JEJAKFORENSIK.COM – Mungkin kita sering mendengar berita tentang anak muda yang terlibat tawuran, pencurian, atau kasus narkoba. Pertanyaannya, kenapa sih remaja yang sebenarnya masih dalam masa pencarian jati diri bisa sampai terjebak dalam perilaku kriminal? Topik ini penting banget untuk dibahas, apalagi kalau kita melihat fenomena meningkatnya kenakalan remaja di berbagai daerah.
Dalam kriminologi, ada banyak faktor yang bisa menjelaskan kenapa anak muda rentan masuk ke dunia kriminal. Yuk, kita kupas lebih dalam dengan bahasa yang ringan biar gampang dipahami.
Apa Itu Kriminologi Remaja?
Kriminologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kejahatan, penyebabnya, dampaknya, dan bagaimana masyarakat meresponsnya. Kalau kita bicara kriminologi remaja, fokusnya ada pada tindak kejahatan yang dilakukan anak muda, biasanya di rentang usia 12–18 tahun.
Kenapa remaja? Karena fase ini adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, penuh dengan perubahan emosi, fisik, dan sosial. Remaja cenderung lebih impulsif, mencari pengakuan dari teman sebaya, dan masih belum sepenuhnya mampu mengontrol diri. Kondisi inilah yang bikin mereka lebih rawan melakukan hal-hal berisiko, termasuk tindakan kriminal.
Faktor-Faktor Penyebab Remaja Terlibat Kriminalitas
Ada banyak penyebab kenapa anak muda bisa masuk ke dunia kriminal. Secara umum, faktor-faktor ini bisa dikelompokkan menjadi internal (dari dalam diri) dan eksternal (dari lingkungan).
1. Faktor Keluarga
- Kurangnya perhatian orangtua → Anak merasa tidak diperhatikan sehingga mencari pelarian di luar rumah.
- Pola asuh keras atau permisif berlebihan → Dua-duanya bisa menimbulkan masalah. Terlalu keras bikin anak memberontak, terlalu longgar bikin anak kebablasan.
- Kekerasan dalam rumah tangga → Remaja bisa meniru perilaku agresif yang dilihat di rumah.
2. Faktor Teman Sebaya
Remaja cenderung lebih mendengarkan teman daripada orangtua. Kalau lingkungannya sehat, mereka bisa berkembang positif. Tapi kalau lingkungannya buruk, misalnya teman-teman suka tawuran, bolos, atau narkoba, besar kemungkinan remaja ikut-ikutan.
3. Faktor Lingkungan Sosial
Hidup di lingkungan yang penuh tekanan—misalnya kemiskinan, kriminalitas tinggi, atau kurangnya fasilitas pendidikan—juga bisa mendorong anak muda untuk mencari jalan pintas, termasuk melakukan kejahatan.
4. Faktor Psikologis
Beberapa remaja punya masalah psikologis seperti depresi, gangguan emosi, atau kesulitan mengendalikan diri. Kondisi ini bisa bikin mereka lebih mudah terlibat dalam perilaku kriminal.
5. Faktor Media dan Teknologi
Akses internet yang begitu luas bisa membawa dua sisi. Di satu sisi, membuka wawasan. Tapi di sisi lain, bisa membuat anak terpapar konten kekerasan, pornografi, atau budaya instan yang mendorong mereka melakukan hal-hal berisiko.
Jenis Kriminalitas yang Sering Dilakukan Remaja
Kalau kita lihat di berita atau data kepolisian, ada beberapa bentuk kriminalitas yang cukup sering melibatkan anak muda:
- Tawuran antar pelajar – biasanya dipicu masalah sepele, tapi bisa berakhir fatal.
- Pencurian ringan – seperti mencuri di toko atau mengambil barang milik teman.
- Penyalahgunaan narkoba – banyak yang berawal dari coba-coba karena diajak teman.
- Balapan liar – selain membahayakan diri sendiri, juga meresahkan masyarakat.
- Kejahatan dunia maya (cyber crime) – misalnya perundungan online (cyberbullying) atau penipuan digital.
Perspektif Teori Kriminologi dalam Memahami Remaja
Para ahli kriminologi mencoba menjelaskan fenomena ini dengan beberapa teori, misalnya:
- Teori Asosiasi Diferensial (Edwin Sutherland)
→ Remaja belajar perilaku kriminal dari interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. - Teori Kontrol Sosial (Travis Hirschi)
→ Semakin lemah ikatan remaja dengan keluarga, sekolah, dan masyarakat, semakin besar peluang mereka terlibat kriminal. - Teori Labeling
→ Ketika remaja dicap sebagai “nakal” atau “kriminal”, label itu justru bisa mendorong mereka mengulanginya karena merasa identitasnya sudah ditentukan. - Teori Strain (Robert Merton)
→ Remaja bisa melakukan kejahatan karena merasa tidak punya akses ke cara-cara legal untuk mencapai kesuksesan.
Dampak Kriminalitas Remaja
Keterlibatan remaja dalam tindak kriminal tidak hanya merugikan korban, tapi juga punya dampak besar terhadap masa depan mereka sendiri. Beberapa dampak yang sering muncul antara lain:
- Putus sekolah karena kasus hukum.
- Masa depan terhambat (sulit mendapatkan pekerjaan).
- Kesehatan mental terganggu (stres, depresi, trauma).
- Hubungan sosial rusak (dikucilkan masyarakat atau keluarga).
Cara Mencegah Remaja Terjebak Kriminalitas
Pencegahan jauh lebih baik daripada penanganan. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Peran Keluarga
- Bangun komunikasi terbuka dengan anak.
- Terapkan disiplin dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan.
- Luangkan waktu berkualitas bersama.
- Peran Sekolah
- Bukan hanya fokus akademik, tapi juga pendidikan karakter.
- Sediakan kegiatan positif seperti olahraga, seni, dan organisasi siswa.
- Peran Lingkungan dan Masyarakat
- Adakan kegiatan komunitas untuk remaja.
- Ciptakan lingkungan yang aman dan suportif.
- Peran Media dan Teknologi
- Orangtua perlu mengawasi penggunaan gadget.
- Edukasi anak tentang literasi digital dan bahaya konten negatif.
Kriminalitas remaja bukan sekadar masalah nakal atau bandel. Ia adalah fenomena kompleks yang dipengaruhi banyak faktor—keluarga, teman, lingkungan, hingga media. Penting bagi orangtua, guru, dan masyarakat untuk memahami akar masalah ini supaya bisa membantu anak muda tumbuh di jalur yang benar.
Remaja butuh ruang untuk didengar, dipahami, dan diarahkan. Dengan perhatian dan bimbingan yang tepat, mereka bisa menghindari jebakan kriminalitas dan berkembang menjadi generasi yang lebih baik.
Hilman/Freepik.com
Referensi
- Agnew, R. (2006). Pressured into Crime: An Overview of General Strain Theory. Oxford University Press.
- Hirschi, T. (1969). Causes of Delinquency. University of California Press.
- Merton, R. K. (1938). “Social Structure and Anomie”. American Sociological Review.
- Sutherland, E. H., & Cressey, D. R. (1978). Criminology. J.B. Lippincott.
- UNICEF Indonesia (2021). Laporan Situasi Anak dan Remaja di Indonesia

