JEJAKFORENSIK.COM – Saya seorang ibu. Dan jujur saja, saya sudah merasa lelah selama bertahun-tahun. Bukan cuma karena capek fisik mengurus anak—walaupun itu nyata—tapi lebih ke tekanan yang rasanya nggak pernah berhenti. Ada beban untuk selalu mikirin emosi anak, masa depan mereka, dan perasaan kalau semua itu nggak boleh salah. Jadi orang tua hari ini rasanya menuntut segalanya: waktu, perhatian penuh, cinta tanpa jeda, dan tentu saja, uang yang nggak sedikit.
Hidup jadi berputar di sekitar jadwal anak. Dari satu aktivitas ke aktivitas lain—sepak bola, les musik, kegiatan tambahan—bahkan makan malam pun sering di mobil. Akhir pekan yang harusnya jadi waktu istirahat malah penuh dengan pertandingan, acara sekolah, ulang tahun teman, dan berbagai agenda lain yang nggak ada habisnya.
Di saat yang sama, biaya hidup makin berat. Biaya penitipan anak mahal, banyak orang tua harus ambil cicilan rumah demi tinggal di lingkungan dengan sekolah bagus, dan biaya kuliah nanti terasa seperti bayangan panjang yang menakutkan. Yang bikin makin melelahkan, di tengah semua itu masih ada perasaan: “apa aku masih kurang?” Bahkan menuliskan ini saja sudah terasa menguras energi.
Nina Bandelj, Ph.D., Profesor Sosiologi di Universitas California, Irvine mengatakan, memang, jadi orang tua dari dulu juga melelahkan. Tapi sekarang rasanya beda. Kita sudah sampai di titik yang banyak orang sebut sebagai parental burnout, kelelahan orang tua yang levelnya jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Tahun 2024, Vivek Murthy bahkan menyebut stres dan kelelahan orang tua sebagai krisis kesehatan masyarakat. Data menunjukkan lebih dari 40 persen orang tua merasa sangat lelah hampir setiap hari sampai sulit berfungsi, dan hampir setengahnya merasa kewalahan terus-menerus.
Menariknya, istilah burnout dulu dipakai untuk dunia kerja. Tapi sekarang, kondisi itu terasa nyata di dalam rumah.
Selama sekitar seratus tahun terakhir, cara kita melihat anak juga berubah. Dulu anak dianggap “membantu secara ekonomi”, sekarang anak jadi “tak ternilai secara emosional”. Kedengarannya indah, tapi konsekuensinya besar. Tugas membesarkan anak yang dulu bisa dibagi ke keluarga besar atau komunitas, sekarang jadi beban penuh di pundak orang tua.
Di balik perubahan ini, ada cara pandang baru yang pelan-pelan masuk ke kehidupan keluarga. Anak dilihat sebagai sesuatu yang harus “dikembangkan”, “dioptimalkan”, dan “dipersiapkan” sebaik mungkin. Ide ini banyak dipopulerkan oleh ekonom seperti Gary Becker lewat konsep “modal manusia”. Intinya, anak dianggap sebagai investasi masa depan.
Akhirnya, pengasuhan berubah jadi semacam proyek besar. Dari sejak dalam kandungan sudah ada tekanan untuk “memulai lebih awal”, lalu masuk ke fase bayi, balita, sekolah, semuanya harus bermakna. Main pun dianggap harus punya nilai tambah. Pendidikan juga makin diukur dengan angka, bahkan ada perhitungan “return” dari investasi anak sejak usia dini. Rasanya seperti setiap keputusan punya risiko, seperti main saham.
Tapi bukan cuma soal ekonomi. Ini juga soal emosi.
Kita hidup di era di mana perasaan jadi pusat perhatian. Di satu sisi ini bagus, tapi di sisi lain membuat pengasuhan jadi jauh lebih berat. Orang tua diharapkan selalu peka—ke emosi anak, emosi diri sendiri, bahkan emosi tentang emosi itu sendiri. Nggak heran muncul berbagai label gaya parenting, dari yang super protektif sampai yang super santai. Semua datang dengan standar masing-masing, dan sering kali bikin bingung.
