JEJAKFORENSIK.COM – Libur sekolah tahun baru selalu menjadi momen yang dinanti anak-anak. Setelah rutinitas belajar yang padat, bangun pagi setiap hari, tugas sekolah, dan tekanan akademik, liburan terasa seperti pintu kebebasan. Anak bisa bangun lebih siang, bermain lebih lama, dan menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga. Namun di balik suasana yang tampak menyenangkan, libur panjang juga menyimpan tantangan tersendiri bagi kesehatan mental anak jika tidak dikelola dengan bijak.
Banyak orang tua mengira bahwa selama anak tidak sekolah, maka stres otomatis hilang. Faktanya, perubahan rutinitas yang drastis, waktu layar yang berlebihan, minim aktivitas fisik, hingga kurangnya interaksi bermakna justru bisa memengaruhi kondisi emosional anak. Karena itu, memahami kiat menjaga kesehatan mental anak selama libur sekolah tahun baru menjadi hal yang sangat penting agar masa liburan benar-benar membawa dampak positif, bukan sebaliknya.
Libur sekolah seharusnya menjadi waktu pemulihan mental. Otak anak yang selama ini bekerja keras menyerap informasi membutuhkan jeda agar dapat kembali segar. Dalam psikologi perkembangan anak, masa istirahat ini berperan besar dalam menjaga keseimbangan emosi, meningkatkan rasa aman, serta membangun kedekatan dengan orang tua. Anak yang memiliki pengalaman liburan yang sehat secara mental cenderung kembali ke sekolah dengan motivasi dan kepercayaan diri yang lebih baik.
Salah satu kunci utama menjaga kesehatan mental anak saat libur sekolah adalah menciptakan rutinitas yang fleksibel namun tetap terarah. Rutinitas bukan berarti jadwal ketat seperti hari sekolah, melainkan pola harian yang memberi rasa aman dan prediktabilitas bagi anak. Jam tidur dan bangun yang terlalu berantakan sering kali membuat anak lebih mudah rewel, sulit fokus, dan emosinya naik turun. Dengan jam tidur yang relatif konsisten, tubuh dan pikiran anak tetap berada dalam ritme yang sehat.
Di masa liburan, anak juga cenderung lebih sering memegang gawai. Awalnya mungkin hanya untuk hiburan sebentar, tetapi tanpa disadari durasinya bisa bertambah berjam-jam. Paparan layar berlebihan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan emosi, sulit tidur, hingga penurunan kemampuan mengelola stres pada anak. Karena itu, orang tua perlu hadir bukan sebagai polisi gawai, melainkan sebagai pendamping yang mengajak anak melakukan aktivitas alternatif yang sama menariknya.
Mengajak anak terlibat dalam aktivitas sederhana sehari-hari dapat menjadi cara efektif menjaga kesehatan mentalnya. Kegiatan seperti memasak bersama, merapikan kamar, berkebun, atau sekadar menemani orang tua berbelanja bisa memberikan rasa memiliki dan dihargai. Anak merasa dirinya bagian penting dari keluarga, bukan hanya penonton di rumah. Aktivitas-aktivitas ini juga melatih keterampilan hidup sekaligus memperkuat ikatan emosional antara anak dan orang tua.
Libur sekolah tahun baru juga menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak interaksi emosional yang berkualitas. Di hari-hari sekolah, percakapan sering kali terbatas pada hal-hal teknis seperti PR atau jadwal ujian. Saat libur, orang tua memiliki kesempatan emas untuk benar-benar mendengarkan cerita anak, perasaannya, dan pikirannya tanpa terburu-buru. Anak yang merasa didengar cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik karena emosinya diakui dan divalidasi.
Selain itu, memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosi selama liburan sangatlah penting. Tidak semua anak merasa liburan selalu menyenangkan. Ada anak yang justru merasa bosan, kesepian, atau kehilangan teman-temannya di sekolah. Alih-alih menganggap perasaan tersebut sebagai hal sepele, orang tua sebaiknya membantu anak mengenali dan menamai emosinya. Dari sinilah anak belajar bahwa semua perasaan itu valid dan bisa dikelola dengan cara yang sehat.
Aktivitas fisik juga memegang peran besar dalam menjaga kesehatan mental anak selama libur sekolah. Bergerak aktif membantu tubuh melepaskan hormon endorfin yang dapat meningkatkan suasana hati. Tidak harus selalu olahraga berat, bermain sepeda di sore hari, berjalan santai bersama keluarga, atau bermain di taman sudah cukup memberikan manfaat besar. Anak yang aktif bergerak biasanya tidur lebih nyenyak dan lebih stabil secara emosional.
Liburan sering kali identik dengan bepergian atau agenda yang padat. Namun perlu diingat, anak juga membutuhkan waktu tanpa agenda, waktu untuk diam, melamun, dan berimajinasi. Waktu luang yang tidak terstruktur justru membantu perkembangan kreativitas dan kesehatan mental anak. Di momen inilah anak belajar mengenali dirinya sendiri, menemukan minat, dan mengelola kebosanannya secara mandiri.
Peran orang tua sebagai contoh juga tidak kalah penting. Anak belajar mengelola stres dan emosi dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika orang tua terlihat mudah marah, terlalu sibuk dengan ponsel, atau tidak menikmati waktu liburan, anak akan menangkap sinyal yang sama. Sebaliknya, ketika orang tua menunjukkan sikap rileks, mampu menikmati momen kecil, dan hadir secara utuh, anak pun merasa aman secara emosional.
Libur sekolah tahun baru juga bisa dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai positif tanpa kesan menggurui. Melalui cerita, pengalaman bersama, atau refleksi ringan sebelum tidur, orang tua dapat membantu anak memahami pentingnya bersyukur, mengenal diri, dan menghargai proses. Pendekatan yang hangat dan santai membuat pesan lebih mudah diterima dan membekas dalam ingatan anak.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental anak selama libur sekolah bukan tentang membuat liburan yang sempurna, melainkan menciptakan suasana yang aman, hangat, dan penuh koneksi. Anak tidak membutuhkan liburan mewah atau aktivitas mahal. Yang mereka butuhkan adalah kehadiran orang tua, rasa dipahami, dan ruang untuk menjadi diri sendiri. Dengan pendampingan yang tepat, libur sekolah tahun baru dapat menjadi fondasi penting bagi kesehatan mental anak di masa depan.
Referensi
- American Academy of Pediatrics. Mental Health in Children and Teens.
- World Health Organization (WHO). Child and Adolescent Mental Health.
- UNICEF. Supporting Children’s Mental Health and Well-being.
- APA (American Psychological Association). The Importance of Routine for Children.
- Kementerian Kesehatan RI. Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja.
Hilman/Freepik.com



