Overthinking Is Not My Style: Cara Mengubah Kelelahan Mental Menjadi Talenta Digital di Era Serba Cepat

JEJAKFORENSIK.COM – Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh distraksi, overthinking jadi fenomena yang makin sering dialami, terutama oleh generasi muda. Pikiran yang terus berputar tanpa henti, rasa cemas yang sulit dijelaskan, sampai kelelahan mental yang datang bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.

Hal ini menjadi fokus utama dalam acara Zoom bertema “Overthinking is Not My Style: Mengubah Kelelahan Mental Menjadi Talenta Digital” yang diselenggarakan oleh Universitas Insan Cita Indonesia, dengan narasumber Lucy Lidiyawati Santioso, S.Psi., S.H., M.H., Psikolog Klinis Ahli Forensik Anak dan Remaja.

Lewat pemaparannya, Lucy mengajak kita melihat overthinking sesuatu yang bisa dipahami, dikelola, bahkan diubah menjadi kekuatan.

Overthinking Itu Wajar, Tapi Bisa Jadi Berbahaya

Banyak orang merasa bersalah karena terlalu banyak berpikir. Padahal, menurut Lucy, overthinking adalah hal yang manusiawi. “Overthinking itu wajar dialami, tapi perhatikan dampaknya bila tidak tertangani.”

Masalah muncul ketika pikiran tidak lagi membantu, tapi justru mengambil alih kendali hidup.

“Overthinking bisa bikin disasosiasi… membuat kita jadi enggak kenal lagi sama sekitar kita karena yang kita kenal adalah pikiran kita yang terlalu intrusive dengan emosi yang campur aduk.”

Nah, pada situasi ini, seseorang bukan lagi berpikir untuk mencari solusi, tapi terjebak dalam pusaran pikiran yang tidak ada ujungnya.

Kenapa Kita Merasa Lelah Padahal Tidak Banyak Bergerak?

Pernah merasa capek padahal belum melakukan apa-apa? Ini bukan hal aneh. Lucy menjelaskan bahwa kelelahan mental seringkali lebih berat daripada kelelahan fisik.

“Bukan kerjanya yang bikin lelah, tapi capek mikir.”

Di era digital, otak kita terus dipaksa bekerja tanpa jeda. Notifikasi, informasi, media sosial, semuanya masuk tanpa filter.

“Kita hidup di zaman yang overwhelmed… banyak hal yang kita hadapi, jadi jangan pikirin hal-hal yang menguras energi.”

Menariknya, ada kondisi yang sering dialami banyak orang. Tidak memegang gadget atau handphone merasa gelisah. Tapi, memegang HP tetap merasa lelah. Ini yang disebut sebagai digital anxiety.

Generasi Z: Hidup dalam Mode Siaga

Tekanan ini terasa lebih kuat pada generasi muda. Data yang disampaikan Lucy cukup menggambarkan situasi. Sebanyak 62% Gen Z berada dalam kondisi siaga terus (high alert). Lalu, 55% mengalami perubahan mood serta 44% mengalami stres (lebih tinggi dibanding Gen X yang 36%)

“Terlalu banyak informasi membuat kita jadi alert terus, yang akhirnya jadi paranoid dan waspada berlebihan.”

Ketika tubuh terus dalam kondisi siaga, sistem saraf tidak pernah benar-benar istirahat. Hasilnya? Lelah, pusing, dan kehilangan energi sejak pagi.

Overthinking Bukan Sekadar “Kebanyakan Mikir”

Sering kali overthinking disalahartikan sebagai sekadar berpikir terlalu dalam. Padahal lebih dari itu. “Overthinking itu bukan sekadar mikir, tapi intrusive, muter terus, jalan di tempat, gak ada tujuannya.”

Akar utamanya adalah adanya jarak antara harapan dan kenyataan.

“Kita terjebak dalam gap antara apa yang kita harapkan dengan realitas… pikiran terus mencari jawaban yang tidak ada.”

Akibatnya, otak mengalami cognitive overload, yaitu kondisi di mana terlalu banyak “laci” pikiran terbuka bersamaan.

Masa Lalu, Masa Depan, dan Kecemasan yang Tidak Selesai

Banyak overthinking berakar dari pengalaman masa lalu.

“Biasanya overthinking itu berbasis dari apa yang pernah dialami… ‘seandainya dulu aku tidak melakukan ini.’”

Dari sini muncul kecemasan baru tentang masa depan.

“Jangan-jangan apa yang terjadi di masa lalu, terjadi lagi di masa depan.”

Pola ini sering ditemukan pada orang yang pernah mengalami pengalaman buruk, termasuk korban perundungan.

Apa yang Terjadi di Otak Saat Overthinking?

