JEJAKFORENSIK.COM – Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi, termasuk di lingkungan pendidikan. Perubahan ini menghadirkan tantangan baru bagi guru, dosen, orang tua, maupun peserta didik, terutama dalam menjaga etika, komunikasi, dan integritas di tengah derasnya arus digitalisasi.
Hal tersebut disampaikan Dr(C) Lucy Lidiawati Santioso dalam acara Bincang Guru Fiesta Festival Edukasi Insan Cita bertema “Etika di Dunia Pendidikan: Saat Beragam Fenomena Berhasil Merusak Integritas Pendidik dan Peserta Didik”.
Menurut Lucy, saat ini terjadi kesenjangan komunikasi antar generasi, terutama ketika berhadapan dengan anak-anak generasi Z hingga generasi Alpha yang tumbuh dalam era digital.
“Ada gap komunikasi antar generasi. Tapi memang komunikasi dengan anak yang perbatasan antara Gen Z sama Gen Alpha itu agak berbeda,” ujarnya.
Ia menilai dunia pendidikan perlu memahami fenomena perubahan perilaku generasi digital agar dapat membangun komunikasi yang sehat sekaligus menjaga batas profesional antara guru dan peserta didik.
“Maka kita harus tahu dulu fenomenanya apa, strateginya apa, supaya kita bisa membangun batasan-batasan dengan anak-anak,” katanya.
Revolusi 5.0 dan Tantangan Kemanusiaan
Lucy menjelaskan bahwa manusia saat ini sedang memasuki era revolusi 5.0, di mana teknologi dan robotik akan semakin mendominasi kehidupan manusia.
“Ketika kita masuk ke revolusi 5.0, lawan kita itu robot, bukan lagi manusia,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat manusia harus mulai mempertanyakan kembali posisi sisi kemanusiaan di tengah kemajuan teknologi.
“Ketika kita berpikir tentang sistem industri di 5.0 pun nanti, di mana semua juga robotik, lalu sisi manusianya ada di mana,” katanya.
Ia menambahkan bahwa anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi interaksi digital, mulai dari game online hingga penggunaan gadget dan media sosial yang sangat intens.
“Kita nanti akan berbicara dengan anak-anak yang mungkin sudah dikontrol dengan robot-robot online, mungkin mereka dari games online atau dapat dari gadget dan lain-lain,” ujarnya.
Otak Hanya Memahami Konten dan Konteks
Dalam perspektif psikologi komunikasi, Lucy menjelaskan bahwa otak manusia sebenarnya hanya memahami dua hal, yaitu konten dan konteks.
“Nah, yang pertama, otak kita itu hanya ada dua hal yang dipahami oleh otak, yaitu konten dan konteks,” katanya.
Karena itu, kesalahpahaman komunikasi sangat mudah terjadi, terutama di ruang digital.
Ia mencontohkan bagaimana sebuah pesan sederhana bisa dimaknai berbeda hanya karena penggunaan tanda baca.
“Kadang-kadang tanda baca saja pengaruh,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaan tanda seru, titik, maupun gaya bahasa dalam pesan digital dapat memengaruhi cara seseorang menangkap makna komunikasi.
“Yang kita munculkan ketika kita ber-WA atau bersosial media itu dibaca atau ditangkap dari orang yang mungkin emosinya waktu itu tidak baik-baik saja,” katanya.
Lucy juga menyoroti fenomena komunikasi digital antara dosen dan mahasiswa yang sering menimbulkan salah tafsir.
Ia mencontohkan pengalaman ketika seorang mahasiswa hanya mengingatkan soal jadwal libur, tetapi ditanggapi negatif oleh dosennya.
“Cara kita berkomunikasi itu memang mempengaruhi reaksi orang,” ujarnya.
Namun menurutnya, persoalan utama sering kali bukan terletak pada isi pesan, melainkan pada respons dan cara penerimaan pesan tersebut.
“Sebenarnya yang salah adalah responsnya,” katanya.
