Peran Ayah dalam Parenting yang Menentukan Masa Depan Anak

JEJAKPARENTING.COM – Selama bertahun-tahun, banyak keluarga tumbuh dengan pola yang sama. Ayah bekerja, ibu mengurus anak. Ayah diposisikan sebagai pencari nafkah utama, sementara urusan pengasuhan dianggap wilayah ibu. Pola ini begitu lama hidup di masyarakat sampai sering dianggap wajar, bahkan tak perlu dipertanyakan. Padahal, dalam dunia parenting modern, cara pandang ini pelan-pelan mulai bergeser.

Hari ini, peran ayah dalam parenting tidak lagi dilihat sebatas soal uang yang dibawa pulang. Ayah punya peran emosional, sosial, dan psikologis yang sama pentingnya dalam tumbuh kembang anak. Bahkan, banyak penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak memberi dampak jangka panjang yang besar, mulai dari kepercayaan diri anak, kemampuan bersosialisasi, sampai kesehatan mentalnya saat dewasa.

Ayah bukan figuran dalam kehidupan anak. Kehadirannya nyata, terasa, dan meninggalkan jejak.

Di tahun-tahun awal kehidupan, anak belajar memahami dunia lewat hubungan terdekatnya, yaitu orang tua. Selama ini, fokus sering diarahkan pada peran ibu, terutama karena ibu biasanya lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak. Namun, hubungan anak dengan ayah punya karakter yang berbeda. Ayah sering hadir dengan gaya interaksi yang lebih menantang, mendorong anak untuk berani mencoba hal baru, mengambil risiko yang aman, dan mengenal batasan diri.

Peran ayah dalam pengasuhan anak terlihat jelas saat ayah terlibat langsung, bukan hanya hadir secara fisik. Saat ayah mau mendengarkan cerita anak sepulang kerja, menemani belajar tanpa menggurui, atau sekadar bermain di akhir pekan, anak merasa diakui. Rasa diakui ini sederhana, tapi efeknya besar. Anak tumbuh dengan rasa aman karena tahu bahwa ayahnya peduli dan bisa diandalkan.

Dalam banyak keluarga, ayah masih merasa tugas utamanya selesai ketika kebutuhan finansial tercukupi. Padahal, anak tidak hanya butuh makan dan tempat tinggal. Anak butuh figur yang bisa ia jadikan contoh, tempat bertanya, dan sandaran emosional. Di sinilah peran ayah dalam keluarga menjadi sangat penting. Ayah adalah cermin pertama tentang bagaimana seseorang bersikap, mengelola emosi, dan bertanggung jawab.

Anak laki-laki sering belajar tentang maskulinitas dari ayahnya. Bukan soal keras atau dominan, tapi tentang bagaimana menjadi pria yang menghargai orang lain, mampu mengendalikan emosi, dan berani meminta maaf ketika salah. Sementara anak perempuan belajar tentang bagaimana ia seharusnya diperlakukan. Ayah yang hangat, menghormati pasangan, dan hadir secara emosional membantu anak perempuan tumbuh dengan standar hubungan yang sehat.

Keterlibatan ayah dalam parenting juga berpengaruh besar pada perkembangan kognitif anak. Studi dari American Psychological Association menunjukkan bahwa anak yang memiliki hubungan dekat dengan ayah cenderung memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik dan prestasi akademik yang lebih stabil. Ini bukan soal ayah harus selalu membantu PR, tapi tentang iklim rumah yang suportif dan penuh perhatian.

Selain itu, ayah punya peran unik dalam mengajarkan disiplin. Pendekatan ayah yang tegas tapi hangat membantu anak memahami aturan tanpa merasa ditekan. Anak belajar bahwa batasan bukan hukuman, melainkan bentuk perhatian. Ketika ayah konsisten dan adil, anak merasa aman karena tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Dalam konteks emosional, peran ayah sering diremehkan. Banyak ayah dibesarkan dengan pesan bahwa menunjukkan emosi adalah tanda kelemahan. Akibatnya, ada jarak emosional yang tanpa sadar tercipta antara ayah dan anak. Padahal, ayah yang berani menunjukkan empati, mengakui lelah, dan terbuka soal perasaan justru memberi pelajaran berharga. Anak belajar bahwa emosi adalah bagian dari manusia, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Ayah dan perkembangan anak saling terkait erat. Anak yang tumbuh dengan ayah yang terlibat cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah dan kemampuan mengelola stres yang lebih baik. UNICEF dalam beberapa laporannya menekankan bahwa keterlibatan ayah sejak dini membantu membentuk regulasi emosi anak dan memperkuat ikatan keluarga secara keseluruhan.

Di era sekarang, tantangan ayah memang tidak ringan. Tuntutan pekerjaan, waktu tempuh yang panjang, dan tekanan ekonomi sering membuat ayah merasa kelelahan sebelum sempat hadir untuk keluarga. Namun, keterlibatan ayah dalam parenting tidak selalu soal durasi, melainkan kualitas. Sepuluh menit percakapan yang benar-benar hadir tanpa gangguan gawai sering lebih bermakna daripada berjam-jam bersama tapi tanpa koneksi.

Peran ayah dalam parenting juga berdampak langsung pada relasi pasangan. Ketika ayah terlibat aktif, beban pengasuhan tidak bertumpu pada satu pihak. Ibu merasa didukung, dihargai, dan tidak sendirian. Hubungan yang sehat antara ayah dan ibu menciptakan lingkungan emosional yang stabil bagi anak. Anak belajar tentang kerja sama, saling menghormati, dan komunikasi dari contoh nyata di rumah.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, peran ayah yang aktif juga membantu memutus pola pengasuhan yang kaku dan tidak seimbang. Anak-anak yang melihat ayahnya terlibat dalam pekerjaan rumah dan pengasuhan tumbuh dengan pandangan yang lebih setara tentang peran gender. Ini penting untuk membentuk generasi yang lebih adil dan empatik.

Peran ayah dalam keluarga bukan soal menggantikan ibu atau mengambil alih peran tertentu. Ini soal berjalan bersama. Ayah dan ibu memiliki gaya yang berbeda, dan justru perbedaan itu memperkaya pengalaman anak. Ketika ayah hadir sebagai sosok yang hangat, konsisten, dan peduli, anak tumbuh dengan fondasi emosional yang kuat.

Pada akhirnya, ayah memang tetap pencari nafkah. Tapi ayah juga pendengar, pelindung, guru, dan sahabat bagi anaknya. Peran ayah dalam parenting tidak bisa diwakilkan, tidak bisa ditunda, dan tidak bisa dianggap pelengkap. Kehadiran ayah hari ini akan menjadi ingatan, nilai, dan kekuatan anak di masa depan.

Referensi:
American Psychological Association. The Role of the Father in Child Development.
UNICEF. The Importance of Father Involvement in Early Childhood Development.
World Health Organization. Improving Early Childhood Development: WHO Guideline.


Hilman/Freepik.com

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komunitas Jejak Forensik

Pintu Masuk Dunia Psikologi Forensik Ada di Grup WA Ini. Siap Gabung?
Latest News
Categories

Jangan Diam !

Jika kamu mengalami atau melihat kasus yang berkaitan dengan kekerasan, pelecehan, perundungan, atau masalah psikologis lainnya—jangan simpan sendiri.