JEJAKFORENSIK.COM– Menjadi orangtua memang bukan pekerjaan yang mudah. Banyak peran yang harus dijalani, mulai dari pendidik pertama, teladan, hingga sahabat. Salah satu peran yang sering kali terlupakan tetapi sangat penting adalah menjadi support system utama bagi anak.
Istilah ini sering kita dengar, tapi sebenarnya apa sih artinya? Dan bagaimana orangtua bisa benar-benar hadir sebagai penopang utama dalam tumbuh kembang anak?
Apa Itu Support System bagi Anak?
Support system bisa diartikan sebagai sistem dukungan yang memberikan rasa aman, nyaman, dan percaya diri pada anak. Bagi seorang anak, support system pertama dan terdekat tentu saja adalah orangtuanya. Kehadiran orangtua bukan hanya sekadar fisik, tetapi juga emosional, sosial, dan bahkan spiritual. Anak yang merasa didukung cenderung lebih percaya diri, tidak mudah stres, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik.
Menurut American Psychological Association (APA), anak yang memiliki dukungan emosional dari orangtua akan lebih resilient, yaitu memiliki daya lenting yang kuat untuk bangkit dari kegagalan atau tekanan hidup (APA, 2020).
Mengapa Orangtua Harus Jadi Support System Utama?
- Anak Butuh Rasa Aman
Dunia anak penuh dengan hal-hal baru yang belum mereka pahami. Orangtua adalah tempat pertama anak mencari perlindungan. Dengan menjadi support system, orangtua bisa membantu anak merasa aman dan tidak takut mencoba. - Membentuk Karakter dan Kepribadian
Dukungan orangtua membuat anak berani mengekspresikan diri. Ini sangat berpengaruh pada perkembangan karakter mereka di masa depan. Anak yang didukung biasanya tumbuh dengan rasa empati, percaya diri, dan kemampuan sosial yang baik. - Mengurangi Risiko Masalah Mental
Anak yang merasa didengar dan dihargai oleh orangtua lebih kecil kemungkinannya mengalami gangguan kecemasan atau depresi di kemudian hari (Harvard Health Publishing, 2021).
Cara Orangtua Menjadi Support System Anak
Lalu, bagaimana cara orangtua bisa benar-benar hadir sebagai support system? Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan.
1. Hadir Secara Fisik dan Emosional
Banyak orangtua yang secara fisik ada di rumah, tetapi secara emosional tidak hadir karena sibuk dengan pekerjaan atau gawai. Anak membutuhkan kehadiran penuh orangtuanya. Misalnya, saat anak bercerita tentang sekolah, sisihkan waktu untuk mendengar dengan fokus tanpa terganggu notifikasi ponsel.
2. Dengarkan dengan Empati
Anak, sekecil apa pun mereka, ingin suaranya didengar. Saat anak menceritakan masalahnya, jangan buru-buru menghakimi atau memberi solusi. Cukup dengarkan dengan penuh perhatian, lalu validasi perasaannya, misalnya dengan berkata, “Ibu mengerti kalau kamu merasa sedih.”
3. Dukung Bakat dan Minat Anak
Setiap anak punya keunikan sendiri. Ada yang suka menggambar, olahraga, musik, atau sains. Tugas orangtua adalah mendukung dan memfasilitasi minat tersebut, bukan memaksakan kehendak. Dukungan ini akan menumbuhkan motivasi intrinsik anak dan membuat mereka lebih bahagia.
4. Bangun Komunikasi yang Hangat
Komunikasi dua arah adalah kunci. Ajak anak berdiskusi, bukan hanya memberi perintah. Anak yang merasa pendapatnya dihargai akan lebih terbuka kepada orangtua.
5. Ajarkan Manajemen Emosi
Anak belajar mengatur emosinya dari orangtua. Jika orangtua mampu menghadapi masalah dengan tenang, anak pun akan meniru hal itu. Misalnya, ketika menghadapi kegagalan, tunjukkan sikap sabar dan ajarkan bahwa gagal itu bagian dari proses belajar.
6. Berikan Apresiasi
Jangan hanya fokus pada nilai atau prestasi besar. Apresiasi hal-hal kecil, seperti usaha belajar lebih giat, keberanian tampil di depan kelas, atau membantu pekerjaan rumah. Kata sederhana seperti “Ayah bangga sama kamu” bisa berdampak besar pada rasa percaya diri anak.
7. Jadi Role Model yang Baik
Anak mencontoh lebih banyak daripada mendengar. Jika ingin anak disiplin, orangtua pun harus menunjukkan kedisiplinan. Jika ingin anak jujur, orangtua harus mencontohkan kejujuran. Dukungan tidak selalu berupa kata-kata, tapi juga melalui teladan nyata.
8. Libatkan Anak dalam Pengambilan Keputusan
Terkadang, anak merasa tidak dianggap penting dalam keluarga. Dengan melibatkan mereka dalam keputusan kecil, misalnya memilih menu makan malam atau tujuan liburan, anak akan merasa dihargai dan menjadi bagian penting dari keluarga.
Tantangan Menjadi Support System
Tentu saja, menjadi support system bukan tanpa tantangan. Beberapa orangtua mungkin kesulitan karena:
- Tuntutan pekerjaan yang menyita waktu dan energi.
- Kurangnya pengetahuan tentang perkembangan anak.
- Faktor emosi pribadi, seperti stres atau masalah rumah tangga.
Namun, penting diingat bahwa support system bukan berarti harus sempurna. Yang dibutuhkan anak adalah orangtua yang berusaha hadir, mendukung, dan mencintai mereka dengan tulus.
Manfaat Anak yang Memiliki Support System Kuat
Jika orangtua konsisten menjadi support system, ada banyak manfaat yang akan dirasakan anak, antara lain:
- Lebih percaya diri menghadapi tantangan.
- Memiliki keterampilan sosial yang lebih baik.
- Lebih stabil secara emosional.
- Terhindar dari risiko perilaku negatif seperti bullying atau kenakalan remaja.
- Memiliki hubungan yang sehat dengan orang lain di masa depan.
Menjadi support system anak adalah salah satu peran terpenting orangtua. Dukungan yang konsisten—baik secara emosional, sosial, maupun praktis—akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, resilien, dan bahagia. Tidak perlu selalu dengan cara besar, tetapi melalui hal-hal sederhana: mendengarkan, menghargai, dan hadir.
Ingat, anak mungkin hanya menghabiskan sebagian kecil hidupnya bersama orangtua di rumah. Namun, fondasi yang ditanamkan selama masa kecil akan menjadi bekal mereka untuk menghadapi dunia. Jadi, mari hadir dan jadi support system terbaik untuk anak-anak kita.
Hilman/Freepik.com
Referensi
- American Psychological Association. (2020). Resilience in Children.
- Harvard Health Publishing. (2021). How parental support shapes mental health in children.
- UNICEF. (2022). The importance of parental engagement in child development.

