Regulasi Emosi Ayah dalam Keluarga: Kunci Kesehatan Mental Anak dan Keharmonisan Rumah Tangga

JEJAKFORENSIK.COM – Isu kesehatan mental semakin sering dibicarakan dalam berbagai ruang diskusi, termasuk di lingkungan keluarga. Kesadaran bahwa kondisi psikologis orang tua berpengaruh besar terhadap perkembangan anak kini mulai mendapat perhatian lebih luas.

Hal inilah yang menjadi fokus dalam diskusi NGOPI (Ngobrol Perkara GATI) Edisi Kesehatan Mental bersama Lingkar Ayah Indonesia yang disiarkan langsung melalui Instagram @kemendukbangga_bkkbn pada Selasa, 10 Maret 2026.

Dalam diskusi tersebut, Dr. (C) Lucy Lidawati Santioso, S.Psi., S.H., M.H., Psikolog, seorang psikolog klinis forensik anak dan remaja membahas pentingnya kemampuan mengelola emosi dalam peran ayah, serta bagaimana komunikasi yang sehat dapat dibangun di dalam keluarga.

Menurut Lucy, regulasi emosi bukan sekadar kemampuan menahan marah atau menekan perasaan. Lebih dari itu, kemampuan ini menentukan bagaimana orang tua menjadi contoh bagi anak dalam memahami dan mengelola emosi mereka sendiri.

“Mengelola emosi adalah keterampilan penting dalam pengasuhan. Cara orang tua, terutama ayah dalam mengatur emosi dapat menjadi contoh bagi anak dan remaja dalam memahami, mengekspresikan, dan mengelola perasaan mereka,” jelas Lucy.

Kesehatan Mental dan Peran Sistem Keluarga

Dalam praktik psikologi klinis forensik, Lucy kerap menemukan bahwa banyak kasus sosial yang sebenarnya berkaitan erat dengan kondisi kesehatan mental di dalam keluarga. Ia mencontohkan berbagai kasus yang sering dianalisis dalam dunia psikologi forensik, seperti kekerasan dalam rumah tangga hingga kasus bunuh diri pada anak dan remaja.

“Dalam psikologi klinis forensik, ketika kita memprofil pelaku misalnya pelaku KDRT atau menganalisis kasus anak bunuh diri, kita melihat banyak faktor yang melatarbelakanginya. Bisa jadi faktor keluarga, tekanan lingkungan, atau pengalaman hidup yang berat,” ujarnya.

Lucy menekankan bahwa keputusan ekstrem seperti bunuh diri hampir tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Biasanya ada rangkaian tekanan psikologis yang terjadi dalam waktu lama.

“Tidak ada orang yang ujug-ujug bunuh diri. Biasanya ada masalah mental yang dialami sebelumnya, entah dari keluarga, lingkungan, atau faktor lain yang membuat seseorang akhirnya mengambil keputusan mengakhiri hidupnya,” katanya.

Karena itu, menurut Lucy, memahami kesehatan mental tidak bisa hanya melihat individu secara terpisah. Dalam keluarga, semua anggota saling memengaruhi.

“Dalam keluarga itu ada sistem. Kita tidak bisa hanya bicara ayah saja atau ibu saja, karena anak itu ada karena ayah dan ibunya. Ada kesepakatan dua pihak untuk membangun keluarga. Kalau satu orang mengalami gangguan, maka sistem keluarga bisa ikut terganggu,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa ketika salah satu anggota keluarga mengalami masalah psikologis serius, dampaknya bisa dirasakan oleh seluruh anggota keluarga.

“Ketika satu orang rusak dalam sistem keluarga, maka sistem komunalnya juga terganggu. Anak bisa menjadi korban dari konflik atau masalah yang terjadi antara ayah dan ibunya,” kata Lucy.

Beban Emosi Ayah dalam Situasi Sulit

Diskusi juga menyinggung kondisi ayah yang mengalami tekanan berat akibat situasi tertentu, misalnya bencana alam atau masalah ekonomi. Sebagai contoh, seorang ayah yang kehilangan semangat setelah mengalami dampak bencana banjir di Aceh dan Sumatra beberapa waktu lalu.

Menurut Lucy, kondisi psikologis seseorang sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan cara ia dibesarkan.

“Ada orang yang sejak kecil terbiasa semua keputusan diambilkan oleh orang tuanya. Ketika dewasa dan menghadapi situasi berat seperti bencana, dia bisa merasa sangat kaget dan tidak siap,” jelasnya.

Dalam kondisi krisis, otak manusia juga bisa mengalami hambatan dalam berpikir secara logis.

