JEJAKFORENSIK.COM – Film kartun selama ini identik dengan dunia anak-anak. Warna cerah, tokoh lucu, alur cerita ringan, dan humor yang mengundang tawa membuat kartun kerap dianggap aman, bahkan sering dijadikan “penjaga” anak ketika orangtua sibuk.
Namun di balik kesan polos tersebut, semakin banyak penelitian dan kasus nyata yang menunjukkan bahwa dampak film kartun terhadap anak tidak selalu positif. Tanpa disadari, beberapa tayangan animasi justru dapat memengaruhi perilaku negatif hingga menormalisasi kekerasan dan tindakan kriminal pada anak.
Di era digital seperti sekarang, anak-anak tidak lagi menonton kartun hanya di televisi pada jam tertentu. Akses YouTube, platform streaming, hingga media sosial membuat anak bisa terpapar tayangan animasi kapan saja dan di mana saja. Tanpa pendampingan dan penyaringan yang tepat, isi kartun yang tampak “hanya hiburan” dapat tertanam kuat dalam pola pikir dan perilaku anak.
Anak usia dini berada pada fase meniru. Mereka belajar melalui observasi, bukan sekadar nasihat. Apa yang sering dilihat akan dianggap sebagai hal yang wajar, bahkan benar. Ketika tokoh kartun menyelesaikan masalah dengan kekerasan, ejekan, kebohongan, atau balas dendam, anak bisa menyerap pesan tersebut tanpa mampu membedakan mana yang fiksi dan mana yang tidak pantas diterapkan dalam kehidupan nyata. Inilah titik awal munculnya pengaruh kartun pada perilaku anak yang sering diremehkan.
Banyak film kartun modern menyelipkan adegan memukul, menendang, meledakkan, atau menghancurkan sesuatu dengan balutan humor. Kekerasan dikemas ringan dan lucu, seolah tidak memiliki konsekuensi. Tokoh utama tetap menang, tetap disukai, bahkan dipuja meski melakukan tindakan agresif. Bagi anak, pesan yang tertangkap sederhana: kekerasan itu boleh, selama tujuannya menang atau dianggap lucu. Dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan toleransi anak terhadap perilaku agresif.
Berbagai studi psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak yang sering terpapar tayangan animasi dengan unsur kekerasan cenderung lebih mudah marah, impulsif, dan kurang empati. Mereka lebih sering meniru adegan yang ditonton dalam bentuk permainan kasar, perundungan verbal, hingga tindakan fisik terhadap teman sebaya. Inilah salah satu dampak tayangan animasi pada anak yang sering muncul di lingkungan sekolah dan rumah.
Yang lebih mengkhawatirkan, beberapa kartun tidak hanya menampilkan kekerasan fisik, tetapi juga perilaku kriminal secara terselubung. Adegan mencuri, menipu, merusak properti, atau melanggar aturan sering digambarkan sebagai bagian dari petualangan seru. Tokoh pelaku jarang mendapatkan konsekuensi serius. Anak yang belum matang secara moral bisa menangkap pesan keliru bahwa tindakan tersebut tidak berbahaya atau bahkan patut ditiru.
Dalam beberapa kasus yang dilaporkan media, anak melakukan tindakan berbahaya setelah meniru adegan dari film kartun atau animasi favoritnya. Mulai dari melompat dari ketinggian, menggunakan benda tajam, hingga melakukan kekerasan terhadap hewan dan teman. Meskipun tidak semua kasus berujung kriminal serius, pola ini menunjukkan bahwa kartun kekerasan dan kriminalitas anak bukanlah isu yang bisa diabaikan.
Perlu dipahami bahwa otak anak belum mampu memproses sebab-akibat secara utuh. Mereka fokus pada aksi, bukan konsekuensi. Ketika kartun menampilkan tokoh yang tetap baik-baik saja setelah melakukan tindakan ekstrem, anak akan menganggap hal tersebut aman dilakukan. Inilah alasan mengapa paparan berulang dapat membentuk skema berpikir yang berbahaya jika tidak diimbangi dengan bimbingan orang dewasa.
Selain kekerasan, film kartun juga dapat memengaruhi nilai moral anak. Beberapa tayangan menormalisasi kebohongan, manipulasi, sikap meremehkan orang lain, hingga perilaku tidak hormat pada figur otoritas seperti orangtua dan guru. Jika hal ini terus dikonsumsi tanpa dialog dan penjelasan, anak bisa tumbuh dengan pemahaman moral yang kabur.
Namun penting untuk digarisbawahi bahwa tidak semua kartun berdampak buruk. Masalah utamanya bukan pada kartun itu sendiri, melainkan pada konten, durasi, dan minimnya pendampingan. Kartun yang mengandung pesan empati, kerja sama, dan penyelesaian konflik secara sehat justru dapat mendukung perkembangan sosial anak. Sayangnya, kartun dengan tempo cepat dan aksi agresif sering kali lebih menarik perhatian anak dibanding tayangan edukatif.
Peran orangtua menjadi kunci dalam meminimalkan dampak film kartun terhadap anak. Pendampingan saat menonton bukan sekadar duduk di sebelah anak, tetapi juga mengajak anak berdialog. Menjelaskan mana perilaku yang boleh ditiru dan mana yang hanya fiksi sangat membantu anak membangun filter moral. Membatasi durasi menonton dan memilih tayangan sesuai usia juga menjadi langkah preventif yang penting.
Di sisi lain, orangtua juga perlu menjadi teladan. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan penuh kekerasan verbal atau emosional akan lebih mudah terpengaruh tayangan negatif. Kartun hanya menjadi pemicu tambahan dari pola perilaku yang sudah terbentuk. Oleh karena itu, pendekatan yang seimbang antara pengawasan media dan pola asuh positif sangat diperlukan.
Kesimpulannya, film kartun bukan sekadar hiburan polos bagi anak. Di dalamnya terdapat pesan, nilai, dan contoh perilaku yang dapat membentuk cara berpikir dan bertindak anak. Tanpa pendampingan yang tepat, pengaruh kartun pada perilaku anak bisa berkembang menjadi perilaku negatif, agresif, hingga menormalisasi tindakan kriminal. Kesadaran orangtua untuk lebih selektif dan terlibat aktif menjadi kunci agar anak tetap mendapatkan manfaat hiburan tanpa kehilangan nilai moral dan empati.
Referensi:
- American Academy of Pediatrics. (2016). Media and Young Minds. Pediatrics Journal.
- UNICEF. (2019). Children, Digital Media and Well-being.
- Huesmann, L. R. (2007). The Impact of Electronic Media Violence. Journal of Adolescent Health.
Hilman/Freepik.com