Ditambah lagi, nasihat soal parenting sekarang datang dari mana-mana. Dulu mungkin cukup satu buku, sekarang ada podcast, influencer, grup chat, sampai video pendek yang terus muncul. Pesannya sering kontradiktif. Di satu sisi disuruh percaya insting, di sisi lain disuruh ikut panduan detail yang panjang. Ujungnya malah bikin tambah ragu.
Tekanan sosial juga terasa nyata. Banyak orang tua diam-diam mencari waktu sendiri, bahkan cuma beberapa detik di kamar mandi, sekadar untuk bernapas. Atau merasa tertekan dengan notifikasi grup orang tua yang nggak berhenti. Setiap respon kecil di sana seperti jadi ajang pembuktian: “aku juga orang tua yang baik.”
Ironisnya, bahkan saran untuk “lebih santai” kadang terasa seperti tugas tambahan. Kalau nggak bisa melakukannya, malah muncul rasa gagal. Jadi wajar kalau burnout terjadi.
Yang sering disalahpahami, kelelahan ini dianggap tanda bahwa orang tua terlalu peduli. Seolah-olah kalau nggak capek, berarti kurang berusaha. Padahal faktanya, pengasuhan yang terlalu intens justru nggak selalu menghasilkan anak yang lebih baik. Menurut Jonathan Haidt, kita justru sedang membesarkan generasi yang lebih cemas. Bukan cuma karena media sosial, tapi juga karena anak-anak kehilangan ruang untuk mandiri, bermain bebas, bahkan sekadar merasa bosan. Padahal hal-hal itu penting untuk membangun ketahanan mental.
Selain itu, beban pengasuhan yang makin berat juga memperlebar kesenjangan sosial. Keluarga dengan uang lebih bisa memberikan banyak fasilitas untuk anak, sementara keluarga lain harus berjuang lebih keras, bahkan sampai berutang. Ketimpangan ini bukan hal baru, tapi sekarang semakin terasa.
Sosiolog seperti Annette Lareau sudah lama menunjukkan bahwa pola pengasuhan bisa mewariskan keuntungan sosial. Dan sekarang, standar pengasuhan yang makin tinggi justru memperdalam jurang itu.
Pada akhirnya, kelelahan orang tua bukan masalah pribadi. Ini masalah sosial. Kita hidup dalam sistem yang membuat orang tua merasa harus melakukan segalanya, dengan tekanan dari rasa takut dan penilaian orang lain.
Industri besar juga ikut tumbuh dari kecemasan ini. Berbagai produk, aplikasi, kegiatan, semuanya menawarkan solusi. Tapi sering kali hanya menambal permukaan, tanpa menyentuh akar masalahnya.
Kalau dilihat lebih jujur, kelelahan ini bukan tanda bahwa orang tua gagal. Justru sebaliknya, ini tanda bahwa standar yang kita anggap normal sebenarnya sudah terlalu tinggi dan nggak realistis.
Membesarkan anak seharusnya bukan perjuangan yang menguras habis tenaga. Anak juga bukan proyek yang harus dioptimalkan tanpa henti.
Ada pepatah lama yang bilang, “butuh satu desa untuk membesarkan anak.” Dan rasanya itu masih sangat relevan. Orang tua butuh dukungan, bukan hanya dari keluarga dekat, tapi juga dari lingkungan dan sistem yang lebih luas. Kita butuh komunitas yang saling bantu, dan kebijakan yang benar-benar memudahkan, bukan menambah beban.
Kalau kita benar-benar ingin masa depan anak-anak yang lebih baik, mungkin yang perlu diubah bukan usaha orang tuanya, tapi cara kita sebagai masyarakat melihat dan mendukung pengasuhan itu sendiri.***
Referensi:
Hilman Hilmansyah/freepik.com



