Teori Albert Bandura: Mengapa Kita Bisa Meniru Perilaku Kasar yang Kita Lihat?

JEJAKFORENSIK.COM – Manusia tidak selalu belajar melalui nasihat, instruksi, atau pengalaman langsung. Sering kali, kita justru belajar dengan cara yang jauh lebih sederhana: melihat apa yang dilakukan orang lain, memperhatikan respons yang mereka dapatkan, lalu menyimpan pengalaman tersebut sebagai referensi perilaku.

Gagasan inilah yang menjadi salah satu dasar teori pembelajaran sosial Albert Bandura.

Teori tersebut membantu menjelaskan mengapa seseorang dapat mengembangkan perilaku, sikap, bahkan nilai tertentu tanpa pernah secara langsung diajari untuk melakukannya. Apa yang kita lihat dari orang tua, guru, teman, tokoh publik, maupun figur yang kita kagumi dapat menjadi contoh yang kemudian kita tiru.

Persoalannya menjadi serius ketika perilaku yang diamati bukanlah perilaku positif, melainkan penghinaan, perundungan, agresi, atau kekerasan verbal.

Apa Itu Teori Pembelajaran Sosial Albert Bandura?

Pada 1960-an, psikolog Albert Bandura mengembangkan teori pembelajaran sosial yang menjelaskan bahwa manusia dapat mempelajari perilaku baru melalui pengamatan terhadap orang lain.

Seseorang tidak harus mengalami sendiri suatu tindakan untuk mempelajarinya. Cukup dengan melihat orang lain melakukan sesuatu, mengamati akibatnya, dan menyimpan pengalaman tersebut dalam ingatan, seseorang dapat memperoleh pola perilaku yang nantinya mungkin digunakan.

Karena itu, perilaku orang-orang di sekitar kita memiliki peran penting dalam proses pembelajaran sosial.

Anak-anak, misalnya, dapat belajar bagaimana berbicara kepada orang lain bukan hanya dari aturan yang disampaikan orang tua, tetapi juga dari cara orang dewasa di rumah saling memperlakukan.

Jika seorang anak berulang kali melihat hinaan, bentakan, atau perilaku merendahkan dipakai untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tindakan tersebut dapat dipersepsikan sebagai salah satu cara yang “berhasil” dalam menghadapi orang lain.

Mengapa Perilaku Kasar Bisa Terlihat Normal?

Bayangkan seseorang menyaksikan orang lain melontarkan hinaan kepada seseorang.

Awalnya, tindakan tersebut mungkin dianggap kasar, tidak pantas, atau bahkan mengejutkan. Namun, bagaimana jika orang yang melakukan penghinaan justru mendapatkan tawa, dukungan, tepuk tangan, atau pujian?

Di sinilah konsep vicarious reinforcement atau penguatan melalui pengamatan menjadi relevan dalam teori Bandura.

Seseorang tidak hanya memperhatikan perilaku, tetapi juga memperhatikan konsekuensi sosial yang diterima pelakunya.

Jika perilaku tertentu tampak menghasilkan penghargaan atau penerimaan, perilaku tersebut dapat menjadi lebih mudah ditiru.

Inilah salah satu alasan mengapa lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan perilaku.

Bagaimana Proses Meniru Perilaku Kasar Terjadi?

Normalisasi perilaku kasar tidak selalu terjadi dalam satu peristiwa. Prosesnya dapat berlangsung secara bertahap.

1. Perilaku Menarik Perhatian

Pada awalnya, seseorang mungkin melihat perilaku kasar sebagai sesuatu yang berbeda, mengejutkan, atau tabu. Justru karena tidak lazim, tindakan tersebut menjadi mudah menarik perhatian.

2. Pengalaman Tersimpan dalam Ingatan

Peristiwa yang menarik perhatian dapat meninggalkan kesan yang kuat. Ingatan tersebut kemudian menjadi semacam referensi mengenai bagaimana seseorang dapat bertindak dalam situasi tertentu.

3. Perilaku Mulai Ditiru

Ketika muncul situasi yang dianggap sesuai, seseorang dapat mencoba menggunakan perilaku yang sebelumnya diamati.

Ia kemudian melihat reaksi orang-orang di sekitarnya untuk mengetahui apakah tindakannya mendapatkan respons seperti yang pernah diterima oleh panutannya.

4. Dukungan Memperkuat Perilaku

Jika orang-orang di sekitarnya tertawa, memberikan pujian, atau menunjukkan dukungan, pelaku dapat memperoleh pengalaman bahwa perilaku tersebut diterima.

