Pernah dengar istilah psikologi forensik? Buat kamu yang suka film detektif atau drama kriminal, pasti familiar dengan peran seorang psikolog yang duduk di ruang sidang atau bantu polisi menyelidiki kasus. Nah, itulah sebagian gambaran dari dunia psikologi forensik. Tapi, sebenarnya apa sih psikologi forensik itu? Yuk, kita bahas lebih dalam!
Pengertian Psikologi Forensik
Psikologi forensik adalah cabang ilmu psikologi yang berfokus pada penerapan prinsip-prinsip psikologi dalam konteks hukum dan sistem peradilan pidana maupun perdata. Secara sederhana, psikologi forensik menjembatani antara psikologi dan hukum.
Menurut American Psychological Association (APA), psikologi forensik melibatkan “penerapan spesialisasi klinis pada sistem hukum, termasuk menilai individu yang terlibat dalam sistem hukum pidana dan perdata.”
Jadi, seorang psikolog forensik bukan hanya bekerja dengan pelaku kejahatan, tapi juga bisa berinteraksi dengan korban, saksi, bahkan hakim dan pengacara, dalam memberikanpandangan psikologis terhadap suatu kasus.
Apa Saja yang Dikerjakan Psikolog Forensik?
Pekerjaan psikolog forensik sangat beragam, tergantung kebutuhan kasus dan institusi yang bekerja sama, seperti kepolisian, kejaksaan, pengadilan, lembaga pemasyarakatan, atau rumah sakit jiwa forensik.
1. Evaluasi Kejiwaan Pelaku
Psikolog forensik sering diminta untuk menilai apakah seorang terdakwa memiliki gangguan mental yang bisa memengaruhi tanggung jawab pidananya. Ini biasa dikenal dengan pemeriksaan kompetensi mental.
Contoh: Apakah pelaku sadar saat melakukan tindak kriminal? Apakah ia mengidap gangguan jiwa seperti skizofrenia atau gangguan bipolar?
2. Profiling Kriminal
Dalam kasus kejahatan yang belum terungkap pelakunya, psikolog forensik bisa membantu membuat profil psikologis tersangka berdasarkan pola kejahatan, tempat kejadian, dan karakteristik korban.
3. Evaluasi Psikologis Korban
Mereka juga mengevaluasi kondisi mental dan emosional korban, terutama dalam kasus kekerasan seksual, KDRT, atau penganiayaan anak. Tujuannya untuk mengetahui dampak psikologis yang ditimbulkan dan sebagai bahan pertimbangan hukum.
4. Pemberian Keterangan Ahli di Pengadilan
Psikolog forensik sering hadir sebagai saksi ahli untuk memberikan pandangan profesional terkait kondisi psikologis pihak-pihak yang terlibat dalam suatu perkara.
5. Mediasi dan Penilaian Hak Asuh Anak
Dalam kasus perceraian atau perebutan hak asuh, psikolog forensik membantu menentukan kepentingan terbaik untuk anak, menilai hubungan anak dengan orang tua, serta memberikan rekomendasi kepada hakim.
Mengapa Psikologi Forensik Penting?
Peran psikologi forensik dalam sistem hukum sangat krusial, karena banyak keputusan hukum yang memerlukan pertimbangan kondisi psikologis. Misalnya:
- Apakah seseorang layak dihukum mati jika terbukti mengalami gangguan jiwa berat?
- Apakah anak korban kekerasan seksual mengalami trauma jangka panjang yang perlu ditangani?
- Siapa orang tua yang paling layak mendapatkan hak asuh anak pasca perceraian?
Tanpa masukan dari ahli psikologi forensik, keputusan hukum bisa menjadi kurang adil atau tidak menyeluruh karena hanya mempertimbangkan sisi hukum semata.
Perbedaan Psikolog Forensik dengan Psikolog Klinis Biasa
Meskipun keduanya berlandaskan ilmu psikologi, peran dan pendekatannya berbeda.
| Psikolog Klinis | Psikolog Forensik |
| Fokus pada terapi dan pemulihan pasien | Fokus pada penilaian objektif untuk kepentingan hukum |
| Hubungan terapis-pasien bersifat rahasia | Informasi bisa digunakan dalam proses hukum |
| Bekerja di klinik atau rumah sakit umum | Bekerja di pengadilan, rumah sakit forensik, LP, atau lembaga hukum lainnya |
Bagaimana Menjadi Psikolog Forensik?
Untuk menjadi psikolog forensik di Indonesia, kamu perlu melalui beberapa tahapan:
- Lulus S1 Psikologi
- Melanjutkan S2 Profesi Psikologi Klinis atau Psikologi Forensik (jika tersedia)
- Mengambil pelatihan khusus bidang forensik seperti asesmen kejiwaan, penyusunan keterangan ahli, hingga komunikasi di ruang sidang.
- Sertifikasi dan izin praktik sesuai ketentuan HIMPSI dan peraturan hukum Indonesia.
- Bekerja sama dengan institusi penegak hukum atau membuka praktik independen sebagai psikolog forensik.
Contoh Kasus di Indonesia
Beberapa kasus besar yang melibatkan psikologi forensik antara lain:
- Kasus kekerasan seksual pada anak: Psikolog forensik memeriksa kondisi psikis korban untuk keperluan pembuktian hukum.
- Kasus pembunuhan berantai: Melalui teknik criminal profiling, psikolog membantu menggambarkan pola pikir dan kemungkinan pelaku.
- Sengketa hak asuh anak: Digunakan untuk menilai kondisi emosional anak dan hubungan dengan orang tua.
Tantangan di Dunia Psikologi Forensik
Meski penting, ada tantangan yang dihadapi para psikolog forensik, antara lain:
- Tekanan dari pihak hukum, karena hasil pemeriksaan bisa berdampak besar pada nasib seseorang.
- Harus menjaga netralitas dan tidak memihak, meskipun dihadapkan pada kasus yang emosional.
- Risiko keselamatan, terutama saat menangani pelaku kriminal berbahaya atau gangguan jiwa berat.
Psikologi forensik adalah pilar penting dalam sistem peradilan modern. Ia membantu hukum melihat sisi kemanusiaan dalam sebuah perkara. Lewat peran psikolog forensik, keadilan bisa ditegakkan tidak hanya berdasarkan hukum tertulis, tapi juga berdasarkan pemahaman terhadap kondisi mental, trauma, dan motif di balik tindakan manusia.
Dengan perkembangan zaman dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, peran psikologi forensik akan semakin vital, relevan, dan dibutuhkan di masa depan.
Hilman/Freepik.com
Referensi:
- American Psychological Association (APA). Forensic Psychology
- Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP
- HIMPSI – Himpunan Psikologi Indonesia. www.himpsi.or.id
- Setiawan, A. (2021). Psikologi Forensik: Teori dan Praktik. Jakarta: Penerbit Psikointegratif.