Pentingnya Persetujuan dan Etika Konten
Lucy menegaskan bahwa dalam era digital saat ini, persoalan persetujuan atau consent menjadi sangat penting, terutama ketika membuat dan menyebarkan konten yang melibatkan orang lain.
“Semua yang konten itu harus ada persetujuan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa aturan terkait penggunaan konten, privasi, hingga eksploitasi sudah diatur dalam Undang-Undang ITE maupun perlindungan anak.
Menurutnya, konten yang menampilkan anak tanpa izin dapat berpotensi melanggar hukum, termasuk terkait eksploitasi dan pelanggaran hak cipta.
Cara Otak Memproses Informasi di Media Sosial
Lucy menjelaskan bahwa otak manusia memiliki mekanisme yang disebut mental filter dalam menerima informasi.
“Kalau dilihat dari neuro-linguistik, otak itu menerima pesan, tapi belum tentu langsung diproses sama otak. Ada yang namanya filter mental,” katanya.
Informasi yang dianggap penting akan diproses, sementara yang dianggap tidak penting dibuang. Namun dalam praktiknya, otak justru sering lebih tertarik pada informasi yang memancing emosi.
“Informasi yang seru, yang bikin kita geli, bikin kita ketawa, atau mungkin bikin kita terluka,” ujarnya.
Ia menilai media sosial membuat mekanisme empati dan kontrol sosial manusia menjadi melemah karena interaksi digital tidak memberikan respons emosional secara langsung.
“Interaksi digital tidak memberikan respons emosional secara langsung seperti komunikasi tatap muka,” katanya.
Akibatnya, seseorang bisa saja terlihat sangat agresif di media sosial meski sebenarnya berbeda ketika bertemu langsung.
“Banyak juga orang yang baik-baik, tapi di sosial media agresif,” ujarnya.
Receiver Tidak Selalu Siap Menerima Informasi
Lucy menjelaskan bahwa dalam komunikasi terdapat sender dan receiver. Persoalannya, receiver tidak selalu siap menerima pesan dengan baik.
“Si receiver ini nggak siap untuk menerima informasi,” katanya.
Menurutnya, seseorang yang memiliki pengalaman buruk atau trauma tertentu akan lebih mudah menangkap pesan sebagai ancaman.
“Ketika kita punya referensi negatif, maka receiver ini akan terus mendengar informasi-informasi negatif sehingga dia mendeteksi ancaman itu lebih cepat,” ujarnya.
Karena itu, sebuah pesan sederhana di media sosial dapat memicu konflik besar akibat perbedaan persepsi dan kondisi emosional penerima pesan.
Disinhibition Effect di Dunia Digital
Lucy juga menjelaskan fenomena disinhibition effect, yaitu kondisi ketika hambatan psikologis seseorang menurun saat berada di dunia online.
“Lingkungan online itu membuat hambatan psikologis seseorang menurun,” ujarnya.
Menurutnya, ketika manusia tidak melihat ekspresi wajah, intonasi suara, atau reaksi langsung lawan bicara, maka empati dan kontrol diri sosial menjadi berkurang.
“Di dunia online otak menjadi lebih sensitif terhadap jangkauan emosional padahal mungkin yang disampaikan biasa saja,” katanya.
Ia menilai media sosial juga memunculkan banyak konten bombastis dan penuh kekerasan yang tanpa sadar membentuk pola perilaku masyarakat.
Lucy mengutip teori Albert Bandura mengenai modeling effect atau proses peniruan perilaku.
“Ketika ada peristiwa penganiayaan di Jakarta, kemudian muncul lagi penganiayaan di daerah lain. Ada pemodelan yang terjadi secara tidak sadar,” ujarnya.
Media Sosial Bisa Memicu Trauma dan Kecemasan
Menurut Lucy, paparan konten negatif secara terus-menerus juga dapat memicu anxiety atau kecemasan, baik pada anak maupun orang tua.
