JEJAKFORENSIK.COM – Di tengah padatnya jadwal belajar, les, tugas, dan kegiatan ekstrakurikuler, banyak anak sekolah ternyata mengalami burnout — kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat tekanan berkepanjangan. Masalahnya, burnout pada anak sering tidak disadari orangtua karena gejalanya mirip dengan “malas belajar” atau “tidak disiplin”. Padahal, jika dibiarkan, burnout bisa memengaruhi kesehatan mental, prestasi akademik, bahkan rasa percaya diri anak.
Artikel ini akan membahas secara tuntas apa itu burnout pada anak sekolah, tanda-tandanya, penyebabnya, serta tips efektif untuk mencegah dan mengatasinya.
Apa Itu Burnout pada Anak Sekolah?
Burnout awalnya dikenal dalam dunia kerja, tetapi sekarang banyak juga terjadi pada anak-anak dan remaja. Menurut American Psychological Association (APA), burnout adalah kondisi kelelahan ekstrem akibat tuntutan yang berlebihan, hingga membuat seseorang kehilangan motivasi dan merasa “habis tenaga” secara mental.
Pada anak sekolah, burnout biasanya muncul karena beban akademik yang terlalu berat, tekanan prestasi, atau kurangnya waktu istirahat dan bermain.
Tanda-Tanda Burnout pada Anak
Burnout bukan sekadar anak malas atau manja. Ada tanda-tanda khas yang perlu diwaspadai orangtua:
- Perubahan Emosi
Anak jadi lebih mudah marah, sedih tanpa alasan jelas, atau sering mengeluh. Mereka mungkin terlihat kehilangan minat terhadap hal-hal yang biasanya disukai. - Menurunnya Motivasi Belajar
Anak mulai enggan mengerjakan PR, malas ikut les, atau bahkan tidak mau berangkat sekolah. - Kelelahan Fisik yang Berkepanjangan
Meskipun tidur cukup, anak tetap mengeluh lelah atau mengantuk sepanjang hari. - Prestasi Akademik Menurun
Nilai yang biasanya stabil mulai turun drastis, meskipun anak tetap belajar. - Keluhan Psikosomatis
Anak sering mengeluh sakit kepala, sakit perut, atau nyeri tanpa penyebab medis yang jelas. - Menarik Diri dari Lingkungan
Anak mulai menghindari teman atau kegiatan sosial, memilih menyendiri di kamar.
Penyebab Burnout pada Anak Sekolah
Burnout biasanya bukan karena satu faktor saja, melainkan kombinasi dari beberapa hal berikut:
- Beban Akademik Berlebih
Tugas, ulangan, dan persiapan ujian yang menumpuk bisa membuat anak kewalahan. - Terlalu Banyak Kegiatan Tambahan
Les akademik, kursus, atau ekstrakurikuler yang terlalu padat bisa mengurangi waktu istirahat. - Tekanan dari Orangtua atau Lingkungan
Ekspektasi yang terlalu tinggi bisa membuat anak merasa takut gagal. - Kurangnya Waktu Istirahat dan Bermain
Anak butuh waktu untuk santai dan melakukan kegiatan yang menyenangkan. - Masalah Sosial atau Emosional di Sekolah
Bullying, pergaulan yang tidak nyaman, atau konflik dengan teman bisa memperparah stres.
Dampak Burnout pada Anak
Jika burnout tidak ditangani, dampaknya bisa panjang:
- Penurunan prestasi akademik secara signifikan
- Gangguan tidur dan pola makan
- Masalah kesehatan mental seperti kecemasan atau depresi
- Hilangnya rasa percaya diri
- Potensi trauma belajar yang membuat anak membenci proses pendidikan
Tips Orangtua Mencegah dan Mengatasi Burnout Anak
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Berikut langkah yang bisa dilakukan orangtua:
1. Kenali Batas Kemampuan Anak
Setiap anak punya kapasitas belajar yang berbeda. Hindari memaksakan jadwal yang terlalu padat. Pastikan ada waktu untuk bermain, bersosialisasi, dan beristirahat.
2. Beri Ruang untuk Istirahat
Pastikan anak punya waktu “me time” setiap hari, misalnya membaca buku kesukaan, menggambar, atau sekadar bermain di luar rumah.
3. Jalin Komunikasi Terbuka
Tanyakan perasaan anak tentang sekolah tanpa menghakimi. Anak yang merasa didengar akan lebih mudah menceritakan masalahnya.
4. Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil
Alih-alih menuntut nilai sempurna, hargai usaha anak. Ini membantu mengurangi tekanan.
5. Atur Prioritas Kegiatan
Tidak semua les atau kegiatan ekstrakurikuler wajib diikuti. Pilih yang benar-benar bermanfaat dan sesuai minat anak.
6. Ajarkan Manajemen Stres
Ajarkan anak teknik relaksasi sederhana, seperti menarik napas dalam, melakukan peregangan, atau menulis jurnal perasaan.
7. Perhatikan Pola Tidur dan Makan
Tidur cukup (8–10 jam) dan gizi seimbang sangat berpengaruh pada energi dan mood anak.
8. Libatkan Sekolah
Jika gejala burnout berat, komunikasikan dengan guru atau konselor sekolah untuk mencari solusi bersama.
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?
Jika anak menunjukkan gejala burnout yang disertai tanda depresi (menarik diri total, menangis terus-menerus, atau berbicara tentang keputusasaan), segera konsultasikan ke psikolog anak atau psikiater. Penanganan sejak dini akan membantu anak pulih lebih cepat.
Burnout pada anak sekolah adalah masalah nyata yang bisa memengaruhi masa depan mereka. Orangtua berperan penting dalam mengenali gejalanya, memahami penyebabnya, dan memberikan dukungan yang tepat. Ingat, anak bukan mesin yang bisa terus bekerja tanpa henti. Memberi mereka waktu untuk istirahat dan menikmati masa kecilnya sama pentingnya dengan mendorong prestasi akademik.
Hilman/Freepik.com
Referensi:
- American Psychological Association. (2023). Burnout. https://www.apa.org
- Sari, N. P., & Pertiwi, N. D. (2021). “Burnout Akademik pada Siswa dan Strategi Penanggulangannya.” Jurnal Psikologi Pendidikan, 13(2), 85–94.
- World Health Organization (WHO). (2020). Mental health and psychosocial well-being in schools.

