JEJAKFORENSIK.COM – Beban pikiran, tekanan pekerjaan, konflik keluarga, hingga berbagai tuntutan kehidupan sehari-hari sering kali meninggalkan jejak emosional yang tidak disadari. Jika terus dipendam, emosi negatif tersebut dapat menumpuk dan memengaruhi kesehatan fisik maupun mental. Inilah yang menjadi fokus dalam sesi Monday Clearing yang diselenggarakan oleh Asia Parent Academy melalui Zoom.
Dalam sesi tersebut, psikolog Lucy Lidiawati Santioso, S.Psi., S.H., M.H., Psikolog, mengajak peserta memahami pentingnya membersihkan beban emosional, pikiran negatif, dan energi negatif yang masih terbawa hingga saat ini agar dapat menjalani hidup dengan lebih ringan dan seimbang.
Stres yang Menumpuk Menjadi Beban Besar
Menurut Lucy, setiap orang memiliki “bahan baku” yang membentuk cara mereka menjalani kehidupan. Sama seperti memasak, hasil akhirnya sangat dipengaruhi oleh kualitas bahan baku yang digunakan.
“Ada orang yang merasa hidupnya tidak seberuntung orang lain. Ketika ditelusuri, ternyata banyak berakar dari stres yang tidak terkelola dengan baik. Stres yang tidak bisa dikontrol akan memunculkan reaksi yang berlebihan,” jelas Lucy.
Ia mengibaratkan stres sebagai tumpukan kecil yang terus bertambah. Awalnya terlihat sepele, tetapi lama-kelamaan berubah menjadi beban besar yang menguras energi.
“Ketika stres terus menumpuk, seseorang bisa merasa lelah, kewalahan, kehilangan semangat, sulit tidur, mudah sakit, bahkan mengalami depresi. Hidup terasa tidak lagi menyenangkan karena energi terkuras habis.”
Cara Kita Memproses Peristiwa Menentukan Respons Emosi
Lucy menjelaskan bahwa manusia menerima begitu banyak informasi melalui pancaindra. Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, maupun dialami setiap hari akan diproses oleh otak dan menghasilkan respons yang berbeda pada setiap individu.
“Dua orang bisa menghadapi situasi yang sama tetapi memberikan respons yang berbeda. Ada yang langsung marah, ada yang biasa saja. Itu karena proses pengolahan informasi di dalam otak dan pengalaman emosional setiap orang tidak sama.”
Menurutnya, pengalaman masa lalu, keyakinan, serta kondisi emosional yang tersimpan akan memengaruhi cara seseorang memaknai suatu peristiwa.
Misalnya, teguran dari atasan bisa dianggap sebagai masukan oleh seseorang, tetapi dipersepsikan sebagai ancaman oleh orang lain. Akibatnya, respons emosional yang muncul pun berbeda.
Emosi yang Dipendam Dapat Berdampak pada Kesehatan
Dalam sesi tersebut, Lucy mengingatkan bahwa emosi yang tidak pernah diungkapkan atau terus ditekan dapat memberikan dampak jangka panjang.
“Ketika seseorang terus-menerus merepres atau menekan perasaannya, kesehatan mentalnya akan terganggu. Ia menjadi sulit membedakan mana yang baik dan mana yang tidak karena terlalu banyak energi yang digunakan untuk menahan emosi.”
Ia menambahkan bahwa tidak semua dampak emosi muncul secara langsung. Banyak gangguan fisik maupun psikologis yang sebenarnya merupakan akumulasi dari tekanan emosional yang berlangsung bertahun-tahun.
“Emosi yang dipendam bisa muncul dalam bentuk gangguan tidur, kecemasan, rasa nyeri di tubuh, kelelahan kronis, bahkan berbagai keluhan fisik yang penyebabnya tidak selalu terlihat secara medis.”
Menurut Lucy, sering kali justru tekanan kecil yang terjadi setiap hari memberikan dampak kumulatif yang lebih besar dibandingkan satu peristiwa besar yang terjadi sekali.
“Peristiwa-peristiwa kecil yang berulang setiap hari dapat menumpuk dan membentuk beban emosional yang sangat besar tanpa kita sadari.”
Kehilangan Energi Kasih Sayang
Lebih lanjut, Lucy menjelaskan bahwa ketika seseorang dipenuhi kemarahan, kekecewaan, atau rasa sakit yang tidak terselesaikan, energi kasih sayang dalam dirinya menjadi berkurang.
“Saat kita terlalu banyak membawa emosi negatif, kita kehilangan energi cinta kasih. Akibatnya hubungan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain menjadi terganggu.”
Hal tersebut sering kali terlihat dalam interaksi sehari-hari. Seseorang dapat menerima ucapan orang lain secara berbeda karena masih membawa luka emosional yang belum selesai.
