JEJAKFORENSIK.COM – Bayangkan kamu membaca berita tentang anak yang terlibat dalam tindakan kriminal. Reaksi pertama mungkin perasaan kaget, prihatin, bahkan bertanya-tanya, “Mengapa bisa terjadi?” Di sinilah peran psikolog forensik menjadi sangat krusial. Tidak hanya sekadar membantu proses hukum, tetapi juga memberikan perspektif psikologis yang mendalam untuk memahami perilaku anak dan menentukan arah penanganan yang tepat.
Bagaimana peran psikolog forensik dalam menangani anak yang berkonflik dengan hukum — sebuah pembahasan yang penting baik bagi orang tua, pendidik, maupun siapa pun yang peduli dengan perkembangan anak.
Apa Itu Psikologi Forensik?
Sebelum masuk ke peran psikolog forensik, penting untuk memahami dulu apa itu psikologi forensik. Secara sederhana, psikologi forensik adalah cabang psikologi yang diterapkan dalam konteks hukum dan peradilan. Ini bukan sekadar psikologi klinis biasa, tetapi psikologi yang bersinggungan langsung dengan sistem hukum — termasuk proses penyidikan, pemeriksaan di pengadilan, hingga tahap rehabilitasi.
Psikologi forensik menerapkan metode ilmiah untuk menjembatani psikologi dan hukum, sehingga implikasi psikologis dari suatu kasus kriminal dapat dipahami secara komprehensif oleh aparat hukum.
Anak yang Berkonflik dengan Hukum: Realitas dan Tantangan
Dalam konteks hukum di Indonesia, anak yang berkonflik dengan hukum (ABH) adalah anak usia 12 sampai kurang dari 18 tahun yang diduga melakukan tindak pidana. Usia ini merupakan masa penting dalam perkembangan psikologis dan sosial, ketika kemampuan berpikir, pengambilan keputusan, dan pengendalian emosi masih dalam tahap pembentukan.
Karena itu, proses hukum terhadap anak tidak bisa dipukul rata seperti orang dewasa. Anak lebih rentan terhadap trauma, tekanan, dan efek jangka panjang jika tidak ditangani dengan tepat. Di sinilah psikolog forensik berperan sebagai jembatan antara kebutuhan hukum dan kebutuhan psikologis anak.
Peran Psikolog Forensik dalam Sistem Peradilan Anak
Membantu Proses Investigasi dengan Pendekatan Psikologis
Saat seorang anak dicurigai melakukan tindak pidana, proses awal adalah penyelidikan. Pada tahap ini, psikolog forensik membantu penyidik memahami dinamika psikologis anak — motivasi tindakan, kondisi mental, latar belakang perkembangan, hingga faktor risiko yang mungkin mendorong perilaku tersebut. Penilaian ini membantu aparat hukum membuat keputusan yang lebih tepat dan adil, serta meminimalkan kesalahan interpretasi terhadap perilaku anak.
Menilai Kapasitas dan Tanggung Jawab Hukum Anak
Anak belum memiliki kemampuan kognitif dan emosional yang sama dengan orang dewasa. Psikolog forensik melakukan evaluasi kapasitas — apakah anak memahami konsekuensi tindakan mereka, apakah layak untuk diadili, dan sejauh mana mereka bertanggung jawab secara hukum berdasarkan tingkat perkembangan mereka. Evaluasi semacam ini sangat penting untuk menentukan apakah hukum pidana konvensional layak diterapkan atau perlu pendekatan yang lebih rehabilitatif.
Melindungi Hak Anak Selama Proses Hukum
Dalam sistem peradilan anak, psikolog forensik memastikan bahwa proses hukum berlangsung sesuai dengan kebutuhan dan hak-hak psikologis anak. Ini termasuk menjelaskan proses hukum kepada anak dengan bahasa yang mudah dipahami, memastikan anak tidak mengalami secondary victimization (trauma lanjutan akibat proses hukum), dan membantu menjaga hak anak untuk didengar serta diperlakukan adil dalam setiap tahap peradilan.
