JEJAKFORENSIK.COM – Saat anak susah fokus saat belajar, banyak orang tua yang langsung menyalahkan gadget, kurang tidur, atau bahkan mencap anak malas. Padahal, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: kondisi emosional anak. Yup, anak yang mengalami gangguan emosi bisa menunjukkan gejala seperti sulit konsentrasi, mudah terdistraksi, hingga menolak belajar sama sekali.
Lalu, apa saja tanda-tanda kalau anak sulit fokus karena masalah emosional? Dan bagaimana cara orang tua membantu anak melewati fase ini? Yuk, kita kupas tuntas!
Apa Itu Masalah Emosional pada Anak?
Masalah emosional adalah kondisi ketika anak mengalami kesulitan dalam mengelola emosi seperti sedih, marah, takut, cemas, atau kecewa. Anak mungkin belum bisa mengekspresikan perasaan mereka dengan kata-kata, jadi emosinya sering “bocor” dalam bentuk perilaku seperti:
- Menarik diri
- Sering menangis tanpa sebab yang jelas
- Tiba-tiba tantrum
- Menolak aktivitas tertentu
- Tidak mau belajar
Emosi yang tidak tersalurkan dengan baik bisa memengaruhi fungsi otak, khususnya bagian prefrontal cortex yang berperan dalam perhatian, pengambilan keputusan, dan kontrol diri. Jadi, jangan heran kalau anak yang sedang emosional jadi susah fokus belajar.
Tanda-Tanda Anak Sulit Fokus karena Masalah Emosional
Berikut beberapa gejala yang bisa orang tua perhatikan:
- Sering melamun saat belajar
Anak tampak hadir secara fisik, tapi pikirannya entah ke mana. - Mudah teralihkan
Baru sebentar belajar, tiba-tiba sudah ingin main, ngemil, atau melakukan hal lain. - Cepat menyerah
Anak mudah frustrasi ketika menghadapi soal sulit atau tugas yang sedikit rumit. - Perubahan mood ekstrem
Mudah marah, tersinggung, atau menangis hanya karena hal kecil. - Menolak belajar tanpa alasan jelas
Saat ditanya, anak hanya bilang “nggak mau aja” atau “malas”.
Kalau kamu melihat kombinasi gejala-gejala ini, bisa jadi masalahnya bukan pada pelajaran, tapi pada perasaan anak yang sedang tidak baik-baik saja.
Penyebab Emosional yang Memengaruhi Fokus Anak
Ada banyak faktor yang bisa membuat emosi anak terganggu, antara lain:
1. Tekanan Akademik
Tuntutan nilai bagus, PR yang menumpuk, atau ujian bisa membuat anak merasa tertekan. Anak mungkin takut mengecewakan orang tua atau takut gagal.
2. Masalah di Sekolah
Mungkin anak sedang berselisih dengan teman, dibully, atau merasa tidak cocok dengan guru. Hal ini bisa membuat anak merasa cemas setiap kali harus belajar.
3. Ketegangan di Rumah
Pertengkaran antara orang tua, suasana rumah yang tidak nyaman, atau kurangnya perhatian bisa membuat anak merasa tidak aman secara emosional.
4. Kehilangan atau Perubahan Besar
Kematian anggota keluarga, pindah rumah, atau adik baru bisa menjadi tekanan emosional besar bagi anak, terutama jika mereka belum bisa menyesuaikan diri.
5. Kurangnya Koneksi Emosional dengan Orang Tua
Anak yang merasa tidak diperhatikan atau tidak dipahami cenderung menarik diri, dan itu bisa berdampak pada motivasi belajarnya.
Tips Orang Tua Membantu Anak yang Sulit Fokus karena Masalah Emosional
Tenang, bukan berarti anakmu “bermasalah” kalau sulit fokus. Justru ini momen penting untuk kamu hadir dan memahami mereka. Berikut beberapa langkah yang bisa kamu lakukan:
1. Bangun komunikasi terbuka
Ciptakan suasana nyaman agar anak mau bercerita. Hindari menginterogasi atau memaksa. Mulailah dengan kalimat seperti:
“Mama lihat kamu akhir-akhir ini kelihatan nggak semangat belajar. Ada yang bikin kamu sedih atau kesal, nggak?”
2. Validasi perasaan anak
Jangan meremehkan perasaan anak. Kalau anak bilang dia takut ujian atau sedih karena teman, cukup katakan:
“Nggak apa-apa kok merasa takut. Itu wajar. Mama juga kadang merasa begitu.”
Validasi akan membantu anak merasa dimengerti dan diterima.
3. Buat jadwal belajar yang fleksibel
Anak yang sedang tidak stabil secara emosional butuh waktu istirahat yang cukup. Jangan paksakan belajar berjam-jam. Cukup 20–30 menit dengan istirahat pendek.
4. Libatkan anak dalam aktivitas yang menenangkan
Kegiatan seperti menggambar, bermain musik, olahraga ringan, atau sekadar jalan sore bisa jadi terapi alami untuk menyalurkan emosi anak.
5. Tunjukkan kasih sayang secara konsisten
Pelukan, pujian tulus, atau sekadar menemani anak saat belajar bisa sangat berarti. Kasih sayang yang konsisten membuat anak merasa aman dan nyaman.
6. Pertimbangkan bantuan profesional
Jika kondisi emosional anak tidak membaik atau justru makin parah (misalnya menunjukkan gejala depresi atau kecemasan berat), jangan ragu konsultasikan ke psikolog anak.
Kapan Harus Waspada?
Segera cari bantuan profesional jika anak:
- Menarik diri secara ekstrem (misalnya tidak mau keluar kamar atau berbicara)
- Menunjukkan tanda menyakiti diri
- Mengeluhkan sakit fisik terus-menerus tanpa penyebab medis (psikosomatis)
- Mengalami penurunan prestasi belajar secara drastis
- Mengalami perubahan pola tidur atau makan
Lebih cepat ditangani, lebih baik dampaknya bagi tumbuh kembang anak.
Anak Bukan Robot
Anak bukan mesin belajar yang bisa terus dipacu tanpa istirahat. Mereka butuh ruang untuk merasakan, berekspresi, dan dimengerti. Ketika anak sulit fokus belajar, jangan buru-buru menghakimi. Coba selami dulu perasaan mereka.
Tugas orang tua bukan hanya menyediakan buku pelajaran, tapi juga menyediakan ruang aman bagi anak untuk tumbuh dan berkembang secara emosional. Karena ketika emosi anak sehat, kemampuan fokus dan belajarnya pun akan ikut meningkat.
Jika kamu merasa artikel ini bermanfaat, yuk bagikan ke sesama orang tua lainnya. Karena bisa jadi, mereka juga sedang menghadapi hal serupa, tapi belum tahu harus mulai dari mana
Hilman/Freepik
Referensi:
- American Psychological Association. (2023). How emotions affect learning.
- UNICEF Indonesia. (2021). Pentingnya Kesehatan Mental Anak di Masa Perkembangan.
- Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ.
- Psikolog Anak & Remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, M.Psi (2022), Kompas Parenting.

