JEJAKFORENSIK.COM – Media sosial telah menjadi ruang publik yang masif, dinamis, dan tak jarang menjadi ajang “pertempuran” informasi. Di balik kebebasan berbagi cerita, terdapat narasi-narasi palsu yang mampu memutarbalikkan fakta hingga memicu emosi publik.
Fenomena ini menjadi sorotan dalam Webinar Rallyshow Day-4 Road to Festival Aksi Anak Damai yang menghadirkan Dr. Guruh Taufan, S.E., M.Kom., seorang Statement Analyst yang menekuni studi tentang kebohongan dan manipulasi informasi.
“Ledakan informasi di media sosial itu dahsyat sekali. Kita harus sadar bahwa di balik narasi palsu, ada perilaku kebohongan yang sulit terdeteksi,” ujar Dr. Guruh dalam paparannya.
Ledakan Informasi dan “Kelelahan Berita”
Menurut data yang dipaparkan Dr. Guruh, jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 289,4 juta orang—angka yang luar biasa karena melebihi jumlah penduduk akibat kepemilikan lebih dari satu perangkat. Pengguna media sosial tercatat sekitar 143 juta orang, didominasi generasi Z dan generasi Alfa.
Lonjakan ini memicu banjir informasi yang membuat masyarakat mengalami apa yang disebut “kelelahan berita” (news fatigue). Orang tak lagi menikmati membaca berita panjang; mereka memilih konten singkat, cepat, dan visual seperti reels atau video TikTok.
“Scroll singkat lebih diminati daripada membaca berita. Masalahnya, yang di-scroll seringkali berita sampah atau narasi manipulatif yang hanya menampilkan potongan foto atau video diberi keterangan palsu,” jelas Dr. Guruh.
Fenomena ini mengarah pada kondisi yang disebut para ahli sebagai “brainroot” atau otak berkarat. Generasi muda yang terlalu sering mengonsumsi konten ringan dan hiburan berlebihan mengalami overdosis dopamin, sehingga menurunkan minat untuk membaca dan mencerna informasi serius.
Manipulasi Narasi: Dari Fantasi hingga Strategi
Manipulasi di media sosial kerap lahir dari kebohongan—disadari atau tidak. Dr. Guruh menguraikan bahwa rata-rata setiap orang melakukan 2–3 kebohongan dalam 10 menit percakapan, baik dalam bentuk basa-basi atau menutupi fakta.
Dalam dunia psikologi, kebohongan bisa dipicu oleh beberapa kondisi, antara lain:
- Mitomania – perilaku berbohong karena fantasi pribadi, seperti flexing harta orang lain, berpura-pura keliling dunia dengan greenscreen, atau mengaku kaya demi meraih perhatian.
- Sosiopat – kebohongan dengan sifat agresif dan manipulatif. Seorang sosiopat mampu menciptakan skenario untuk memecah belah, menghasut, dan memengaruhi emosi publik demi tujuan tertentu.
“Yang berbahaya itu sosiopat. Mereka bisa memimpin jutaan pengikut hanya dengan kata-kata yang memicu emosi, sementara dia sendiri santai rebahan,” tutur Dr. Guruh.
Manipulasi juga terjadi lewat tiga bentuk kebohongan utama:
- Pemalsuan – menyampaikan informasi 100% tidak sesuai fakta.
- Penyembunyian – memberikan informasi benar namun tidak utuh.
- Pengaburan – membuat informasi menjadi samar dan membingungkan.
Senjata Emosi dan Repetisi
Dr. Guruh menegaskan, emosi adalah bahan bakar paling ampuh bagi narasi palsu. Banyak konten kreator yang sengaja mengeksploitasi amarah atau kesedihan untuk mengundang simpati publik.
“Bahkan ada yang membuat skenario pertikaian palsu untuk mendongkrak popularitas. Ada pula video pemulung yang diberi uang agar terlihat mengharukan, padahal itu hanya akting,” ungkapnya.
Strategi lain yang tak kalah berbahaya adalah repetisi. Narasi palsu yang diulang-ulang terus-menerus bisa membentuk persepsi publik sehingga dianggap sebagai kebenaran. Teknik ini sering digunakan dalam propaganda politik maupun pemasaran produk.
Membaca Kebohongan dari Bahasa Tubuh
Sebagai seorang statement analyst, Dr. Guruh menekankan pentingnya memahami respons psikologis seseorang saat berbohong. Ia menjelaskan kaitan antara sistem limbik di otak dengan reaksi terhadap ancaman.
Ada tiga respons klasik yang dikenal sebagai “3F”:
- Freeze – diam dan mematung saat menghadapi ancaman.
- Flight – menghindar atau mengalihkan pembicaraan.
- Fight – melawan atau bersikap agresif.
“Kita bisa melihat tanda-tanda kebohongan melalui respons limbik ini. Ketika seseorang bersikeras menutupi sesuatu, hormon stres meningkat dan biasanya tercermin pada ekspresi wajah,” jelasnya.
Tantangan di Era Narasi Palsu
Dr. Guruh mengingatkan bahwa narasi palsu tidak hanya merusak reputasi individu, tetapi juga dapat mengganggu ketenteraman masyarakat. Ia mengajak publik untuk lebih kritis saat menerima informasi di media sosial.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Cek waktu kejadian – apakah foto atau video benar-benar relevan dengan narasi yang disampaikan.
- Periksa detail – ajukan pertanyaan kritis terhadap klaim yang tidak disertai sumber jelas.
- Uji konsistensi – apakah emosi atau kesaksian narasumber sesuai dengan konteks.
- Verifikasi sumber – jangan mudah percaya pada testimoni tanpa bukti ilmiah atau otoritas yang kredibel.
“Jangan sampai kita ikut menyebarkan berita yang tidak valid. Saat menerima narasi abu-abu, tahan dulu sebelum dibagikan,” pesannya.
Perkembangan teknologi dan ledakan informasi memang tak terelakkan, namun kemampuan masyarakat untuk mengenali manipulasi dan menahan diri untuk tidak menyebarkan narasi palsu adalah kunci menjaga ekosistem digital yang sehat.
“Ketika kita belajar membaca narasi dengan cermat, kita tidak mudah dibohongi. Ini tugas kita bersama agar generasi muda tidak menjadi korban ‘otak berkarat’ dan manipulasi emosi di media sosial,” tegas Dr. Guruh.
Webinar ini menjadi pengingat bahwa literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus informasi.***