Ia mengaku sengaja menghindari membaca berita yang terlalu mengerikan demi menjaga kondisi emosionalnya.
“Begitu saya baca itu berproses di otak saya, emosinya naik. Jadi saya tahu kalau ada orang yang kira-kira bakal menyerang saya di chat, saya nggak baca dulu,” katanya.
Lucy menilai masyarakat perlu memberi jeda sebelum merespons informasi atau emosi di media sosial.
“Kita kasih jeda, kita lihat dulu, sebenarnya kalau aku membuat reaksi ini apa efeknya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mempertimbangkan dampak sebuah konten sebelum dipublikasikan.
“Ketika kita membuat konten, kita selalu harus berpikir kontennya buat apa,” katanya.
Guru dan Dosen Harus Menjaga Profesionalisme Digital
Dalam dunia pendidikan, Lucy menegaskan bahwa guru dan dosen harus menjaga batas profesional dalam komunikasi digital dengan siswa maupun mahasiswa.
“Ketika guru nge-chat mahasiswa atau murid, konteksnya harus akademik,” ujarnya.
Ia mencontohkan komunikasi profesional yang seharusnya langsung pada tujuan tanpa membuka ruang tafsir yang tidak perlu.
“Langsung saja mengingatkan besok ada pertemuan jam sekian. Itu profesional,” katanya.
Lucy juga mengingatkan pentingnya menjaga waktu komunikasi agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi peserta didik.
“Nge-chat jam satu pagi atau jam 12 malam karena dosennya susah tidur, itu juga harus diperhatikan,” ujarnya.
Menurutnya, guru memang perlu responsif, suportif, dan empatik, tetapi tetap harus memiliki batas profesional yang jelas.
“Boleh curhat, tapi baiknya bagaimana cara curhatnya, itu juga harus dibuat aturan profesionalnya,” katanya.
Ia bahkan mengungkapkan adanya mahasiswa yang merasa takut karena terlalu sering menerima chat intens dari dosen.
“Ketakutan ini kan tidak benar,” ujarnya.
Konten Edukasi Harus Tetap Bertanggung Jawab
Lucy menegaskan bahwa membuat konten edukasi bukanlah hal yang salah, selama tetap memperhatikan etika dan tanggung jawab.
“Konten sah saja selama memang untuk informasi. Tetapi di situ memang ada tanggung jawab, etika, dan kalau guru pastinya ada keteladanan,” katanya.
Ia mengingatkan agar guru tidak membuat konten yang memanipulasi informasi demi viralitas.
“Kalau buat konten, kita tonton lagi konten kita itu. Apakah judul atau captionnya manipulatif cuma untuk memviralkan,” ujarnya.
Menurutnya, guru juga harus menjaga privasi, identitas, dan kondisi psikologis anak ketika membuat konten di lingkungan pendidikan.
“Mereka bukan manusia mini. Mereka adalah manusia yang perlu diperlakukan sama seperti orang dewasa,” katanya.
Karena itu, menurut Lucy, kesalahan siswa tidak seharusnya diekspos hanya karena dianggap lucu atau menarik perhatian publik.
Krisis Moral dan Pentingnya Integritas
Lucy menilai persoalan utama yang kini dihadapi dunia pendidikan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga krisis moral dan integritas.
“Kalau misalnya pun kita melakukan banyak cara supaya zero bullying, tetap saja terjadi. Berarti negara ini memang sudah krisis moral,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk kembali memperkuat integritas dalam dunia pendidikan.
“Kita sama-sama belajar banyak supaya pendidikan itu tidak cuma dari dosen, tapi juga dari ruang digital seperti ini,” katanya.
Lucy berharap komunitas digital dan dunia pendidikan dapat terus bergerak membangun budaya pendidikan yang berintegritas dan bermoral tinggi.
“Kami berharap komunitas digital ini bisa terus menjadi roda untuk menggerakkan pendidikan yang berintegritas dan moral yang tinggi,” tutupnya.
Hilman/Freepik.com