“Kadang-kadang anak berbicara dengan baik, tetapi kita menangkapnya dengan kemarahan karena masih membawa emosi dari kejadian sebelumnya. Yang bekerja bukan hanya kata-kata, tetapi juga energi dan perasaan yang kita bawa.”
Ritual Melepaskan Emosi Melalui Media Air
Sebagai bagian dari praktik Monday Clearing, peserta diajak melakukan latihan sederhana menggunakan segelas air putih.
Lucy meminta peserta membayangkan seluruh rasa marah, kecewa, cemas, sedih, lelah, dan berbagai pikiran yang membebani dimasukkan ke dalam air tersebut.
“Biarkan semua emosi yang selama ini mengganggu larut ke dalam air. Akui bahwa perasaan itu ada dan memang sedang dirasakan.”
Setelah proses visualisasi selesai, peserta diminta membuang air tersebut sebagai simbol pelepasan berbagai energi negatif yang selama ini disimpan.
Selanjutnya, peserta mengisi kembali gelas dengan air bersih, memegangnya dengan kedua tangan di depan dada, lalu mengucapkan afirmasi:
“Seluruh hidupku datang dengan mudah, gembira, dan berkemenangan.”
Menurut Lucy, ritual ini bukan sekadar tindakan simbolis, melainkan cara untuk membantu seseorang menyadari dan melepaskan emosi yang selama ini tidak pernah diberikan ruang untuk dirasakan.
Dua Pilar Utama Kesembuhan Emosional
Dalam pemaparannya, Lucy menekankan bahwa proses pemulihan diri tidak berhenti pada pelepasan emosi saja. Ada dua pilar penting yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.
1. Detoks Emosi
Pilar pertama adalah membersihkan emosi yang selama ini tersimpan.
“Detoks emosi adalah proses yang nyata. Kita perlu membersihkan emosi sebagaimana kita membersihkan bahan makanan sebelum diolah. Emosi yang menumpuk harus diberikan ruang untuk diproses dan dilepaskan.”
Ia menjelaskan bahwa setiap orang dapat mengalami reaksi yang berbeda saat melakukan detoks emosi. Ada yang merasa lega, ada yang mengantuk, ada yang menangis, bahkan ada yang merasakan sensasi fisik tertentu.
2. Membangun Ulang Keyakinan Diri
Pilar kedua adalah membongkar dan membangun kembali keyakinan yang selama ini membatasi diri.
“Fokuslah pada diri sendiri, bukan pada orang lain. Ketika kita sibuk mengurus kehidupan orang lain, sering kali hidup kita sendiri justru terabaikan.”
Menurut Lucy, proses penyembuhan membutuhkan kemampuan untuk menerima diri sendiri secara utuh.
“Self-love bukan berarti tidak peduli pada orang lain. Self-love adalah menerima diri sendiri tanpa syarat sehingga kita mampu menerima orang lain dengan lebih sehat.”
Ia menegaskan bahwa seseorang tidak akan mampu membahagiakan orang lain jika belum mampu berdamai dengan dirinya sendiri.
“Tidak mungkin kita membahagiakan orang lain jika kita sendiri belum menemukan kebahagiaan dalam diri.”
Menjadi Perubahan bagi Diri Sendiri
Di akhir sesi, Lucy mengajak peserta untuk kembali menemukan arah hidupnya masing-masing.
Menurutnya, setiap orang memiliki banyak sudut pandang dan pengalaman yang membentuk dirinya. Namun perubahan hanya dapat terjadi ketika seseorang bersedia mengizinkan dirinya berubah.
“Kita tidak selalu bisa mengubah keadaan di luar diri kita. Tetapi kita bisa mengubah cara kita merespons dan memaknai setiap peristiwa.”
Ia mengingatkan bahwa perjalanan menuju kesehatan emosional dimulai dari keberanian untuk mengenali diri sendiri, menerima apa yang dirasakan, serta melepaskan beban yang tidak lagi perlu dibawa.
“Kembali kepada diri sendiri, temukan kembali kompas hidup, dan jadilah perubahan yang ingin Anda lihat dalam kehidupan Anda.”
Melalui sesi Monday Clearing ini, peserta diajak menyadari bahwa kesehatan mental bukan hanya tentang mengatasi masalah ketika sudah muncul, tetapi juga tentang secara rutin membersihkan emosi, menjaga keseimbangan energi, dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri. Ketika beban emosional mulai dilepaskan, seseorang memiliki ruang yang lebih besar untuk bertumbuh, menemukan harapan baru, dan menjalani hidup dengan lebih ringan serta penuh makna.***
Hilman H/Freepik.com



