JEJAKFORENSIK.COM – Orang-orang mencari hal-hal baru dan kegembiraan. Kita menjelajah, menemukan, dan menciptakan. Pada saat yang sama, kita semua mengalami momen-momen kebosanan. Baik itu selama rapat yang panjang, tugas yang membosankan, atau bahkan saat sore yang santai. Kebosanan dapat berdampak negatif pada suasana hati atau tingkat energi kita dan membuat kita merasa tidak puas.
Seringnya merasa bosan dikaitkan dengan masalah kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi, prestasi yang lebih rendah di sekolah atau pekerjaan, dan hubungan sosial yang lebih buruk. Kebosanan bahkan dapat mendorong orang untuk melakukan tindakan yang berbahaya, misalnya penyalahgunaan zat, perilaku sembrono atau antisosial. Peserta dalam sebuah eksperimen bahkan menyetrum diri mereka sendiri daripada hanya duduk di ruangan tanpa melakukan apa pun.
Berbagai pengalaman merasa bosan ini, dan beragam dampaknya, menunjukkan bahwa kebosanan adalah fenomena yang kompleks. Kebosanan juga bisa menjadi sifat bawaan, di mana beberapa orang lebih mudah bosan daripada yang lain, atau bisa juga merupakan keadaan sementara yang datang dan pergi bagi setiap orang.
Dalam pembahasan ini, kita akan mengeksplorasi sains di balik kebosanan dan apa yang dikatakan penelitian tentang cara mengatasinya.
Apa itu kebosanan?
Kebosanan adalah keadaan pikiran yang ditandai dengan kurangnya minat, motivasi, dan keterlibatan dengan dunia di sekitar kita. Ketika kita bosan, kita mungkin merasa gelisah, mudah tersinggung, dan tidak puas. Kita juga mungkin mengalami gejala fisik seperti kelelahan, lesu, dan kurang energi.
Cara mengenali kapan Anda bosan
Mengenali kapan Anda bosan adalah langkah pertama untuk mengatasinya. Beberapa tanda umum kebosanan meliputi:
• Merasa tidak terlibat atau tidak tertarik dengan apa yang sedang Anda lakukan
• Sering melihat jam atau menghitung mundur menit
• Melamun atau kehilangan fokus
• Menunda-nunda atau menghindari tugas
• Melakukan aktivitas tanpa tujuan seperti menggulir media sosial
Psikologi kebosanan
Kebosanan telah lama dipelajari oleh para psikolog, yang telah mengidentifikasi beberapa penjelasan atau penyebab kebosanan. Beberapa penelitian berfokus pada keinginan akan hal-hal baru atau “kebaruan”. Misalnya, ketika orang melihat banyak gambar negatif berturut-turut, mereka memilih gambar positif berikutnya.
Ini mungkin tidak mengejutkan, tetapi melihat banyak gambar positif berturut-turut juga dapat menyebabkan kebosanan, dan kemudian orang ingin melihat gambar negatif sebagai gantinya.
Studi terbaru lainnya juga menemukan bahwa peserta menilai suasana hati mereka lebih rendah setelah melakukan tugas berulang atau memiliki waktu untuk “istirahat” tanpa melakukan apa pun.
Namun, kebaruan tampaknya tidak sepenuhnya menjelaskan kebosanan karena ada banyak pengalaman baru yang masih dianggap membosankan oleh orang-orang, dan pengalaman lain yang kita alami berkali-kali tanpa pernah merasa bosan.
Penelitian lain telah mempertimbangkan perhatian sebagai aspek kunci dari kebosanan karena orang sering melaporkan bahwa mereka kesulitan untuk memperhatikan ketika bosan atau mulai melamun atau pikiran mereka mengembara.
Masalah dengan perhatian sangat relevan dengan dampak kebosanan di tempat kerja atau sekolah. Namun, sulit untuk menguji apakah kurangnya perhatian menyebabkan kebosanan atau merupakan salah satu efek dari kebosanan.