Secara biologis, ada bagian otak yang sangat berperan, yaitu amigdala.

“Amigdala mendeteksi semua ketidakpastian… tujuannya menjaga kita supaya tidak terancam, tapi reaksinya bisa jadi berlebihan.”

Masalahnya, amigdala bekerja lebih cepat dibanding bagian otak yang rasional. Jadi, respons yang muncul seringkali emosional, bukan logis.

Media Sosial dan FOMO: Bahan Bakar Overthinking

Lingkungan digital memperparah kondisi ini. “Otak kita didesain untuk tidur, sementara digital tidak pernah tidur.”

Kebiasaan scrolling, membandingkan diri, dan merasa tertinggal (FOMO) jadi pemicu utama.

“Kita lebih terkoneksi dengan digital daripada dengan diri sendiri.”

Ini membuat kita kehilangan waktu untuk benar-benar memahami apa yang kita rasakan.

Tanda-Tanda Kamu Mengalami Mental Fatigue

Overthinking yang berlangsung lama bisa berubah menjadi kelelahan mental.

“Ketika overthinking, energi melemah, terjadi mental fatigue, kontrol diri jadi lemah.”

Gejalanya sering tidak disadari. Di antaranya: mudah marah tanpa sebab, tiba-tiba sedih atau menangis, mood naik turun, sulit fokus, merasa kosong

Semakin sering dilakukan, overthinking bisa menjadi pola otomatis.

“Karena dibiasakan setiap hari, overthinking itu jadi otomatis… seperti lingkaran setan.”

Lucy bahkan menegaskan sesuatu yang perlu dipahami.

“Overthinking sebenarnya keputusan juga.”

Artinya, meskipun terasa tidak sadar, kita tetap punya kesempatan untuk menghentikannya.

Cara Mengatasi Overthinking Secara Nyata

1. Jangan Lawan Pikiran dengan Pikiran

“Berusaha menghentikan pikiran dengan pikiran lain justru memicu overthinking baru.”

Semakin dilawan, pikiran justru makin kuat.

2. Gunakan Pendekatan Tubuh (Reset Fisik)

Cara paling efektif justru lewat tubuh:

  • Tarik napas dalam dan perlahan
  • Dengarkan musik berirama
  • Lakukan gerakan sederhana

“Ritme membuat amigdala merasa aman, sehingga emosi stabil.”

3. Kurangi Paparan Informasi

Otak punya batas.“Kemampuan otak memahami informasi sangat terbatas.”

Tidak semua hal perlu diketahui.

4. Latih Mindfulness

Sadar tanpa menghakimi diri sendiri. “Saya sadar bahwa saya overthinking… itu sesimpel itu, tapi penting.”

5. Self-Compassion: Berdamai dengan Diri Sendiri

“Nggak apa-apa merasa kewalahan… otak lagi kerja keras.”

Alih-alih menyalahkan diri, cobalah memahami diri.

6. Fokus pada Hal Kecil

Target besar sering memicu overthinking.

“Jangan terlalu fokus pada hal besar.”

Mulai dari langkah kecil yang realistis.

7. Istirahat Itu Bukan Kemalasan

“Istirahat adalah bagian esensial dan proses biologis.”

Tubuh memang butuh jeda untuk pulih.

Mengubah Overthinking Jadi Kekuatan

Menariknya, overthinking tidak selalu buruk. Jika dikelola dengan baik, energi berpikir ini bisa diarahkan menjadi sesuatu yang produktif, termasuk dalam dunia digital.

Saat pikiran mulai lebih terarah:

  • Ide jadi lebih tajam
  • Kreativitas meningkat
  • Analisis lebih dalam
  • Empati lebih kuat

Inilah yang disebut sebagai mengubah kelelahan mental menjadi talenta digital.

Hidup Bukan Lomba Cepat

Pesan paling penting dari sesi ini sederhana, tapi dalam.

“Hidup itu journey, bukan perlombaan lari cepat.”

Tidak semua hal harus dikejar sekaligus. Tidak semua pikiran harus diikuti.

“Yang penting adalah sadar diri, karena dari sadar diri akan lahir kekuatan untuk berkembang.”

Overthinking boleh terjadi. Itu bagian dari manusia. Tapi jangan sampai mengambil alih hidupmu.

Pelan-pelan, tarik napas, dan kembali ke diri sendiri. Alhasil, semuanya mulai terasa lebih ringan.***

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komunitas Jejak Forensik

Pintu Masuk Dunia Psikologi Forensik Ada di Grup WA Ini. Siap Gabung?
Latest News
Categories

Jangan Diam !

Jika kamu mengalami atau melihat kasus yang berkaitan dengan kekerasan, pelecehan, perundungan, atau masalah psikologis lainnya—jangan simpan sendiri.