JEJAKFORENSIK.COM – Paparan kekerasan tidak hanya meninggalkan luka fisik atau emosional. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mengingat kembali pengalaman kekerasan, bahkan hanya sebagai saksi atau melalui berita, dapat mengurangi kemampuan otak dalam berpikir, mengingat, dan mengambil keputusan.
Selama ini banyak orang mengira dampak kekerasan hanya dirasakan oleh korban secara langsung. Padahal, efeknya dapat bertahan bertahun-tahun dan memengaruhi cara kerja otak dalam kehidupan sehari-hari.
Ingatan tentang Kekerasan Dapat Mengganggu Fungsi Otak
Penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences meneliti warga Kolombia yang pernah mengalami konflik bersenjata dan kekerasan di lingkungan tempat tinggal mereka.
Para peserta diminta mengerjakan berbagai tes untuk mengukur kemampuan berpikir, seperti daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan mengendalikan perhatian. Sebelum tes dimulai, sebagian peserta diminta mengingat pengalaman terkait kekerasan yang pernah mereka alami, sementara kelompok lain diminta mengingat pengalaman yang menyenangkan atau netral.
Hasilnya cukup mengejutkan. Mereka yang mengingat kembali pengalaman kekerasan menunjukkan penurunan kemampuan pada berbagai tes kognitif, terutama dalam memori jangka pendek dan kemampuan berkonsentrasi. Semakin berat pengalaman kekerasan yang pernah dialami, semakin besar pula penurunan performa otaknya.
Sebaliknya, ketika peserta diminta mengingat pengalaman yang menyenangkan, riwayat kekerasan yang pernah dialami tidak lagi memengaruhi kemampuan berpikir mereka.
Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman kekerasan tidak secara permanen menurunkan kecerdasan seseorang. Namun, ketika ingatan traumatis muncul kembali, otak harus mengalokasikan sebagian besar energinya untuk memproses ingatan tersebut sehingga kemampuan berpikir sementara menjadi berkurang.
Kekerasan Menjadi Beban Tambahan bagi Otak
Para peneliti menjelaskan bahwa otak manusia memiliki kapasitas yang terbatas untuk memproses informasi. Ketika pikiran dipenuhi oleh ingatan yang menyakitkan, ruang mental yang seharusnya digunakan untuk berpikir logis justru tersita oleh beban emosional.
Fenomena ini mirip dengan kondisi seseorang yang terus-menerus memikirkan masalah keuangan. Bukan karena kemiskinan membuat seseorang menjadi kurang cerdas, melainkan karena kekhawatiran yang terus muncul menghabiskan sumber daya kognitif sehingga kemampuan mengambil keputusan ikut menurun.
Hal serupa terjadi pada korban kekerasan. Meski peristiwa tersebut telah lama berlalu, ingatan yang muncul secara tiba-tiba dapat mengganggu konsentrasi, daya ingat, hingga kemampuan membuat keputusan yang rasional.
Tidak Harus Menjadi Korban untuk Merasakan Dampaknya
Menariknya, penelitian yang sama juga menemukan bahwa efek ini tidak hanya dialami oleh korban langsung.
Dalam studi lanjutan yang dilakukan di Jerman, para peserta yang tidak pernah mengalami kekerasan secara pribadi diminta mengingat peristiwa kekerasan yang mereka lihat di berita, seperti serangan teroris di Paris tahun 2015. Kelompok lain diminta mengingat pengalaman yang menyenangkan.
Hasilnya, peserta yang baru saja mengingat berita kekerasan menunjukkan penurunan kemampuan dalam tes konsentrasi dibandingkan kelompok yang mengingat pengalaman positif.
Peneliti juga menemukan bahwa efek tersebut berbeda dengan rasa cemas biasa. Mengingat kekerasan memang dapat memicu kecemasan, tetapi yang lebih penting, ingatan itu sendiri menyita kapasitas kerja otak sehingga kemampuan berpikir menjadi tidak optimal.
Artinya, paparan berita kekerasan yang intens atau tayangan penuh kekerasan juga berpotensi memengaruhi performa mental seseorang, meskipun mereka tidak mengalami kejadian tersebut secara langsung.
Mengapa Hal Ini Penting?
Temuan ini memberi pemahaman bahwa otak sangat dipengaruhi oleh kondisi emosional. Saat seseorang sedang dibayangi oleh ingatan yang menegangkan atau berita yang penuh kekerasan, kemampuan berpikir objektif dapat menurun tanpa disadari.
Karena itu, sebaiknya hindari mengambil keputusan penting segera setelah:
- menonton tayangan yang penuh kekerasan,
- membaca berita yang memicu emosi kuat,
- atau mengingat kembali pengalaman traumatis.
Memberi waktu bagi diri sendiri untuk menenangkan pikiran dapat membantu otak kembali bekerja secara optimal sebelum membuat keputusan besar.
Cara Melindungi Kesehatan Otak
Bagi orang yang pernah mengalami kekerasan atau trauma, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental dan fungsi kognitif.
Sementara bagi masyarakat umum, membatasi paparan konten yang terlalu penuh kekerasan, menjaga lingkungan yang tenang, serta memberi jeda sebelum mengambil keputusan penting juga dapat membantu menjaga kejernihan berpikir.
Selain itu, berdiskusi dengan orang yang dipercaya atau berkonsultasi dengan tenaga profesional ketika menghadapi keputusan besar dapat membantu menghasilkan pertimbangan yang lebih objektif.
Kekerasan tidak hanya meninggalkan bekas pada emosi, tetapi juga dapat memengaruhi cara otak bekerja. Bahkan sekadar mengingat pengalaman kekerasan atau menyaksikannya melalui berita dapat mengurangi konsentrasi, memori, dan kemampuan mengambil keputusan.
Karena itu, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Saat pikiran sedang dipenuhi emosi atau ingatan yang berat, berikan waktu bagi diri sendiri untuk menenangkan pikiran sebelum mengambil keputusan penting. Otak bekerja paling baik ketika berada dalam kondisi tenang, aman, dan bebas dari beban emosional yang berlebihan.
Rerefensi:
Hilman Hilmansyah/Freepik.com



