Stres, Tekanan Sosial, dan Perilaku Kriminal: Hubungan yang Sering Diabaikan namun Nyata di Sekitar Kita

JEJAKFORENSIK.COM – Di balik berita kriminal yang hampir setiap hari muncul di layar televisi atau linimasa media sosial, sering kali kita hanya fokus pada peristiwa dan pelakunya. Pencurian, perampokan, kekerasan, hingga kejahatan berat lainnya kerap dinilai sebagai akibat dari moral yang buruk atau niat jahat semata.

Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, ada benang merah yang sering luput dari perhatian, yaitu hubungan antara stres, tekanan sosial, dan perilaku kriminal. Hubungan ini tidak selalu sederhana, tetapi nyata dan relevan dengan kehidupan masyarakat modern yang penuh tuntutan.

Stres adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, konflik keluarga, hingga ekspektasi sosial yang tinggi dapat menumpuk dan membebani kondisi mental seseorang. Dalam kadar tertentu, stres dapat memacu motivasi.

Namun, ketika stres menjadi kronis dan tidak dikelola dengan baik, dampaknya bisa merembet ke berbagai aspek kehidupan, termasuk cara seseorang mengambil keputusan dan mengontrol perilaku. Di sinilah risiko perilaku menyimpang, termasuk tindakan kriminal, mulai meningkat.

Tekanan sosial memainkan peran yang tidak kalah besar. Masyarakat memiliki standar tertentu tentang kesuksesan, status ekonomi, dan gaya hidup. Ketika seseorang merasa tertinggal atau gagal memenuhi standar tersebut, rasa frustrasi dan ketidakberdayaan dapat muncul. Kondisi ini sering diperparah oleh ketimpangan sosial dan ekonomi yang nyata di sekitar kita.

Melihat orang lain hidup berkecukupan sementara diri sendiri berjuang memenuhi kebutuhan dasar dapat memicu stres sosial yang mendalam. Dalam situasi seperti ini, sebagian individu mungkin mulai memandang perilaku kriminal sebagai jalan pintas untuk keluar dari tekanan hidup.

Hubungan antara stres dan perilaku kriminal juga dapat dijelaskan dari sisi psikologis. Stres berkepanjangan terbukti memengaruhi fungsi otak, terutama bagian yang mengatur emosi dan pengendalian diri.

Ketika seseorang berada dalam kondisi tertekan, kemampuan untuk berpikir rasional dan mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang bisa menurun. Akibatnya, keputusan impulsif lebih mudah terjadi. Tindakan kriminal yang dilakukan secara spontan, seperti kekerasan saat emosi memuncak, sering kali berakar dari kondisi stres yang tidak tersalurkan dengan sehat.

Selain itu, tekanan sosial juga dapat membentuk lingkungan yang mendukung terjadinya kejahatan. Lingkungan dengan tingkat pengangguran tinggi, akses pendidikan terbatas, dan minimnya dukungan sosial cenderung memiliki tingkat kriminalitas yang lebih tinggi.

Bukan semata-mata karena masyarakatnya “lebih jahat”, melainkan karena akumulasi stres sosial yang dialami secara kolektif. Ketika banyak individu merasakan ketidakadilan dan keputusasaan, norma sosial dapat melemah dan perilaku kriminal menjadi lebih mudah diterima atau dimaklumi.

Fenomena ini juga terlihat pada remaja dan kelompok usia produktif. Tekanan untuk diakui, diterima, dan dianggap berhasil sering kali sangat besar. Di era media sosial, tekanan tersebut bahkan semakin intens. Perbandingan sosial terjadi setiap saat, memicu perasaan rendah diri dan stres emosional.

Dalam kondisi tertentu, tekanan ini dapat mendorong remaja atau dewasa muda terlibat dalam perilaku kriminal, baik sebagai bentuk pelampiasan emosi maupun upaya mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitarnya.

Penting untuk dipahami bahwa tidak semua orang yang mengalami stres atau tekanan sosial akan melakukan kejahatan. Faktor pelindung seperti dukungan keluarga, lingkungan yang sehat, pendidikan, serta keterampilan mengelola emosi sangat berperan dalam mencegah stres berkembang menjadi perilaku kriminal. Namun, mengabaikan peran stres dan tekanan sosial dalam kriminalitas sama saja dengan menutup mata terhadap akar masalah yang lebih dalam.

Pendekatan penanganan kriminalitas yang hanya berfokus pada hukuman sering kali tidak cukup efektif. Tanpa upaya mengurangi sumber stres sosial dan meningkatkan kesejahteraan psikologis masyarakat, siklus kejahatan berpotensi terus berulang.

Program pencegahan yang menyentuh aspek kesehatan mental, penguatan komunitas, serta pengurangan kesenjangan sosial terbukti lebih berkelanjutan dalam jangka panjang. Ketika individu merasa didukung dan memiliki harapan, dorongan untuk melakukan tindakan kriminal cenderung menurun.

Peran negara, masyarakat, dan keluarga menjadi sangat krusial dalam konteks ini. Kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan sosial, akses layanan kesehatan mental yang terjangkau, serta lingkungan yang inklusif dapat membantu menekan tingkat stres masyarakat.

Di sisi lain, kesadaran individu untuk mengenali dan mengelola stres juga tidak kalah penting. Membicarakan kesehatan mental secara terbuka, tanpa stigma, adalah langkah awal untuk memutus hubungan negatif antara stres, tekanan sosial, dan perilaku kriminal.

Pada akhirnya, memahami hubungan stres dan perilaku kriminal bukan berarti membenarkan kejahatan, melainkan membuka ruang untuk solusi yang lebih manusiawi dan efektif. Kejahatan tidak lahir dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari akumulasi tekanan, ketidakadilan, dan kegagalan sistem sosial dalam melindungi warganya.

Dengan melihat kriminalitas dari perspektif yang lebih luas, kita tidak hanya berfokus pada siapa yang salah, tetapi juga pada apa yang perlu diperbaiki agar masyarakat menjadi lebih aman dan sehat secara mental.

Kesadaran ini penting, terutama di tengah tantangan sosial dan ekonomi yang semakin kompleks. Jika stres dan tekanan sosial terus diabaikan, potensi meningkatnya perilaku kriminal akan selalu menghantui. Sebaliknya, ketika kesejahteraan mental dan sosial menjadi prioritas bersama, peluang untuk membangun masyarakat yang lebih aman, adil, dan berempati akan semakin besar.

Referensi:

World Health Organization. (2022). Mental health, stress, and social determinants.

Agnew, R. (1992). Foundation for a General Strain Theory of Crime and Delinquency. Criminology Journal.
American Psychological Association. (2023). Stress effects on the body and behavior.

Hilman/Freepik.com

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Komunitas Jejak Forensik

Pintu Masuk Dunia Psikologi Forensik Ada di Grup WA Ini. Siap Gabung?
Latest News
Categories

Jangan Diam !

Jika kamu mengalami atau melihat kasus yang berkaitan dengan kekerasan, pelecehan, perundungan, atau masalah psikologis lainnya—jangan simpan sendiri.