JEJAKFORENSIK.COM – Perkembangan media sosial dan budaya viral di era digital menghadirkan tantangan baru dalam dunia pendidikan. Banyak peristiwa di sekolah yang awalnya dianggap lucu, menghibur, atau sekadar konten spontan, ternyata menyimpan dampak psikologis yang serius bagi anak maupun guru.
Hal tersebut disampaikan Ketua Yayasan Asshidiq Peduli Umat, Ismail dalam acara Bincang Guru Fiesta Festival Edukasi Insan Cita bertema “Etika di Dunia Pendidikan: Saat Beragam Fenomena Berhasil Merusak Integritas Pendidik dan Peserta Didik”.
Dalam paparannya, Ismail membahas fenomena “blind spot” di dunia pendidikan, yaitu kondisi ketika suatu tindakan terlihat biasa atau lucu di permukaan, tetapi menyimpan dampak psikologis yang tidak disadari.
“Banyak persoalan di dunia pendidikan. Ribuan likes dan komentar bisa memberi efek psikologis. Blind spot beberapa peristiwa saat ini kadang kita melihat sesuatu kelucuan tapi berdampak psikologis pada anak atau guru,” ujarnya.
Menurutnya, anak yang sempat viral dalam kondisi tertentu dapat mengalami dampak psikologis baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
“Misalnya sebuah peristiwa awalnya bercanda, tapi di baliknya ada blind spot dampak mental pada anak,” katanya.
Konten Lucu yang Menyimpan Dampak Mental
Ismail menilai saat ini banyak kejadian di sekolah yang awalnya dianggap hiburan atau edukasi, tetapi ternyata dapat melukai mental anak.
Ia mencontohkan kasus sederhana ketika siswa gagal menjawab pertanyaan dasar seperti “15 dibagi 3”, lalu videonya direkam dan menjadi viral di media sosial.
“Awalnya hiburan edukasi tapi ada dampak mental di baliknya,” ujarnya.
Menurutnya, proses belajar yang sebenarnya wajar di dalam kelas berubah menjadi public shaming ketika disebarkan ke media sosial dan ditonton jutaan orang.
“Pembelajaran yang sudah selesai tapi jadi public shaming, rasa malu pada teman-teman lain,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa ruang kelas seharusnya menjadi tempat aman bagi siswa untuk melakukan kesalahan dan belajar, bukan menjadi bahan hiburan publik.
“Kesalahan itu terjadi di dalam kelas dan wajar saja. Tapi karena diviralkan akhirnya yang melihat jauh lebih banyak mencapai jutaan netizen,” ujarnya.
Relasi Guru dan Siswa Harus Dijaga
Selain persoalan viralitas, Ismail juga menyoroti pentingnya menjaga batas relasi antara guru dan siswa agar tetap sehat dan profesional.
Ia mencontohkan adanya kasus siswa yang menerima curhatan pribadi dari guru.
“Ada cerita siswa yang mendapat curhat dari guru. Tentu kalau dilihat biasa saja. Tapi konteks pembicaraan bisa jadi tak sesuai dengan umur anak sehingga ada dampak ke anak,” katanya.
Menurutnya, situasi seperti ini dapat memunculkan relasi kuasa yang tidak sehat antara guru dan siswa.
“Guru curhat saja tapi kontennya tidak sesuai, itu relasi kuasa yang tak sehat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap eksploitasi relasi kuasa dalam dunia pendidikan, terutama ketika ada kedekatan personal yang melewati batas profesional.
“Kedekatan cari perhatian secara personal pada anak perlu hati-hati dalam konteks pendidikan dan relasi antar guru dan siswa,” katanya.
Ketidakjelasan Batas Guru dan Siswa
Ismail menilai media sosial membuat batas relasi antara guru dan siswa menjadi semakin kabur.
Ia mencontohkan kasus viral seorang guru yang terlibat keributan dengan siswa di kelas setelah dilempari kertas dan akhirnya ikut meladeni tindakan siswa tersebut hingga divideokan dan viral di media sosial.
“Dalam relasi guru dan siswa khawatir ada ketidakjelasan batasan antara guru dan siswa. Sehingga siswa bisa punya persepsi bisa memperlakukan guru seperti itu,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat blind spot psikologis dalam relasi tersebut yang perlahan dapat mengubah cara siswa memandang guru.
“Akhirnya siswa beranggapan bisa melakukan kegiatan seperti itu pada guru,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa jika situasi ini tidak diperbaiki, maka relasi di lingkungan pendidikan bisa semakin rusak dan memicu perundungan baik secara horizontal maupun vertikal.
“Ketika guru jadi obyek lucu, secara tidak sadar siapa yang harus dihormati lagi di kelas,” ujarnya.