Mendapatkan tingkat keterlibatan yang “tepat”
Berdasarkan penelitian yang meneliti kebaruan atau perhatian, kerangka kerja baru untuk memahami kebosanan menunjukkan bahwa hal itu terjadi ketika ada ketidaksesuaian antara seberapa besar kita ingin terlibat secara mental atau “kognitif” dalam suatu tugas dan seberapa terlibat kita sebenarnya.
Misalnya, terkadang kebosanan terasa seperti kebutuhan untuk melakukan sesuatu yang lebih menantang, tetapi di lain waktu kita merasa bosan jika sesuatu terlalu menuntut, seperti kuliah yang sulit di universitas.
Para penulis menggunakan istilah Goldilocks untuk menggambarkan gagasan tentang memiliki tingkat keterlibatan yang “pas” dan kebosanan sebagai sinyal bahwa kita tidak mencapai kondisi optimal ini.
Kerangka kerja ini juga diterapkan untuk menjelaskan mengapa beberapa orang lebih sering merasa bosan daripada yang lain. Seseorang bisa rentan terhadap kebosanan jika mereka memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi tentang seberapa menarik tugas-tugas tersebut, misalnya berpikir bahwa semua yang mereka lakukan akan menyenangkan dan bermakna.
Orang-orang yang menginginkan tingkat keterlibatan yang sangat tinggi (“menginginkan tantangan”) atau sangat rendah (“memilih opsi yang mudah”) juga lebih cenderung merasa bosan, karena sebagian besar aktivitas sehari-hari tidak sesuai dengan ekstrem ini.
Tips untuk mengatasi kebosanan
Bagaimana gagasan ilmiah tentang kebosanan ini dapat membantu kita meminimalkan pengalaman dan dampak negatif dalam kehidupan sehari-hari?
Kerangka kerja Goldilocks menunjukkan bahwa ekspektasi kita tentang seberapa menarik suatu tugas adalah kunci untuk menentukan apakah kita mungkin merasa bosan.
Bersikap realistis dan menyadari bahwa beberapa tugas mudah dan berulang sedangkan yang lain kompleks dan menuntut berarti kita lebih mungkin untuk secara akurat menyesuaikan tingkat keterlibatan kita dengan apa yang dibutuhkan.
Aspek penting lainnya dari kerangka kerja ini adalah bahwa “terlibat” dalam suatu aktivitas dapat memiliki arti yang berbeda tergantung pada tujuan spesifik kita saat itu. Aktivitas santai sendirian seperti membaca buku bisa sangat melibatkan diri.
Kebosanan bisa terasa menyenangkan jika tujuan Anda saat ini adalah untuk bersantai, tetapi sangat membosankan jika tujuan Anda adalah untuk berinteraksi dengan orang lain.
Ini menunjukkan bahwa menyadari tujuan kita dan memilih aktivitas yang sesuai dengan tujuan tersebut dapat menjadi strategi yang baik untuk mengurangi kemungkinan merasa bosan. Bahkan ketika kita tidak punya pilihan tentang aktivitas apa yang harus kita lakukan, mungkin ada cara untuk membuatnya terasa lebih bermakna.
Kebosanan adalah bagian alami dari pengalaman manusia tetapi dapat menyebabkan suasana hati yang buruk atau menyebabkan perilaku yang berbahaya.
Penelitian selama beberapa dekade telah mencoba memahami kebosanan dan menunjukkan bahwa hal itu terkait dengan keinginan untuk melakukan sesuatu yang baru atau berkurangnya perhatian.
Kerangka kerja baru menunjukkan bahwa kebosanan adalah sinyal bahwa kita tidak berada pada tingkat keterlibatan optimal kita. Pendekatan ini menyoroti betapa bermanfaatnya sinyal ini. Dengan mengenali kapan kita bosan dan memahami ilmu di balik kebosanan, kita dapat menggunakan strategi untuk mengatasinya.
Referensi:
Hilman/magnific



