JEJAKFORENSIK.COM – Pernahkah Anda memperhatikan anak sekolah atau siswa yang terlihat lelah banget dengan tugas yang menumpuk, ujian yang datang bertubi-tubi, serta tuntutan meraih nilai tinggi? Inilah fenomena yang disebutstres akademik, dan kalau dibiarkan bisa berdampak serius pada kesehatan mental siswa.
Di era sekarang, tekanan akademik bukan hanya soal nilai raport atau ranking kelas, tapi juga ekspektasi sosial, persaingan masuk perguruan tinggi, sampai komentar dari lingkungan sekitar. Yuk, kita bahas lebih dalam soal stres akademik, dampaknya pada kesehatan mental, serta cara mengatasinya dengan bijak.
Apa Itu Stres Akademik?
Stres akademik adalah kondisi ketika siswa merasa terbebani, tertekan, atau cemas akibat tuntutan akademik yang dirasa berlebihan. Menurut penelitian dari Misra & Castillo (2004), stres akademik muncul ketika tuntutan akademik melebihi kemampuan siswa untuk mengatasinya.
Faktor penyebabnya bisa bermacam-macam, seperti:
- Beban tugas sekolah atau kuliah yang terlalu banyak.
- Tekanan ujian dan deadline.
- Harapan orang tua yang tinggi.
- Persaingan dengan teman sebaya.
- Kecemasan tentang masa depan atau pilihan karier.
Dampak Stres Akademik pada Kesehatan Mental
Kalau stres akademik nggak segera diatasi, dampaknya bisa serius pada kesehatan mental siswa. Beberapa efek yang sering muncul antara lain:
- Kecemasan dan Depresi
Siswa jadi gampang panik, overthinking, bahkan merasa tidak berdaya. Penelitian di Journal of Affective Disorders (Deb et al., 2015) menemukan bahwa tekanan akademik tinggi bisa meningkatkan risiko depresi pada remaja. - Burnout (Kejenuhan Belajar)
Terlalu lama berada di bawah tekanan membuat siswa kehilangan motivasi belajar. Bukannya produktif, malah jadi malas atau menunda-nunda pekerjaan. - Gangguan Tidur
Begadang demi tugas atau kecemasan soal ujian bisa bikin pola tidur berantakan. Padahal, kurang tidur justru memperburuk stres dan menurunkan konsentrasi. - Menurunnya Prestasi Akademik
Ironisnya, stres akademik yang tujuannya untuk meningkatkan prestasi justru bisa menurunkan performa belajar karena pikiran jadi tidak fokus. - Masalah Fisik
Stres kronis juga bisa memicu sakit kepala, sakit perut, mudah lelah, bahkan penurunan sistem imun.
Cara Mengatasi Stres Akademik
Kabar baiknya, stres akademik bisa dikendalikan dengan strategi yang tepat. Berikut beberapa tips yang bisa dicoba siswa, guru, maupun orang tua:
1. Manajemen Waktu yang Baik
Bikin jadwal belajar yang realistis dan konsisten. Jangan menunda tugas, kerjakan sedikit demi sedikit. Dengan begitu, beban nggak terasa menumpuk.
2. Prioritaskan Istirahat dan Tidur
Tidur cukup itu penting banget buat kesehatan mental. Penelitian dari National Sleep Foundation menunjukkan bahwa remaja butuh 8–10 jam tidur per malam agar tetap fokus dan sehat.
3. Berolahraga dan Jaga Pola Hidup Sehat
Aktivitas fisik seperti jogging, yoga, atau sekadar jalan santai bisa membantu menurunkan stres. Makanan sehat juga berpengaruh pada mood dan energi belajar.
4. Latihan Relaksasi dan Mindfulness
Teknik pernapasan, meditasi, atau sekadar meluangkan waktu untuk hobi bisa menenangkan pikiran. Praktik mindfulness terbukti efektif mengurangi kecemasan siswa (Zenner et al., 2014).
5. Komunikasi dengan Orang Terdekat
Jangan dipendam sendiri. Curhat ke orang tua, sahabat, atau guru bisa bikin perasaan lebih lega. Dukungan sosial terbukti jadi pelindung utama dari dampak buruk stres.
6. Kurangi Perfeksionisme
Nggak ada yang sempurna. Wajar kalau sesekali nilai tidak sesuai harapan. Belajar menerima kekurangan bisa membantu mengurangi tekanan berlebihan.
7. Konsultasi dengan Profesional
Kalau stres akademik sudah terlalu berat, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau konselor sekolah. Bantuan profesional bisa memberikan strategi coping yang lebih efektif.
Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Mengatasi Stres Akademik
Mengelola stres akademik bukan cuma tanggung jawab siswa. Orang tua dan sekolah juga punya peran penting:
- Orang Tua: Hindari membandingkan anak dengan orang lain, berikan dukungan emosional, dan fokus pada proses belajar, bukan hanya hasil.
- Guru/Sekolah: Bisa mengatur beban tugas agar lebih seimbang, memberikan konseling, serta menciptakan lingkungan belajar yang ramah mental health.
Dengan kolaborasi yang baik, siswa bisa tumbuh dalam suasana belajar yang sehat, produktif, dan menyenangkan.
Stres akademik memang bagian dari perjalanan belajar, tapi bukan berarti harus dibiarkan menguasai hidup siswa. Dengan manajemen waktu, dukungan orang terdekat, pola hidup sehat, serta kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, stres bisa diubah menjadi motivasi, bukan beban.
Belajar memang penting, tapi kesehatan mental jauh lebih berharga. Jadi, yuk sama-sama belajar menyeimbangkan keduanya supaya masa sekolah dan kuliah tetap jadi pengalaman berharga, bukan trauma yang membekas.
Hilman/Freepik.com
Referensi
- Deb, S., Strodl, E., & Sun, J. (2015). Academic stress, parental pressure, anxiety and mental health among Indian high school students. International Journal of Psychology and Behavioral Sciences, 5(1), 26–34.
- Misra, R., & Castillo, L. G. (2004). Academic stress among college students: Comparison of American and international students. International Journal of Stress Management, 11(2), 132–148.
- National Sleep Foundation. (2015). Teens and Sleep. https://www.thensf.org
- Zenner, C., Herrnleben-Kurz, S., & Walach, H. (2014). Mindfulness-based interventions in schools—a systematic review and meta-analysis. Frontiers in Psychology, 5, 603.

