JEJAKFORENSIK.COM – Dalam dunia parenting, banyak orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik ketika bersikap “tegas” kepada anak. Namun tanpa disadari, ketegasan itu sering kali berubah menjadi sikap “keras”. Kalimat seperti “Aku kan cuma tegas, bukan galak” atau “Kalau nggak keras, anak nggak nurut” terdengar sangat familiar di telinga. Padahal, perbedaan antara tegas dan keras dalam mendidik anak sangat tipis, tetapi dampaknya terhadap tumbuh kembang anak bisa sangat jauh berbeda.
Memahami perbedaan ini penting agar orang tua tidak terjebak dalam pola asuh yang justru melukai emosi anak, meski niat awalnya adalah mendidik.
Mengapa Orang Tua Sering Menyamakan Tegas dan Keras?
Banyak orang tua tumbuh dalam budaya pengasuhan lama yang menganggap kepatuhan adalah tujuan utama. Anak yang diam, nurut, dan tidak membantah sering kali dianggap sebagai anak yang “berhasil dididik”. Akibatnya, cara mendidik anak yang keras sering disamarkan sebagai ketegasan.
Selain itu, kelelahan emosional, tekanan ekonomi, dan tuntutan sosial juga membuat orang tua lebih mudah terpancing emosi. Saat anak berulah, respon cepat berupa bentakan atau hukuman keras terasa lebih praktis dibandingkan komunikasi yang tenang dan penuh kesabaran.
Padahal, pola asuh anak yang efektif bukan tentang siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang paling mampu membimbing.
Apa Arti Tegas dalam Mendidik Anak?
Tegas dalam mendidik anak berarti memiliki aturan yang jelas, konsisten, dan disampaikan dengan cara yang tenang. Orang tua yang tegas tahu apa yang boleh dan tidak boleh, serta mampu menjelaskan alasannya sesuai usia anak.
Ketegasan tidak lahir dari emosi, melainkan dari kesadaran. Orang tua tetap memegang kendali, tetapi tanpa merendahkan atau menakuti anak. Nada suara stabil, pilihan kata terjaga, dan konsekuensi diberikan sebagai bentuk pembelajaran, bukan pelampiasan emosi.
Dalam parenting positif, ketegasan justru membuat anak merasa aman. Anak tahu batasan, tahu ekspektasi, dan memahami bahwa orang tuanya bisa dipercaya.
Lalu, Apa yang Dimaksud dengan Keras?
Bersikap keras dalam mendidik anak biasanya ditandai dengan dominasi emosi. Bentakan, ancaman, hukuman fisik, atau kata-kata yang melukai harga diri anak sering muncul. Fokusnya bukan lagi pada perilaku anak, melainkan pada pelampiasan rasa marah orang tua.
Anak memang bisa terlihat patuh dalam jangka pendek. Namun kepatuhan ini sering muncul karena takut, bukan karena mengerti. Dalam jangka panjang, pola asuh keras berisiko memicu anak menjadi penakut, agresif, tidak percaya diri, atau justru suka melawan saat besar nanti.
Inilah salah satu kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang sering terjadi tanpa disadari.
Dampak Tegas vs Keras bagi Perkembangan Anak
Anak yang dibesarkan dengan ketegasan cenderung memiliki kontrol diri yang baik. Ia belajar memahami konsekuensi, mampu mengelola emosi, dan terbiasa mengambil keputusan dengan pertimbangan. Hubungan anak dan orang tua pun lebih hangat karena dilandasi rasa saling percaya.
Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam didikan keras sering kali menyimpan luka emosional. Ia mungkin belajar berbohong agar terhindar dari hukuman, menekan perasaannya sendiri, atau meniru kekerasan itu dalam interaksi sosialnya.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa cara mendidik anak yang tepat bukan tentang seberapa keras suara orang tua, melainkan seberapa dalam pesan yang sampai ke hati anak.
Contoh Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari
Bayangkan seorang anak menolak berhenti bermain gawai. Orang tua yang keras mungkin langsung membentak, merebut gawai, atau mengancam hukuman. Situasi berakhir dengan tangisan dan rasa kesal di kedua belah pihak.
Sebaliknya, orang tua yang tegas akan mengingatkan aturan yang sudah disepakati, memberi waktu transisi, dan menjelaskan konsekuensi jika aturan dilanggar. Anak mungkin tetap kecewa, tetapi ia belajar bahwa aturan itu konsisten dan adil.
Di sinilah letak perbedaan besar antara disiplin anak tanpa kekerasan dan disiplin berbasis ketakutan.
Cara Bersikap Tegas Tanpa Menjadi Keras
Menjadi tegas memang butuh latihan dan kesadaran diri. Orang tua perlu belajar mengelola emosi sebelum mengoreksi anak. Mengambil jeda sejenak saat marah bukan tanda kelemahan, melainkan kedewasaan.
Gunakan bahasa yang fokus pada perilaku, bukan pada label anak. Alih-alih mengatakan “Kamu nakal,” lebih baik mengatakan “Perilaku ini tidak boleh dilakukan.” Dengan begitu, anak tidak merasa dirinya buruk, tetapi memahami bahwa tindakannya perlu diperbaiki.
Konsistensi juga kunci utama. Ketegasan tanpa konsistensi justru membingungkan anak dan mendorong mereka menguji batas terus-menerus.
Tegas Itu Mendidik, Keras Itu Melukai
Banyak orang tua takut jika terlalu lembut, anak akan tumbuh manja. Padahal, tegas dan lembut bukan dua hal yang saling bertentangan. Orang tua bisa bersikap hangat sekaligus memiliki batasan yang jelas.
Mendidik anak sejatinya adalah proses jangka panjang. Hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Namun ketika orang tua mampu membedakan antara tegas dan keras dalam mendidik anak, mereka sedang menanam pondasi karakter yang kuat, bukan sekadar kepatuhan sesaat.
Menjadi orang tua bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang kesadaran untuk terus belajar. Wajar jika sesekali emosi mengambil alih, tetapi penting untuk refleksi dan memperbaiki cara mendidik.
Dengan memilih ketegasan yang penuh empati dibandingkan kekerasan yang penuh amarah, orang tua tidak hanya mendidik anak menjadi disiplin, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berempati, dan sehat secara emosional.
Karena pada akhirnya, anak tidak hanya mengingat apa yang kita ajarkan, tetapi juga bagaimana perasaan mereka saat diajarkan.
Referensi:
- American Academy of Pediatrics. (2018). Effective Discipline to Raise Healthy Children.
- UNICEF. (2021). Positive Parenting and Child Discipline.
- Hurlock, E. B. (2011). Child Development. McGraw-Hill Education.
- Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. (2022). Pengasuhan Positif untuk Anak Indonesia.
Hilman/Freepik