Guru Jangan Menjadi Pemburu Viral
Dalam paparannya, Ismail juga menyoroti fenomena guru yang tanpa sadar berubah menjadi pemburu likes dan views dengan memanfaatkan situasi di kelas.
Ia mengangkat kasus viral di wilayah Indonesia timur ketika seorang siswa menggambar alis menggunakan spidol di dalam kelas, sementara guru justru merekam kejadian tersebut dan mengunggahnya ke TikTok.
“Guru melakukan dialog yang tidak sehat,” ujarnya.
Kasus tersebut bahkan berujung tuntutan dari orang tua siswa hingga ratusan juta rupiah.
“Orangtua murid menuntut dengan nominal Rp500 juta. Dengan mediasi disepakati Rp100 juta,” katanya.
Menurutnya, kejadian tersebut menjadi pelajaran bahwa tindakan yang terlihat sederhana dapat berdampak besar ketika privasi siswa terekspos di media sosial.
“Blank spot-nya konten lucu, tapi bisa menghancurkan harga diri. Harusnya sosok guru jadi pelindung, kelas jadi ruang aman bagi siswa,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa guru tidak seharusnya menjadikan kelas sebagai studio konten demi mengejar popularitas di media sosial.
“Kita tak berharap sosok guru menjadi like hunters atau followers hunters dengan memanfaatkan kondisi di dalam kelas yang sangat berpotensi viral,” katanya.
Kelas Harus Menjadi Ruang Aman
Menurut Ismail, kelas seharusnya menjadi ruang aman untuk proses belajar, termasuk ketika siswa melakukan kesalahan.
“Ruang kelas untuk melakukan kesalahan, bukan untuk direkam dan dikirim ke media sosial untuk mendapatkan views,” ujarnya.
Ia menilai banyak anak sebenarnya mampu menjawab pertanyaan dengan baik, tetapi menjadi gugup ketika direkam kamera sehingga akhirnya melakukan kesalahan yang kemudian viral.
“Mungkin anak bisa menjawab baik tapi di depan kamera gugup, akhirnya jadi kesalahan meski soal matematika dasar,” katanya.
Hal tersebut, menurutnya, bisa berdampak panjang terhadap psikologis anak karena jejak digital sangat sulit dihapus setelah konten tersebar luas.
“Konten digital sangat sulit dihapus apalagi sudah viral. Direpost lagi akan menjadi senjata buruk dan boomerang buat anak-anak ke depan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kesalahan siswa di kelas seharusnya menjadi bahan evaluasi internal, bukan dijadikan konsumsi publik.
“Siswa adalah subyek pembelajaran internal. Kesalahan adalah data untuk evaluasi, bukan diviralkan menjadi momok berkelanjutan bagi anak,” katanya.
Dampak Psikologis Bisa Berlangsung Jangka Panjang
Ismail mengingatkan bahwa dampak psikologis akibat viralitas di media sosial sering kali tidak langsung terlihat, tetapi dapat berlangsung dalam jangka panjang.
“Perspektif psikologis yang kebablasan dampaknya bisa berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, anak-anak belum sepenuhnya mampu membedakan antara candaan dan sesuatu yang serius.
“Otak anak tidak bisa membedakan canda dan serius. Blind spot kita hari ini bisa jadi trauma anak-anak di masa depan,” katanya.
Ia juga menyoroti risiko ketika guru memanfaatkan kondisi psikologis siswa yang rentan, seperti anak dari keluarga broken home, demi mendapatkan perhatian atau kedekatan emosional.
“Sekadar curhat bisa berdampak pada anak, apalagi memanfaatkan kondisi psikologis anak yang broken home. Itu pelanggaran etik berat,” ujarnya.
Restorasi Fungsi Kelas dan Budaya Pendidikan
Di akhir paparannya, Ismail menegaskan pentingnya mengembalikan fungsi kelas sebagai ruang belajar yang aman, sehat, dan berorientasi pada perkembangan anak.
“Restorasi fungsi kelas, tidak sebagai studio konten dan bukan untuk validasi eksternal,” katanya.
Ia menekankan bahwa proses belajar tidak harus selalu dipertontonkan ke publik demi konten media sosial.
“Tak harus semua tersampaikan keluar karena kelas adalah ruang anak,” ujarnya.
Menurutnya, kepala sekolah juga perlu membangun komunitas yang kuat dan menjaga relasi kuasa antara guru dan siswa tetap sehat.
“Relasi kuasa siswa dan guru harus dijaga,” katanya.
Ia berharap dunia pendidikan kembali menempatkan etika, keamanan psikologis, dan perlindungan anak sebagai prioritas utama di tengah derasnya budaya digital dan viralitas media sosial.
Hilman/Freepik.com



