JEJAKFORENSIK.COM – Bayangkan satu hari yang kacau di rumah. Mainan berserakan, bayi menangis tanpa henti, balita tiba-tiba lari ke jalan, remaja sedang dalam kondisi emosional yang mengkhawatirkan, sementara kamu tetap harus berangkat kerja supaya dapur tetap ngebul. Situasinya bisa beda-beda di tiap keluarga, tapi satu hal yang sama: tubuh langsung masuk mode siaga.
Saat itu terjadi, tubuh kita dibanjiri hormon stres seperti adrenalin dan glukokortikoid. Detak jantung naik, napas jadi cepat, tubuh tegang, tekanan darah meningkat, bahkan gula darah ikut naik. Aliran energi dialihkan ke hal-hal yang dianggap penting untuk bertahan, sementara fungsi lain seperti pencernaan atau pemulihan tubuh jadi “ditunda”. Ini sebenarnya mekanisme alami untuk menghadapi bahaya. Masalahnya muncul kalau kondisi ini berlangsung terus-menerus.
Dilansir parentingscience.com, kalau stres jadi bagian dari keseharian, tubuh dan otak mulai berubah. Ini yang sering disebut sebagai stres kronis atau bahkan stres beracun. Dampaknya bukan cuma ke diri sendiri, tapi juga ke hubungan dengan orang lain di rumah. Di sinilah muncul yang disebut sebagai stres dalam keluarga.
Kalau dilihat dari sudut pandang penelitian, keluarga itu seperti satu sistem. Setiap orang punya peran, rutinitas, dan harapan tentang bagaimana hidup bersama seharusnya berjalan. Selama semuanya berjalan normal, sistem ini terasa stabil. Tapi begitu ada tekanan, sistem ini bisa goyah.
Tekanan itu bisa datang dari mana saja. Kadang dari luar, seperti pekerjaan yang berat, masalah di sekolah, kehilangan pekerjaan, kesulitan ekonomi, atau lingkungan yang tidak aman dan penuh tekanan. Bisa juga dari dalam rumah sendiri, misalnya konflik pasangan, pertengkaran antar saudara, bayi yang terus menangis, masalah kesehatan, atau kondisi mental seperti depresi.
Bahkan hal yang sering dianggap sepele seperti kurang tidur ternyata punya dampak besar. Kurang tidur bisa mengacaukan ritme hormon stres, membuat tubuh seperti tidak pernah benar-benar “turun tensi”, dan akhirnya memperburuk kondisi fisik maupun emosi.
Pengasuhan anak juga punya peran besar di sini. Banyak orang tua merasa kewalahan karena tuntutan yang tinggi, sementara waktu, energi, dan dukungan terbatas. Tekanannya bisa jauh lebih besar kalau anak memiliki kebutuhan khusus, masalah perilaku, atau kondisi medis tertentu.
Yang sering tidak disadari, stres itu menular. Bukan cuma lewat marah-marah atau konflik terbuka. Memang, saat seseorang stres lalu melampiaskannya dengan bentakan atau sikap kasar, efeknya jelas terasa ke anggota keluarga lain. Tapi ada bentuk penularan yang lebih halus.
Misalnya saat seseorang memilih diam dan menarik diri. Tidak marah, tidak berisik, tapi juga tidak hadir secara emosional. Tidak responsif, tidak hangat, tidak peka. Dalam jangka panjang, ini juga bikin hubungan jadi renggang. Anggota keluarga lain merasa tidak didukung dan perlahan ikut merasakan tekanan.
Menariknya lagi, kita bahkan bisa “tertular” stres hanya dengan melihat orang lain yang sedang tertekan. Ekspresi wajah, nada suara, bahasa tubuh, semua itu memberi sinyal ke otak kita bahwa ada ancaman. Tubuh kita pun ikut bereaksi, meskipun kita sendiri tidak mengalami masalah langsung. Bahkan bayi pun bisa merasakan stres orang tuanya. Jadi sulit sekali untuk benar-benar menyimpan stres sendirian tanpa berdampak ke orang lain di rumah.
Dampaknya bisa luas. Dalam kondisi yang masih terkendali, keluarga biasanya bisa beradaptasi. Kuncinya ada di kedekatan emosional, komunikasi yang jelas dan kemampuan mencari solusi bersama. Dukungan yang hangat dan responsif bisa jadi “tameng” yang cukup kuat terhadap dampak buruk stres.
Tapi kalau stresnya berat dan berlangsung lama, efeknya bisa serius. Secara fisik, tubuh mengalami kelelahan terus-menerus yang meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan metabolisme, dan masalah imun. Secara mental, bisa muncul kecemasan, depresi, impulsif, atau kesulitan mengatur emosi.
Anak-anak termasuk yang paling rentan karena otak mereka masih berkembang. Lingkungan keluarga yang penuh tekanan bisa memengaruhi cara otak mereka tumbuh, cara mereka mengelola emosi, bahkan cara mereka melihat dunia.
Selain itu, hubungan dalam keluarga juga ikut terdampak. Stres bisa memicu konflik antar pasangan, terutama dalam situasi pengasuhan yang berat. Perbedaan cara menghadapi anak, kelelahan, dan tekanan yang menumpuk bisa membuat hubungan jadi renggang.
Hal yang sama juga terjadi pada hubungan orang tua dan anak. Orang tua yang stres cenderung kurang sabar, lebih reaktif, atau justru menjauh secara emosional.
Dari situ biasanya muncul lingkaran yang tidak sehat. Anak menjadi lebih sulit diatur, orang tua makin stres, konflik makin sering terjadi, dan situasi terus berulang.
Lalu apa yang bisa dilakukan?
Langkah pertama sebenarnya sederhana tapi penting: sadar bahwa stres itu nyata dan bisa menyebar. Banyak orang menganggap stres sebagai hal biasa yang harus ditahan sendiri, padahal dampaknya bisa ke seluruh keluarga.
Lalu, penting untuk mulai membangun kembali hal-hal dasar dalam keluarga. Kedekatan emosional, komunikasi yang jujur, dan kebiasaan saling mendukung itu bukan hal sepele. Justru itu fondasi utama supaya keluarga tetap kuat saat menghadapi tekanan.
Selain itu, mencari bantuan juga bukan tanda lemah. Dukungan dari pasangan, keluarga besar, teman, atau bahkan profesional bisa jadi pembeda besar. Kadang yang dibutuhkan bukan solusi instan, tapi sekadar merasa tidak sendirian.
Intinya, stres dalam keluarga itu seperti efek domino. Satu orang terdampak, yang lain ikut merasakan. Tapi kabar baiknya, efek positif juga bisa menular dengan cara yang sama. Kehangatan, empati, dan dukungan kecil yang konsisten bisa jadi penyeimbang yang kuat di tengah tekanan.
Referensi;
https://parentingscience.com/family-stress
Hilman Hilmansyah/Freepik.com