Penguatan semacam ini dapat meningkatkan kemungkinan perilaku serupa diulangi pada kesempatan berikutnya.

Dengan kata lain, perilaku kasar dapat dipelajari bukan hanya karena seseorang melihatnya, tetapi karena ia melihat perilaku tersebut mendapatkan penghargaan sosial.

Keyakinan Apa yang Dapat Memicu Perilaku Agresif?

Menurut kerangka yang dijelaskan dalam materi sumber, proses pembelajaran perilaku juga berkaitan dengan kondisi mental dan keyakinan seseorang.

Misalnya, seseorang dapat memiliki keyakinan irasional bahwa kemenangan adalah satu-satunya hal yang penting. Dalam pola pikir seperti ini, merendahkan orang lain mungkin dianggap sebagai strategi untuk memperoleh posisi yang lebih tinggi.

Keyakinan lain yang dapat mendorong perilaku agresif adalah anggapan bahwa orang lain selalu berniat menyakiti diri kita sehingga kita harus menyerang terlebih dahulu.

Ketika keyakinan semacam ini bertemu dengan contoh perilaku agresif dari lingkungan, perilaku kasar dapat semakin mudah dibenarkan dan ditiru.

Anak-Anak Belajar dari Apa yang Mereka Saksikan

Salah satu persoalan paling penting dalam pembelajaran sosial adalah bahwa anak-anak tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan orang dewasa.

Mereka juga mengamati apa yang dilakukan orang dewasa.

Jika seorang anak terus-menerus melihat penghinaan, bentakan, perundungan, atau tindakan merendahkan dianggap sebagai sesuatu yang lucu dan dapat diterima, pesan yang diterima bisa berbeda dengan nasihat verbal yang diberikan kepadanya.

Orang tua mungkin mengatakan, “Jangan menyakiti orang lain.”

Namun, jika dalam kehidupan sehari-hari anak melihat orang dewasa menggunakan penghinaan untuk menguasai orang lain, anak mendapatkan dua pesan yang bertentangan.

Karena itu, pendidikan karakter tidak hanya berlangsung melalui kata-kata. Perilaku yang menjadi contoh sehari-hari juga merupakan bentuk pendidikan.

Materi sumber juga menekankan bahwa kekerasan verbal tidak seharusnya dianggap sepele. Berdasarkan pengalaman penulis selama puluhan tahun bekerja dengan pria yang melakukan kekerasan, kekerasan verbal disebut sebagai tahap awal yang dapat mendahului kekerasan fisik.

Poin tersebut merupakan pengamatan dan pandangan yang disampaikan dalam sumber, bukan berarti setiap tindakan kekerasan verbal pasti berkembang menjadi kekerasan fisik.

Apa yang Kita Pilih Setelah Melihat Perilaku Buruk?

Teori pembelajaran sosial tidak berarti manusia secara otomatis menjadi seperti apa pun yang mereka lihat.

Manusia tetap memiliki kemampuan untuk mengamati, mempertimbangkan, dan menentukan responsnya.

Ketika melihat seseorang melakukan perundungan, misalnya, kita dapat memilih untuk menikmati keberhasilan pelaku. Namun, kita juga dapat memilih untuk menunjukkan keberpihakan kepada korban atau menolak perilaku tersebut.

Pilihan tersebut menjadi penting karena respons sosial ikut menentukan perilaku mana yang memperoleh penguatan.

Jika perilaku kasar terus mendapatkan tawa, perhatian, dan dukungan, lingkungan dapat memberikan sinyal bahwa perilaku tersebut diterima.

Sebaliknya, ketika masyarakat menolak penghinaan dan perundungan, norma sosial yang terbentuk dapat bergerak ke arah berbeda.

Membangun Lingkungan yang Tidak Menormalisasi Kekerasan

Pertanyaan yang lebih besar akhirnya bukan sekadar, “Mengapa orang menjadi kasar?”

Pertanyaannya adalah: perilaku seperti apa yang terus-menerus kita beri perhatian dan penghargaan?

Apa yang kita tonton, siapa yang kita jadikan panutan, bagaimana kita bereaksi terhadap perilaku agresif, serta bagaimana kita memperlakukan orang lain ikut membentuk lingkungan sosial.

Bagi orang tua, hal ini menjadi semakin penting karena anak belajar dari contoh yang mereka lihat setiap hari.