Memberi Keterangan Ahli di Pengadilan
Psikolog forensik dapat hadir sebagai saksi ahli di persidangan untuk memberikan pandangan profesional tentang kondisi psikologis anak, faktor penyebab perilaku, serta rekomendasi penanganan yang tepat. Informasi ini membantu hakim memahami konteks psikologis di balik tindakan anak dan memutuskan hukuman atau rehabilitasi yang sesuai.
Merancang Program Rehabilitasi yang Tepat
Pemidanaan tidak selalu menjadi jawaban terbaik untuk anak yang berkonflik dengan hukum. Sering kali pendekatan rehabilitatif seperti konseling, terapi perilaku, atau program edukasi justru lebih efektif untuk membantu anak kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif. Psikolog forensik merancang dan memantau program rehabilitasi berdasarkan penilaian psikologis anak, sehingga upaya reintegrasi sosial lebih berhasil.
Psikolog Forensik Sebagai Mitra Multi-disipliner
Peran psikolog forensik tidak berdiri sendiri. Ia bekerja bersama penyidik, jaksa, hakim, dan tenaga pelayanan sosial. Dalam tim multi-disipliner ini, psikolog memberikan wawasan psikologis yang memperkaya proses penanganan kasus, mulai dari pengungkapan fakta hingga rekomendasi terbaik untuk masa depan anak. Kolaborasi semacam ini penting agar keputusan hukum tidak semata dibuat berdasarkan bukti faktual saja, tetapi juga mempertimbangkan aspek perkembangan psikologis anak.
Mengapa Peran Ini Sangat Penting?
Pertama, pendekatan yang hanya berfokus pada aspek hukum tanpa mempertimbangkan aspek psikologis anak bisa berdampak buruk jangka panjang, termasuk meningkatnya risiko kriminal berulang (recidivism). Psikolog forensik membantu mengurangi risiko ini dengan memberikan penilaian risiko yang mendalam dan strategi intervensi yang sesuai.
Kedua, anak yang berkonflik dengan hukum seringkali merupakan korban sistemik — misalnya karena lingkungan keluarga yang kurang suportif, trauma masa kecil, atau tekanan sosial. Psikolog forensik membantu mengidentifikasi faktor-faktor ini sehingga penanganan tidak hanya menghukum, tetapi juga menyembuhkan.
Ketiga, keterlibatan psikolog forensik meningkatkan kualitas proses hukum itu sendiri. Keterangan ahli psikolog membantu hakim memahami alasan di balik tindakan anak, bukan sekadar fakta tindakan kriminal semata. Ini membuat putusan lebih adil dan berbasis bukti ilmiah.
Tantangan dalam Praktik Psikologi Forensik di Indonesia
Meski peran psikolog forensik sangat penting, implementasinya di Indonesia masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan jumlah tenaga psikolog forensik yang terlatih dalam menangani kasus anak. Hal ini membuat akses terhadap layanan psikologi forensik masih terbatas, terutama di daerah luar kota besar.
Selain itu, pemahaman tentang peran psikolog forensik di kalangan aparat hukum pun masih perlu ditingkatkan agar keterlibatan mereka bisa dioptimalkan dalam setiap kasus yang melibatkan anak.
Lebih dari Sekadar Ilmu dan Hukum
Peran psikolog forensik dalam menangani anak yang berkonflik dengan hukum jauh lebih kompleks daripada sekadar memberikan tes psikologis atau menjadi saksi ahli di persidangan. Ia adalah jembatan yang menghubungkan dunia psikologi dan hukum, memastikan bahwa proses hukum tidak hanya adil, tetapi juga memperhatikan kebutuhan perkembangan psikologis anak.
Dengan pendekatan yang tepat, psikolog forensik tidak hanya membantu menangani kasus kriminal, tetapi juga berkontribusi dalam memulihkan masa depan anak — dari trauma hingga reintegrasi sosial. Untuk itu, peran ini perlu dipahami secara lebih luas oleh masyarakat dan aparat hukum, serta dukungan terhadap pelatihan psikolog forensik harus terus ditingkatkan.***
Hilman/Freepik.com

