam Diri

Kabar baiknya, motivasi internal dapat dilatih kembali.

Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang mulai bertindak berdasarkan nilai dan tujuan pribadinya, semangat untuk bergerak akan tumbuh secara alami tanpa harus terus menunggu persetujuan orang lain.

Salah satu cara yang dianjurkan psikolog adalah melakukan klarifikasi nilai, yaitu mengenali apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri.

Cobalah bertanya:

  • Aktivitas apa yang membuat saya merasa hidup?
  • Apa yang akan tetap saya lakukan meski tidak ada yang memuji?
  • Nilai apa yang ingin saya pegang dalam hidup?

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang kembali menemukan arah yang berasal dari dalam dirinya sendiri.

Latih Diri Tanpa Menunggu Pengakuan

Langkah sederhana lainnya adalah membiasakan melakukan sesuatu tanpa mencari pengakuan.

Misalnya, menyelesaikan pekerjaan dengan baik tanpa merasa perlu menceritakannya kepada semua orang. Atau mengambil keputusan kecil sendiri tanpa meminta persetujuan banyak pihak.

Latihan sederhana seperti ini membantu membangun kembali rasa percaya pada kemampuan diri.

Semakin sering seseorang merasakan bahwa dirinya mampu bertindak tanpa validasi eksternal, semakin kuat pula motivasi intrinsik yang terbentuk.

Motivasi tidak selalu hilang karena kegagalan atau kurangnya kemampuan. Sering kali, penyebabnya adalah kebiasaan yang terus-menerus menggantungkan rasa percaya diri pada persetujuan orang lain.

Meminta saran tetap penting, tetapi jangan sampai hidup dikendalikan oleh kebutuhan untuk selalu diterima atau dipuji.

Ketika seseorang mulai berani mengambil keputusan berdasarkan nilai, keyakinan, dan tujuan pribadinya, motivasi akan tumbuh kembali secara alami. Sebab, semangat yang paling bertahan lama bukan berasal dari tepuk tangan orang lain, melainkan dari keyakinan bahwa setiap langkah yang diambil benar-benar merupakan pilihan diri sendiri.

Referensi:

https://www.psychologytoday.com/us/blog/social-instincts/202607/1-habit-that-kills-motivation-for-most-adults

Hilman Hilmansyah/Pixabay

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komunitas Jejak Forensik

Pintu Masuk Dunia Psikologi Forensik Ada di Grup WA Ini. Siap Gabung?
Latest News
Categories

Jangan Diam !

Jika kamu mengalami atau melihat kasus yang berkaitan dengan kekerasan, pelecehan, perundungan, atau masalah psikologis lainnya—jangan simpan sendiri.