Bagi masyarakat secara lebih luas, respons terhadap penghinaan dan perundungan juga memiliki arti. Membiarkan perilaku merendahkan menjadi hiburan dapat ikut memperkuat penerimaannya sebagai sesuatu yang normal.

Karena itu, menciptakan lingkungan yang aman dan saling menghargai bukan hanya tentang mengajarkan larangan. Kita juga perlu menunjukkan melalui tindakan bahwa penghormatan terhadap orang lain adalah perilaku yang layak mendapatkan penguatan.

Teori pembelajaran sosial Albert Bandura menunjukkan bahwa manusia dapat belajar dari perilaku yang diamatinya. Kita tidak hanya memperhatikan tindakan seseorang, tetapi juga melihat bagaimana lingkungan merespons tindakan tersebut.

Konsep vicarious reinforcement membantu menjelaskan mengapa perilaku yang mendapatkan pujian, tawa, atau dukungan dapat lebih mudah ditiru.

Hal ini menjadi penting ketika perilaku yang diamati berupa penghinaan, bullying, atau kekerasan verbal. Jika tindakan tersebut terus mendapatkan respons positif, seseorang dapat belajar bahwa perilaku kasar merupakan cara yang dapat diterima untuk mendapatkan perhatian, kemenangan, atau pengakuan.

Namun, manusia tidak kehilangan kemampuan untuk memilih. Kita tetap dapat menentukan apakah akan meniru perilaku tersebut atau justru menolaknya.

Pada akhirnya, setiap orang ikut berperan dalam menentukan perilaku seperti apa yang ingin dinormalisasi di lingkungannya. Pertanyaannya sederhana: ketika melihat perilaku kasar, apakah kita ikut mengulanginya atau memilih menjadi bagian dari perubahan?

FAQ: Teori Pembelajaran Sosial Albert Bandura

Apa itu teori pembelajaran sosial Albert Bandura?

Teori pembelajaran sosial Albert Bandura menjelaskan bahwa manusia dapat mempelajari perilaku baru dengan mengamati perilaku orang lain dan konsekuensi yang diterima oleh orang tersebut.

Apa yang dimaksud dengan vicarious reinforcement?

Vicarious reinforcement adalah penguatan melalui pengamatan, yaitu ketika seseorang melihat orang lain mendapatkan respons positif setelah melakukan perilaku tertentu sehingga perilaku tersebut lebih mungkin ditiru.

Mengapa anak dapat meniru perilaku kasar?

Anak dapat meniru perilaku kasar karena mereka belajar melalui pengamatan. Jika perilaku seperti penghinaan atau agresi sering dilihat dan mendapatkan tawa, perhatian, atau dukungan, anak dapat menganggapnya sebagai perilaku yang dapat diterima.

Apakah kekerasan verbal dapat dipelajari melalui lingkungan?

Ya. Dalam perspektif pembelajaran sosial, perilaku verbal dapat dipelajari melalui pengamatan terhadap orang lain, terutama ketika perilaku tersebut terlihat mendapatkan penguatan sosial.

Apakah melihat perilaku buruk membuat seseorang pasti menirunya?

Tidak. Pengamatan tidak berarti seseorang pasti meniru perilaku tersebut. Manusia tetap memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan perilaku yang diamati dan menentukan apakah akan mengikutinya atau menolaknya.

Bagaimana cara mencegah normalisasi perilaku kasar?

Salah satu caranya adalah tidak memberikan penguatan sosial terhadap perilaku kasar, menunjukkan contoh komunikasi yang saling menghormati, serta membantu anak memahami bahwa penghinaan dan perundungan bukan cara yang tepat untuk mendapatkan perhatian atau menyelesaikan konflik.

Mengapa contoh perilaku orang dewasa penting bagi anak?

Anak tidak hanya belajar melalui nasihat, tetapi juga melalui apa yang mereka lihat. Karena itu, perilaku orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi model yang diamati dan dipelajari anak.

Referensi:

https://www.psychologytoday.com/us/blog/sexual-futurist/202609/do-you-see-the-abuse-or-simply-repeat-it

Hilman Hilmansyah/Freepik.com

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komunitas Jejak Forensik

Pintu Masuk Dunia Psikologi Forensik Ada di Grup WA Ini. Siap Gabung?
Latest News
Categories

Jangan Diam !

Jika kamu mengalami atau melihat kasus yang berkaitan dengan kekerasan, pelecehan, perundungan, atau masalah psikologis lainnya—jangan simpan sendiri.