“Saat seseorang mengalami shock karena bencana, bagian otak yang mengatur emosi bisa terblokir. Bahkan bagian otak yang berfungsi untuk berpikir logis juga bisa ikut terhambat, sehingga orang merasa tidak mampu mengambil keputusan,” ujar Lucy.

Padahal dalam budaya masyarakat, ayah sering dianggap sebagai kepala keluarga yang harus selalu kuat dan mampu mengambil keputusan.

Stigma Laki-Laki Tidak Boleh Menangis

Salah satu topik menarik yang muncul dalam diskusi tersebut adalah stigma sosial terhadap laki-laki. Banyak laki-laki sejak kecil diajarkan bahwa mereka tidak boleh menangis.

Lucy menilai stigma tersebut justru berpotensi memicu masalah kesehatan mental.

“Banyak anak laki-laki yang akhirnya mengalami depresi karena sejak kecil dilarang menangis. Mereka diajarkan bahwa laki-laki harus kuat dan tidak boleh menunjukkan emosi,” katanya.

Padahal menurut Lucy, menangis adalah bentuk ekspresi emosi yang sangat wajar.

“Menangis itu ekspresi. Marah juga ekspresi. Mau menangis atau marah itu sah-sah saja karena kita manusia. Yang penting bukan melarang emosinya, tapi belajar bagaimana mengekspresikannya dengan sehat,” jelasnya.

Namun Lucy juga mengingatkan bahwa ekspresi emosi tetap perlu dibedakan dengan perilaku yang tidak terkendali.

“Menangis itu boleh, tapi kalau sampai tantrum dan tidak bisa mengontrol diri, itu berbeda. Jadi kita perlu belajar mengelola emosi, bukan menekannya,” tambahnya.

Kejujuran Emosi di Depan Anak

Lucy juga menyoroti kebiasaan sebagian orang tua yang sering menutupi emosi mereka di depan anak. Misalnya ketika seorang ibu menangis lalu mengatakan kepada anak bahwa matanya hanya kelilipan.

Menurut Lucy, anak sebenarnya bisa merasakan emosi orang tuanya. Kalau anak bertanya kenapa mama menangis lalu dijawab tidak apa-apa atau kelilipan, anak bisa belajar bahwa emosi tidak boleh diakui.

Ia menyarankan agar orang tua tetap jujur tentang perasaan mereka, namun tanpa membebani anak dengan masalah yang terlalu berat.

“Orang tua bisa bilang bahwa mama sedang sedih atau sedang marah, tapi nanti mama akan cerita ketika waktunya tepat. Dengan begitu anak belajar bahwa emosi itu valid,” katanya.

Pentingnya Kehadiran Ayah bagi Anak

Lucy juga menekankan bahwa kehadiran ayah sangat penting dalam masa pertumbuhan anak, terutama bagi anak laki-laki. “Dalam masa pertumbuhan, anak laki-laki sangat membutuhkan pendampingan dari ayahnya,” ujar Lucy.

Namun, tidak semua ayah memiliki pengalaman pengasuhan yang sehat ketika mereka masih kecil. Ada yang tumbuh dalam keluarga dengan kekerasan, ada yang ditelantarkan, bahkan ada yang dibesarkan tanpa figur ayah.

Pengalaman tersebut sering kali membentuk pola perilaku yang berulang dari generasi ke generasi.

“Ada yang disebut trauma antar generasi. Pola pengasuhan yang buruk bisa diwariskan secara emosional maupun perilaku. Anak yang dulu diperlakukan keras bisa saja tanpa sadar melakukan hal yang sama kepada anaknya,” jelas Lucy.

Ia mencontohkan sebuah kasus yang pernah ditemuinya di mana seorang anak mengalami keterlambatan bicara karena kurangnya komunikasi di dalam keluarga.

“Saya pernah menemukan kasus yang sangat miris. Ayahnya jarang di rumah dan tidak memiliki kedekatan dengan anak. Akhirnya anak itu tidak bisa berbicara dan hanya berkomunikasi seperti suara kucing,” ujarnya.

Menghadapi Tekanan Ekonomi dengan Pikiran Tenang

Masalah ekonomi juga sering menjadi pemicu konflik dalam keluarga. Banyak ayah merasa terbebani oleh tanggung jawab mencari nafkah.

Namun Lucy menekankan bahwa tekanan ekonomi tidak boleh membuat seseorang kehilangan kendali emosi.

“Ekonomi jangan dijadikan beban yang menghancurkan diri sendiri. Ketika kita hidup dengan pikiran tenang, kita bisa berpikir jernih untuk mencari solusi,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa selalu ada jalan keluar dalam setiap masalah.

“Saya selalu bilang, kalau melihat donat jangan fokus pada lubangnya, tapi lihat daging donatnya. Nikmati yang ada. Tidak ada masalah yang tidak punya solusi,” ujar Lucy.

Cara Otak Merespons Tekanan

Dalam kondisi tertekan, manusia biasanya merespons dengan tiga cara utama: melawan, menghindar, atau diam.

Lucy menjelaskan bahwa respons ini dikenal dalam psikologi sebagai fight, flight, dan freeze.

“Ada orang yang langsung melawan, ada yang memilih menghindar, dan ada juga yang freeze atau tidak melakukan apa-apa. Semua itu adalah respons alami otak ketika menghadapi tekanan,” jelasnya.

Menghadapi Perundungan pada Anak

Topik lain yang dibahas adalah perundungan atau bullying yang sering dialami anak di sekolah.

Lucy menekankan bahwa langkah pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah memvalidasi perasaan anak.

“Kita tidak bisa mengontrol orang lain untuk tidak membully, tapi kita bisa membantu anak memahami emosinya sendiri,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak bereaksi berlebihan.

“Sering kali anaknya sudah berdamai dengan situasi, tapi orang tuanya masih sangat marah. Orang tua perlu menyikapi dengan kepala dingin,” ujarnya.

Lucy menambahkan bahwa salah satu cara membantu anak menghadapi bullying adalah dengan pendekatan yang lebih santai.

“Selain fight, flight, dan freeze, ada satu lagi yaitu fun. Kadang-kadang menghadapi tantangan bisa dengan fun atau bersikap santai,” katanya.

Pentingnya Konsultasi Psikolog

Lucy juga menyoroti stigma masyarakat terhadap layanan psikolog. Banyak orang baru mencari bantuan ketika masalah mental sudah sangat berat.

Di luar negeri, konsultasi ke psikolog itu hal biasa. Di Indonesia sering kali orang harus sampai dianggap ‘gila’ dulu baru mencari bantuan.

Padahal menurut Lucy, menjaga kesehatan mental seharusnya dilakukan secara rutin, sama seperti merawat kendaraan.

“Psikolog itu seperti spooring mobil. Kalau tidak disetel ulang, bisa tidak seimbang. Manusia juga perlu menyeimbangkan pikiran dan emosinya,” jelasnya.

Mengutamakan Anak Saat Orang Tua Berpisah

Diskusi juga menyentuh isu perpisahan orang tua. Lucy mengatakan bahwa meskipun ada anak yang tampak baik-baik saja setelah orang tuanya berpisah, sebenarnya kondisi tersebut tetap menyisakan dampak emosional.

“Jarang sekali anak benar-benar tidak terdampak ketika orang tuanya berpisah. Biasanya tetap ada pengaruhnya,” katanya.

Namun dampak tersebut bisa diminimalkan jika orang tua mampu menekan ego mereka demi anak.

“Kalau orang tua bisa mengesampingkan ego demi anak, hubungan dengan anak tetap bisa baik. Mungkin mereka tidak lagi saling mencintai, tapi kasih kepada anak harus tetap ada,” jelas Lucy.

Membangun Sistem Keluarga yang Sehat

Menutup diskusi, Lucy menyampaikan beberapa hal penting untuk membangun sistem keluarga yang sehat. Pertama adalah menghilangkan stigma tentang peran ayah.

“Ayah tidak harus selalu menjadi pemimpin yang sempurna. Perempuan juga bisa menjadi pemimpin dalam situasi tertentu. Yang penting ayah tetap menjadi penopang dan pelindung keluarga,” katanya.

Hal kedua adalah belajar mengendalikan ego.

“Banyak masalah dalam keluarga muncul karena ego. Kalau ego terus dipertahankan, hubungan dalam keluarga akan sulit berjalan baik,” ujar Lucy.

Hal terakhir adalah membuka diri terhadap masukan dan kritik.

“Kalau seseorang mau menerima kritik dan belajar mengelola emosinya, maka dia bisa mengambil keputusan dengan lebih bijak. Di situlah keseimbangan antara perasaan dan logika bisa tercapai,” tutupnya.

Diskusi ini mengingatkan bahwa kesehatan mental dalam keluarga tidak hanya bergantung pada satu orang. Namun peran ayah dalam mengelola emosi dan membangun komunikasi yang sehat tetap menjadi salah satu fondasi penting bagi tumbuh kembang anak dan keharmonisan keluarga.***

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komunitas Jejak Forensik

Pintu Masuk Dunia Psikologi Forensik Ada di Grup WA Ini. Siap Gabung?
Latest News
Categories

Jangan Diam !

Jika kamu mengalami atau melihat kasus yang berkaitan dengan kekerasan, pelecehan, perundungan, atau masalah psikologis lainnya—jangan simpan sendiri.